
Di perjalanan, sesekali Arion menatap spion mobilnya, ia melihat Cila yang masih terdiam, Cila menyadari kesalahannya dan setelah tau cincin itu adalah jimat, Cila pun menjadi gelisah, berpikir kenapa dirinya harus memakai jimat.
Karin yang duduk di samping Arion tak berhenti menangis dan Karin yang sedang mengusap air matanya itu mendapatkan panggilan dari Hendru.
Hendru mengatakan kalau Arka baik-baik saja.
"Apakah mbah dukun sudah mendapatkan Arka?" tanya Karin.
"Belum, mbah dukun sudah bertemu dengan kunti itu dan dia mengatakan akan mengembalikan Arka setelah Lusiana musnah," kata Hendru dan Karin semakin menangis.
Lusiana yang ada di dalam mobil pun tertawa puas karena dirinya merasa tidak akan musnah, lalu, Karin tidak akan mendapatkan putranya lagi.
Lusiana yang ada di samping Cila itu mencoba mempengaruhinya, berbisik, menyuruhnya untuk melepaskan kalung itu.
Cila yang sedari tadi diam itu mulai menyentuh kalungnya dan hampir saja Cila melepaskan jika Arion tak melihatnya.
"Jangan dilepas!" kata Arion dan Cila segera menurunkan tangannya, ia menatap Arion dan tiba-tiba saja Cila merasa takut.
"Mi, Cila takut," kata Cila seraya menatap Karin.
"Kenapa harus takut, di sini ada Mami dan Dady," jawab Karin seraya menatap Cila.
"Kalau Cila sekolah bagaimana, Mi?" tanyanya.
"Sementara waktu, kamu sekolah di rumah saja dulu. Nanti Dady yang akan bicara dengan gurumu," timpal Arion.
"Baiklah," jawab Cila, sekarang, gadis kecil itu mencoba menurut pada Ibu dan Ayahnya.
"Membosankan," kata Lusiana yang sedari tadi hanya bisa melihat tanpa berbuat apapun.
Lalu, Lusiana keluar dari mobil Arion, ia mencoba untuk merasuki orang lain untuk membuat keluarga Arion mengalami kecelakaan.
Lusiana menoleh dan di belakang mobil Arion ada sebuah mini bus dan Lusiana pun ke mini bus tersebut.
Sopir mini bus yang seorang wanita itu menatap mobil depannya, lalu, segera menyeruduknya. Ya, Lusiana telah memasukinya.
Dan Arion menatap dari spion mobilnya, ia melihat sopir itu menyeringai dan Arion tau kalau sopir itu kerasukan Lusiana, membuat Arion teringat dengan kecelakaannya bersama Oki.
__ADS_1
Arion berusaha menghindari dan Arion menyuruh Cila juga Karin untuk berpegangan.
Arion yang fokus mengemudi itu tak menghiraukan tangis Cila dan Karin meminta pada Cila untuk tenang.
"Cila, jangan menangis, tapi berdoalah," kata Karin dan Cila mulai berdoa dengan bibir yang bergetar.
"Ya Tuhan, selamatkanlah kami," doa Cila dan doa itu belum terkabul karena Lusiana masih mengejar dan menyeruduk mobil Arion.
Arion terpaksa menerobos lampu merah dan karena sekarang adalah jam pulang kerja, Arion hampir tertabrak kendaraan lain.
Dan Lusiana yang ikut menerobos itu tak menghiraukan kendaraan lain, bahkan Lusiana tidak segan untuk menabrak yang ada di depannya dan Lusiana menabrak sebuah sedan yang melintas, sedan itu terseret dan karena itu, Arion dapat lepas dari kejaran Lusiana.
Lusiana yang masih ada di dalam raga wanita itu keluar dari mobil dan karena terluka, dahinya mengeluarkan darah.
Kemudian, Lusiana keluar dari raga wanita itu dan wanita yang berpakaian ala kantoran itu pun pingsan, tetapi, ia sempat mendengar orang-orang meneriakinya.
****
Lusiana kehilangan jejak Arion, tetapi, Lusiana tidak ambil pusing karena sudah mengetahui di mana Arion dan keluarganya tinggal.
"Arion, untuk sekarang ini, kamu bisa lepas, karena ada perisai yang menjaga kalian!" kata Lusiana yang berdiri di samping wanita yang tergeletak.
Dari cctv mobilnya, terlihat Arion menghindar dari kejaran wanita itu dan wanita itu belum dapat dimintai keterangan karena keadaannya yang ternyata sedang kritis di rumah sakit.
Arion sangat geram dengan Lusiana, ia sudah sangat meresahkan dan mulai menggunakan tubuh orang lain untuk mencelakainya.
****
Beberapa hari kemudian..
Keluarga Arion dapat bernafas lega karena Lusiana tidak dapat menyentuhnya dan Lusiana yang sekarang sedang bersama Raya itu membantu ibunya yang sedang berjualan di kantin sekolah menengah atas.
Dan di sana, Raya yang berhenti sekolah itu menjadi bahan ejekan karena dianggap telah memfitnah keluarga Dion dan Bara.
Dion dan Bara adalah pemuda yang telah melecehkan Raya.
Lalu, Raya yang tidak tahan dengan ejekan itu memilih untuk pergi dari sekolah dan ibunya yang berniat mengejar itu tertahan oleh kepala sekolah yang merupakan orang tua dari Bara.
__ADS_1
"Kamu lihat, seharusnya, sebelum membuat laporan, pastikan kalau bukan anakmu yang kegatelan dan meminta untuk ditiduri oleh putraku, apakah aku harus membuat laporan perbuatan tidak menyenangkan?" tanyanya seraya menatap Ibu Raya yang tak berdaya.
"Mulai besok, kamu tidak perlu lagi berjualan di sini, karena besok akan ada yang mengisi kantin menggantikanmu, mengerti!"
Ibu Raya yang terdiam itu mulai mengemasi dagangannya dan merasa bodoh karena telah pergi ke sekolah itu lagi untuk mencari nafkah.
Setelah beberes, Ibu Raya langsung pulang dan dia tidak mendapati putrinya.
"Kemana Raya?" tanyanya pada diri sendiri.
Wanita itu mulai khawatir, apalagi ia sempat melihat Raya hampir mengakhiri hidupnya sendiri.
Lalu, Wanita itu menghubungi Raya dan Raya yang sedang berdiri di jembatan layang itu menerima panggilan ibunya.
"Bu, tidak usah khawatir, Raya baik," kata Raya yang kemudian menutup teleponnya.
Raya kembali menyimpan ponsel itu di saku celananya. Ia menatap ke bawah jembatan dan Lusiana yang selalu mengikutinya mendorong Raya supaya termakan hasutannya untuk melompat.
"Tidak! Kalau aku mati dengan cara seperti ini, mereka akan senang," kata Raya dalam hati. Lalu, Raya mulai pergi meninggalkan jembatan itu.
Raya yang sedang berjalan kaki itu masih teringat dengan mimpi yang Lusiana berikan dan Raya berpikir untuk melakukan hal yang sama yaitu membalas dendam.
****
Raya berjalan kaki menuju ke rumah Dion yang adalah tetangga dan sohib dari Bara.
Dion memiliki orang tua yang sangat sibuk sehingga Dion kekurangan kasih sayang, Dion tumbuh menjadi pria muda yang tanpa aturan.
Lalu, Raya melihat kesempatan karena satpam rumah itu sedang membeli es cendol yang tidak jauh dari rumah Dion.
Diam-diam Raya masuk dan demi melancarkan aksi Raya, Lusiana membantunya dengan membuat suara berisik di dapur, Lusiana menjatuhkan piring untuk mengalihkan perhatian bibi yang sedang bekerja dan Raya segera masuk ke kamar Dion yang ada di lantai atas.
Raya bersembunyi dengan masuk ke lemari besar, Raya duduk dengan memainkan ponselnya.
Tidak lama kemudian, Raya mendengar suara Dion yang mulai mendekat, Dion tidak sendiri, melainkan membawa teman wanitanya dan karena rumah yang sepi, Dion dan teman wanitanya itu bebas melakukan apapun.
Raya merekam apa yang mereka lakukan dan rencana Raya adalah menyebar rekaman tersebut.
__ADS_1
Berhasilkah Raya?
Like dan komen, ya, all.