DENDAM LUSIANA

DENDAM LUSIANA
Hari Kebebasan Lusiana


__ADS_3

Arion membongkar beberapa keramik di rumahnya, tepatnya di ruangan kerjanya dan setelah menggali cukup dalam, Arion meletakkan kotak itu ke dalam lubang tersebut.


Lalu, Arion yang sudah menguburnya itu harus merapikan kembali keramik yang ia bongkar dan karena tidak ada keramik juga semen di rumahnya, Arion harus keluar untuk membelinya.


****


Di tempat lain, dukun yang mengurung Lusiana itu memiliki firasat dan firasatnya tidak salah tentang Lusiana.


"Itu akan sangat berbahaya," kata dukun yang segera mengambil ponsel untuk menghubungi Hendru dan Hendru yang sedang berjaga toko itu menerimanya.


Hendru menanyakan tujuan dukun tersebut dan dukun meminta pada Hendru untuk segera datang.


Hendru pun menutup tokonya segera dan meminta pada yang sedang berbelanja itu untuk membawanya tanpa membayar.


Setelah itu, Hendru segera mengendarai motornya menuju rumah dukun tersebut dan di sana, Hendru mendapatkan cincin perak dari dukun untuk semua anggota keluarganya.


"Aku merasa kalau Lusiana akan segera bebas," kata dukun itu dan membuat Hendru merasa heran.


"Kenapa seperti itu, Mbah? Apakah segel itu kurang kuat?" tanya Hendru.


"Ada yang mencurinya dari tangan anakmu," kata dukun.


"Berilah ini masing-masing satu, ini bisa sedikit melindungi keluargamu," lanjut dukun seraya memberikan cincin perak tersebut.


Setelah itu, Hendru memberikan uang untuk dukun tersebut dan dukun mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama, Mbah. Saya juga terima kasih," jawab Hendru yang kemudian segera keluar dari rumah dukun.


Hendru yang sudah duduk di atas motornya itu menghubungi Karin.


"Iya, ada apa, Pa?" tanya Karin yang sedang bersama Arion di toko bangunan.


"Kamu di mana?" tanya Hendru.


"Di luar, Pa. Ada apa?"


"Penting, Karin. Kita harus bertemu segera, Papa ke rumah kamu!" kata Hendru dan Karin meminta pada Arion untuk cepat dan setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Arion, Karin dan Arka pun pulang.


Sesampainya di rumah, ternyata Hendru sudah menunggu dan Hendru menanyakan kotak berisi setan itu dan Arion menjawab kalau kotak itu ada di ruang kerjanya.


"Kami membeli ini untuk menguburnya," kata Arion pada Hendru dan setelah itu, Arion melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Arion dan Karin terkejut saat pintu ruangan itu sudah dibobol orang.


Karin dan Arion segera masuk dan mendapati kuburan Lusiana telah terbuka dan kotak itu hilang.

__ADS_1


Arion segera mengecek cctv dan terlihat kalau suami bibi yang mencuri kotak itu.


Arion keluar dari ruangan itu, memanggil bibi dan memintanya untuk menghubungi suaminya.


"Katakan pada suamimu, aku akan memberikan banyak uang asal dia mengembalikan kotak yang ia curi!"


"Kotak, kotak apa, Tuan?" tanya bibi yang memang tidak mengetahui.


"Lakukan saja apa yang ku suruh!" geram Arion dan saat bibi menghubungi suaminya, ternyata sudah terlambat.


Suaminya itu tewas setelah membuka kotak yang bersisi cermin.


Ya, karena kotak itu hanya berisi cermin, lelaki tidak tau diuntung itu membuang kotak tersebut dan membuat kaca menjadi pecah.


Lusiana yang bebas itu menikam menggunakan serpihan kaca yang pecah.


"Tidak menjawab, Tuan." Bibi menatap Arion yang berwajah datar.


Lalu, Hendru segera memberikan cincin yang dukun itu berikan.


"Ini sebagai penangkal, supaya roh jahat itu tidak dapat menyentuh kalian," kata Hendru seraya memberikan satu persatu cincin itu.


Dan cincin itu lebih satu karena cincin itu diperuntukkan untuk Cila.


Sesampainya di sekolah, Arion tak meminta ijin lagi pada guru yang sedang mengajar, Arion langsung menarik lengan Cila membawanya keluar dari kelas.


"Cila, Dady mohon sama kamu, apapun yang terjadi dan apapun yang sedang kamu lakukan, jangan pernah melepaskan cincin ini," kata Arion seraya memakaikan cincin yang ukurannya masih terlalu besar di jadi Cila.


Lalu, Arion melihat kalung Cila dan Arion melepaskan kalung itu, Arion menyimpan cincin itu di sana dan setelah itu, Arion kembali memakaikan kalung tersebut.


"Ada apa, Dad?" tanya Cila dan Arion tak menjawab, justru ia memeluk Cila.


Arion sangat khawatir dan berdoa untuk keselamatan keluarganya.


Dan Lusiana yang sedang berkeliaran itu mencari-cari keberadaan Arion dan Karin.


Lusiana mencari ke rumah Hendru dan Karin tidak ada di sana.


"Kemana dia dan sudah berapa lama aku terkurung?" tanya Lusiana pada dirinya sendiri.


****


Arion yang kembali ke rumah itu melihat Karin sedang menunggu di depan pintu dan Arion bertanya pada istrinya yang terlihat cemas.


"Ada apa?" tanya Arion seraya mengambil Arka dari gendongan ibunya.

__ADS_1


"Suami bibi, ditemukan meninggal dengan luka sayatan di lehernya," jawab Karin Arka yang mendengar kata meninggal itu bertanya, "Mi, meninggal itu apa?"


"Meninggal itu tidur yang tidak dapat bangun lagi," jawab Arion dan Arka tidak mau jawaban dari Arion.


Arka mau hanya Karin yang menjawab dan Arka kembali mengulangi pertanyaannya pada Karin dan Karin menjawab yang sama dengan Arion.


****


Di sekolah, Cila menatap kalungnya yang sekarang memiliki cincin dan karena itu pemberian Arion, Cila tersenyum dan merasa senang.


Cila berjanji kalau tidak akan melepaskan kalung dan cincin itu, bahkan Cila akan memakainya jika sudah bisa melingkar di jarinya.


Beberapa hari kemudian, keluarga Arion masih aman dan Lusiana belum menemukan keberadaan mereka.


Seraya mencari keluarga Arion, Lusiana juga mencari raga baru untuknya.


Lusiana mencari raga yang berjiwa lemah.


Dan Lusiana yang sudah lama tidak berkeliaran itu melihat seorang ibu yang sedang menangis di tepi jalan.


"Apakah aku harus menggunakannya?" tanya Lusiana seraya menatap ibu tersebut.


Lusiana mengikuti wanita yang berbadan sedikit gempal itu sampai ke rumahnya dan wanita itu memeluk putrinya yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan.


"Nak, keluarga kita keluarga miskin, sedangkan keluarga mereka banyak uang, mereka bisa membeli hukum semau mereka, maafkan Ibu tidak dapat membuatnya mendapatkan hukuman."


Dan si anak yang terdiam itu hanya bisa menangis.


Lalu, si Ibu melepaskan pelukannya, ia melihat makanan putrinya masih utuh dan si ibu mengambil piring itu untuk menyuapi putrinya.


Tetapi, putrinya itu menolak dan bergumam, "Raya tidak ingin hidup lagi, Bu."


Si Ibu yang terkejut menjatuhkan piring yang ia pegang dan piring yang jatuh ke lantai itu menjadi pecah.


"Tidak, kamu tidak boleh berpikir seperti itu, ada Ibu di sini, kita lewati hari bersama, kalau kita tidak dapat menghukum mereka, biarkan Tuhan yang menghukum," ucapnya seraya merangkum wajah putrinya.


Ucapannya itu membuat Lusiana kembali mengalami flashback di mana ia selalu berdoa pada Tuhan, meminta untuk memberi hukuman pada keluarga si gendut, tetapi, si gendut itu belum juga mendapatkan hukuman dan Lusiana sendiri yang memberikannya hukuman.


Lusiana yang melihat itu pun mengatakan kalau dirinya yang akan menghukum.


Bersambung.


Like dan komen, ya, all.


Jangan lupa untuk vote/giftnya juga. terima kasih bagi yang sudah setia mendukung.

__ADS_1


__ADS_2