DENDAM LUSIANA

DENDAM LUSIANA
Rencana Lusiana


__ADS_3

Kali ini, Lusiana tidak mengacaukan rencana orang lain, ia hanya mendukung dan membantu.


Dan Lusiana yang melihat adegan panas itu memilih untuk pergi, ia masih trauma dan karena itu, Lusiana kembali teringat dengan masa lalunya yang membuat amarahnya semakin memuncak.


Lusiana yang dengan amarah yang menyala-nyala itu pergi ke rumah sakit jiwa, ingin melihat wanita yang membuat hidupnya hancur.


Sayangnya, Lusiana tak menemukan dan ia harus pergi ke rumah tantenya, di sana, Lusiana melihat kamar yang terkunci dari luar dan Lusiana pun masuk ke kamar itu, Lusiana melihat Adele yang dikerangkeng.


Lusiana menatapnya lama dan Adele dapat merasakan kehadirannya.


Adele pun berteriak memanggil nama putrinya.


"Lusiana!"


Teriakan itu membuat adiknya merasakan jengkel dan mengetuk pintu kamar Adele.


"Kakak, Lusiana sudah tidak ada, relakan kepergiannya supaya kamu juga bisa tenang!"


"Tidak, Lusiana ada di sini, dia ada di sini," kata Adele seraya menangis meraung.


Adik Adele hanya bisa menarik nafas dan menggeleng.


Setelah lelah menangis dan berteriak Adele pun tertidur.


Dan Lusiana ingin menjerat lehernya supaya Adele bisa ikut pergi bersamanya, tetapi, lagi-lagi Lusiana tidak dapat melakukan itu.


Baru saja Lusiana melilitkan rambut panjang Adele yang mengembang itu di lehernya, Lusiana sudah melepaskannya lagi.


Bayangan dulu sewaktu Lusiana menyisir rambutnya penuh dengan kasih dan sayang itu muncul membuat Lusiana tidak akan tega membuat Adele kesakitan.


Lalu, Lusiana yang berkata merah itu pergi meninggalkan rumah tantenya.


Lusiana kembali ke rumah Dion dan di sana, Lusiana melihat teman wanita Dion menyuruh bibi untuk berbelanja banyak barang.


Lusiana mencurigai sesuatu dan yang dipikirkannya adalah supaya semakin bebas berbuat mesum dengan Dion.


Lalu, Lusiana berjalan ke arah kamar Dion, di sana Lusiana melihat Raya sudah tergeletak, tak bernyawa dan itu membuat Lusiana murka.


Lusiana terluka karena Raya sudah menjadi korban nyawa Dion dan teman wanitanya.


Lalu, teman wanita Dion yang bernama Kenzi itu mengatur nafas setelah berpura-pura tak terjadi apapun di rumah itu.


Dan apa yang terjadi dengan Raya sebenarnya?

__ADS_1


Melihat itu, Lusiana tak membuang waktu, ia masuk ke raga Raya yang tak bernyawa dan saat Dion juga teman wanitanya itu sibuk dengan ponsel Raya, diam-diam Raya yang berjiwa Lusiana itu keluar dari keluar.


Lalu, Dion yang sudah menghapus barang bukti itu menyeringai dan melempar ponsel itu ke lantai di mana tadinya Raya tergeletak.


Melihat jazad Raya yang menghilang, Dion dan teman wanitanya itu terkejut.


"Aaa!" teriak Kenzi dan Kenzi menatap Dion yang juga sedang menatapnya.


"Apa kamu yakin dia sudah tewas?" tanya Kenzi pada Dion.


"Aku yakin, dia tidak bernafas," ucap Dion seraya menatap Kenzi.


"Kalau dia macam-macam bagaimana?" tanya Kenzi dan Dion meminta padanya untuk tenang.


Lalu, Dion memeriksa CCTV dan dari kamera itu terlihat kalau Raya keluar dari rumahnya.


Dion dan Kenzi tak percaya dengan apa yang dilihat, lalu, Dion menghubungi Bara dan Bara mengatakan kalau dirinya tidak ada urusan lagi dengan Raya.


"Dengar Bara, aku tidak ada lagi urusan dengannya, kamu tau, setelah Ibunya melaporkan kita ke polisi, Ibuku marah besar dan aku tidak mau mencoreng nama baik sekolah kakekku!" kesal Bara pada Dion.


Dion dan Kenzi saling menatap, keduanya sepakat untuk bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun.


****


"Bu, Raya baik-baik saja," kata Raya seraya tersenyum dan Ibunya merasa lega dan juga merasa aneh melihat anaknya sudah dapat tersenyum.


Setelah itu, Raya yang berjiwa Lusiana masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk, lalu, Raya pergi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Ibunya itu yang berdiri di pintu dapur memperhatikan Raya.


"Seperti ada yang salah, atau dia hanya pura-pura kuat supaya aku tidak khawatir?" tanyanya pada diri sendiri.


"Kalau dia berusaha kuat, maka aku juga harus kuat!" kata Ibu Raya dengan bersemangat.


Setelah mandi dan keramas, Raya duduk di kursi meja belajarnya, ia menatap cermin kecil yang ada di sana dan mulai menyisir rambutnya dan setelah malam sudah larut, Raya diam-diam pergi.


Ia pergi ke rumah Dion dan Dion yang sudah terlelap itu melihat bayangan yang berdiri di balkon kamarnya.


Dion segera merubah posisinya menjadi duduk, ia mengucek matanya seolah salah lihat dan setelah itu bayangan tersebut sudah tidak ada lagi.


Dion menarik selimut sampai batas leher dan kemudian menutupi seluruh tubuhnya.


****

__ADS_1


Di rumah Kenzi, gadis itu tidak dapat tidur, ia masih ingat kejadian tadi siang yang begitu menyeramkan.


Dan wajah Raya masih menghantuinya, setiap Kenzi mencoba untuk tidur, bayangan wajah Raya lah yang ia lihat.


****


Keesokannya, di rumah Arion, Karin masih menunggu kabar dari Hendru, apakah dukun itu sudah membawa Arka kembali atau belum dan Hendru mengatakan belum.


Hendru yang ada di rumah Arion itu menyampaikan pesan dari dukun pada Karin dan Arion, "Kalian harus dapat memusnahkan Lusiana sebelum 40 hari, karena setelah 40 hari, jika Lusiana belum juga hilang, maka kunti itu tidak akan pernah mengembalikan Arka!"


Karin semakin bersedih dan Cila yang diam-diam menguping itu merasa menyesal, Cila juga menggenggam erat kalungnya.


Lalu, Arion bertanya-tanya apa yang Lusiana inginkan dari Ibunya sendiri sehingga dia tak pernah tenang, justru selalu membuat onar.


Karin menatap Arion, ia tak tau jawaban itu dan hilangnya Adele semakin membuat Arion pusing.


****


Di sekolah, Bara diseret oleh Dion, Dion membawanya ke belakang sekolah.


Di sana, sudah ada Kenzi yang menunggu.


"Ada apa?" tanya Bara seraya melepaskan tangan Dion dari lengannya.


"Raya meninggal, tapi dia bisa berjalan dan keluar dari rumah aku," bisik Dion pada Bara.


"Dengar, mana ada orang meninggal jalan kaki!" celetuk Bara.


Setelah itu, Bara meninggalkan dua temannya dan Bara yang sudah ada di lorong sekolah itu melihat Raya yang mengenakan seragam sekolah lagi.


Raya menatap Bara yang mematung.


"Ra-Raya," lirih Bara dan Raya berlalu, ia meninggalkan Bara karena yang incar adalah Dion dan Kenzi.


Raya sendiri tidak tau di mana kelasnya dan karena itu membuat Raya ditertawakan saat Raya salah masuk kelas.


Dion, Bara dan Kenzi berdiri di pintu kelas IPA yang Raya masuki.


"Apa dia jadi gila setelah kejadian kemarin?" tanya Dion pada Kenzi dan Kenzi menggeleng tak tau.


Raya yang sedang ditertawakan itu ikut tertawa sehingga semua murid menjadi bingung.


Apa yang Lusiana rencanakan?

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen, ya, all. Dukungan kalian adalah semangatku.


__ADS_2