DENDAM LUSIANA

DENDAM LUSIANA
Gangguan Lusiana 2


__ADS_3

Di rumah Ibunya, Rima mendapatkan telepon dari Mbah urut, wanita tua itu menanyakan keadaan bayi yang ia khawatirkan.


"Saya ada di rumah Ibu, Mbah. Karena Syahnaz rewel, dia nangis terus, tapi di rumah Ibu dia anteng, Mbah," ujar Rima dan Mbah urut pun menjelaskan kalau ada sesuatu di rumahnya.


"Sesuatu apa, Mbah?" tanya Rima.


"Sebelumnya, tidak pernah, kan, Syahnaz serewel ini?" tanya si Mbah.


"Iya, Mbah. Syahnaz rewel beberapa hari ini."


"Mungkin kamu pernah membawa benda ke rumah, entah itu benda apapun, coba diingat-ingat lagi," kata Mbah.


Dan sebenarnya, Mbah ingin menanyakan boneka yang ada di kamar Rima.


"Apa, ya, Mbah." Rima mencoba untuk mengingat dan Rima ingat dengan boneka yang tiba-tiba ada di depan pintu belakang.


"Oia, Mbah. Beberapa hari lalu, Rima nemu boneka di pintu rumah belakang, Rima ambil dia terus Rima cuci," kata Rima, ia mengusap lehernya karena bulu-bulu halusnya itu mulai berdiri.


"Boneka yang ada di rak buku?"


"Iya, Mbah. Mbah tau?" tanya Rima.


"Semalam, Mbah lihat boneka itu dan perasaan Mbah tidak enak," kata Mbah, kemudian, si Mbah meminta pada Rima untuk segera menyingkirkan boneka itu dan Rima mengiyakan.


"Bu, Rima harus pulang, ada sesuatu yang harus Rima kerjakan," kata Rima yang pamit pada Ibunya.


"Nanti saja, Ibu tidak tenang, lebih baik kamu di sini saja," kata Ibunya dan Rima yang mengerti kekhawatiran itu pun menurut.


Lalu, Rima menghubungi suaminya dan meminta pada suaminya untuk membuang boneka yang ada di rak buku.


"Boneka?" tanyanya.


"Iya, dia ada di rak buku, aku letakkan di sana, aku menemukan boneka itu di luar dan Mbah menyarankan untuk membuangnya," jelas Rima.


"Sayang, lain kali, kalau bukan milik sendiri jangan kamu ambil, aku kira itu bonekamu." Oki sedikit memberikan nasihat, tetapi, semua sudah terlambat.


Sekarang, boneka itu sudah berada di mobil Oki.


Selesai dengan jam kerja, Oki mengantarkan pacarnya yang memang satu kantor itu pulang, di perjalanan, pacar Oki mengatakan kalau dirinya terlambat datang bulan.

__ADS_1


Oki mengusap wajahnya, ia melupakan memakai pengaman saat bersama pacarnya dan sekarang, benih itu sudah mulai tumbuh di rahim pacarnya.


"Aku akan bertanggung jawab, tetapi, kamu harus selalu ingat posisimu yang sebagai simpanan," kata Oki, setelah itu, Oki memilih untuk diam.


Lalu, pacarnya itu bertanya, "Kapan kamu akan nikahi aku?"


"Setelah urusan pengganggu itu selesai," jawab Oki dan sekarang, Oki sudah sampai di halaman rumah pacarnya.


Oki membuka kunci mobil dan mempersilahkannya untuk keluar.


"Kamu hati-hati, aku berharap semua segera selesai supaya kamu segera tanggung jawab," kata pacar Oki yang kemudian keluar dari mobil.


Lalu, Oki yang melihat ada lipstik di bangku depan itu segera mengambilnya dan Oki menyusul pacarnya untuk mengembalikan lipstik tersebut.


"Terima kasih," ucap pacar Oki dan karena dirinya belum mau berpisah, gadis itu pun mencari cara untuk menahan Oki supaya tetap berada di rumahnya.


"Oia, Mas. Gas di rumah habis, aku tidak bisa memasangnya," katanya seraya menahan lengan Oki.


Oki pun menggeleng, "Kamu bisa minta tolong sama penjual gasnya, seharusnya seperti itu."


"Iya, lain kali akan seperti itu, sekarang, aku mau kamu yang pasangkan dulu, kan ada kamu di sini," kata pacar Oki dengan suara yang dibuat seimut mungkin.


"Merepotkan," kata Oki dalam hati.


"Aku bukan dia dan dia bukan aku!" kata pacar Oki dan Oki yang segera menyelesaikan itu tak ingin berdebat dengan pacarnya.


Lalu, Oki dan pacarnya itu melihat ke belakang saat pintu rumah yang tiba-tiba tertutup.


"Angin kali, Mas," kata pacar Oki dan Oki merasa kalau itu bukan angin.


Oki pun kembali ke ruang depan dan Oki merasa ada yang aneh.


"Kalau angin tidak akan sekuat itu menutup pintu," batin Oki.


Setelah itu, Oki kembali ke belakang untuk memasang gas dan pacar Oki mulai ketakutan setelah melihat wajah dingin Oki.


"Mas, kenapa aku jadi takut, bisakah kamu tetap di sini?" tanyanya seraya melingkarkan tangannya di lengan Oki.


"Tidak bisa, Rima sedang membutuhkanku," kata Oki seraya melepaskan tangan pacarnya.

__ADS_1


"Mas, aku juga bagian dari hidup kamu, kan. Seperti apa yang pernah kamu katakan?" tanya pacar Oki yang mulai tidak menyukai sikap Oki yang lebih berat ke istri sahnya.


"Nisa, untuk saat ini, Rima lebih membutuhkanku, ada bayi di rumah dan gangguan itu harus segera terselesaikan, kamu ngerti, kalau itu sudah selesai, kita juga akan segera menikah, apa kamu tidak mau kita menikah?" tanya Oki dan pacarnya yang bernama Nisa itu akhirnya harus merelakan Oki pulang.


Setelah Oki pergi, Nisa merasa kalau dirinya tidak sendiri, terbukti dari Lusiana yang sengaja menakut-nakutinya dengan berjalan di belakangnya dan saat berbalik badan, Nisa tidak melihat apapun.


Lalu, Nisa masuk ke kamarnya mengunci pintu kamar. Nisa yang sudah ingin beristirahat itu mematikan lampu kamar dan segera berbaring di ranjang.


Lalu, Nisa mendengar suara berisik dari luar, seperti anak-anak yang sedang berlari.


Nisa merubah posisinya menjadi duduk, ia menatap pintu, Nisa yang ketakutan itu ingin keluar untuk memeriksa, tetapi, perasaan takutnya itu menahannya.


Nisa pun menarik selimutnya sampai ke dada dan menggenggam erat.


Nisa mengambil ponsel yang tergeletak di meja nakas, lalu, Nisa mencoba menghubungi Oki.


Walau ragu, Nisa tetap mencoba dan Nisa merasa beruntung karena Oki menerima panggilannya.


"Mas, aku takut, tiba-tiba saja di rumah seperti ada yang lain selain aku, kamu bisa datang?" pinta Nisa dan kemudian Nisa mendengar suara gelas yang pecah.


Oki mendengarnya dan mengira kalau ada maling yang masuk ke rumah pacarnya.


"Kamu lupa ngunci pintu, mungkin!"


"Tidak, semua sudah ku kunci," jawab Nisa yang kemudian ponselnya mati karena kehabisan daya.


Dan karena chargernya masih di tas, Nisa pun dengan terpaksa keluar dari kamar dan baru saja Nisa membuka pintu, Nisa sudah di kejutkan dengan sesuatu yang terbang ke arah wajahnya.


"Aaaaaa!" teriak Nisa yang jatuh terjengkang.


****


Di rumah Oki, pria itu yang sedang berbaring di sofa pun bangun. Ia sudah berkali-kali menghubungi Nisa, tetapi, Nisa tidak menjawab.


Oki menjadi khawatir dan segera keluar dari rumah, sesampainya di sana, Oki melihat Nisa yang tengah berbaring di pintu kamarnya dengan darah yang mengalir di sekitar pahanya.


Oki meletakkan telunjuknya di hidung dan Oki bersyukur karena Nisa masih bernafas.


Oki segera membawanya ke rumah dan Nisa harus kehilangan bayinya.

__ADS_1


Setelah kehilangan bayi itu, apakah keduanya akan mengakhiri hubungan terlarangnya?


Jangan lupa like dan komen, ya, all. Terima kasih.


__ADS_2