
Melihat temannya diperlakukan seperti itu, Alea segera mengambil pisau di dapur, Alea menatap pisau itu. "Apakah aku menjadi pembunuh?" tanyanya pada diri sendiri.
Tersadar dengan apa yang Alea pegang, Alea segera menjatuhkan benda itu dan Alea yang menutup mulutnya membayangkan, betapa menyeramkannya dirinya, seperti sama dengan Lusiana.
Lalu, Alea melihat ada tongkat baseball di guci besar yang terletak tidak jauh dari tangga, Alea segera berlari dan mengambilnya, tidak menunggu lama Alea segera memukul punggung Karin dan Karin harus terjatuh.
Setelah itu, Alea menjatuhkan tongkat tersebut dan Alea segera mengambil Lusiana, tetapi, tak semudah itu karena Ibran menahan Lusiana.
"Kalian telah menghabisi nyawa temanku dan kalian tidak akan lepas begitu saja!" bentak Ibran seraya menarik tangan Lusiana membuat Alea ikut tertarik, lalu jatuh di atasnya.
Alea segera bangun dan menginjak perut Ibran.
"Bajingan, kalau kalian tidak merusak masa depanku, aku tidak akan seperti ini!" teriak Alea seraya terus menginjak-injak Ibran dan Lusiana yang masih ada di tangan Alea itu menertawakan Ibran.
"Terus Alea, beri dia pelajaran, dia pantas mendapatkan, kita tidak boleh menjadi lemah!" kata Lusiana yang sedang memberikan semangatnya.
Lalu, Ibran menahan kaki Alea, segera Ibran mendorong kaki itu sehingga Alea jatuh dan kepalanya membentur meja sofa ruang tengah.
Entah, Alea pingsan atau meninggal, tetapi, Alea yang diam saja itu membuat Lusiana semakin marah.
Lusiana bangun dari berbaringnya, boneka kecil itu terus menepuk pipi Alea.
"Alea, bangun Alea!" seru Lusiana yang kemudian menatap Ibran.
Lusiana terbang menempel di wajah Ibran. Lalu, Ibran yang panik itu berusaha menarik Lusiana dari wajahnya dan Ibran yang berusaha itu mundur.. mundur dan mengenai Karin, karena hilang keseimbangan, Ibran terjengkang dan Lusiana membenturkan kepala Ibran ke lantai sampai berdarah-darah.
Sementara itu, di depan rumah Nenek Ibran ada Arion yang menerima Sharelok dari Karin.
"Benar ini rumahnya, tetapi, terlihat sangat sepi," kata Arion yang kemudian menghubungi Karin.
Arion sedikit mendengar nada ponsel Karin dan Arion dengan terpaksa memanjat pagar rumah Nenek Ibran.
Arion tidak dapat masuk karena pintu yang terkunci dan Arion mendengar suara mengerang kesakitan dari dalam, suara itu adalah dari Ibran yang masih belum bisa melepaskan Lusiana dari kepalanya.
Arion segera memecahkan kaca rumah dan Lusiana melihat ke arahnya. "Arion," kata Lusiana yang kemudian memilih untuk lari.
Apakah Lusiana takut dengan Arion?
"Alea, maafkan aku, aku harus pergi meninggalkanmu!" teriak Lusiana yang sedang berlari dan seketika Lusiana tersungkur karena punggungnya terkena tembak Arion.
Tembakan itu sepertinya tidak melukai Lusiana, buktinya, Lusiana kembali bangun dan berlari melalui pintu belakang.
__ADS_1
Arion mengejar Lusiana, tetapi, Lusiana yang memang notabenenya adalah setan, ia berlari dengan memanjat dinding rumah tetangga Nenek Arion dan terus berlari lewat atap rumah.
Arion tak dapat mengejarnya dan Arion segera kembali ke dalam, Arion meletakkan telunjuknya di depan hidung Karin dan Arion merasa lega karena Karin masih bernafas.
Lalu, Arion melihat Alea dan Alea yang sepertinya sedang meregang nyawa itu mendapatkan pertanyaan dari Arion, "Dari mana kamu mendapatkan boneka itu? Apakah kamu mengenalnya dan dari mana dia berasal?"
Alea tak mampu menjawab dan karena semua orang kritis, Arion menghubungi ambulan.
Dan Alea yang sudah sesak nafas itu mencoba memberitahu sesuatu, "A-adele!"
"Apa? Siapa Adele?" tanya Arion seraya mengangkat kepala Alea, membawa Alea kepangkuannya.
"Lu-lusi," jawab Alea terbata, Alea ingin memberitahu kalau Lusiana menyimpan dendam pada Adele, tetapi, Lusiana tidak sanggup merenggut nyawanya.
Belum sempat memberitahu, ajal Alea sudah datang. Arion menutup mata Alea yang tewas dengan cara menyedihkan.
Setelah itu, Arion meletakkan kembali Alea dan berpindah pada Ibran.
Ibran yang terluka parah dapat diselamatkan.
Lalu, Ibran menjadi tahanan setelah mengakui kejahatannya pada Alea.
Dan Karin yang sekarang dalam perjalanan pulang itu terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Setelahku pikir-pikir, sepertinya, Lusiana mengejar orang-orang yang dianggapnya tidak pantas hidup," jawab Karin seraya menatap Arion.
Dan Arion yang sedang fokus mengemudi itu hanya diam.
Sebenarnya, Arion sedang memikirkan kalimat terakhir dari Alea.
"Adele, siapa Adele?" tanya Arion seraya tangan yang mengusap dagunya.
"Apa nama setan Adele?" tanya Arion dan Karin menjawab kalau namanya adalah Lusiana.
"Lusiana dan Adele, apa mereka memiliki hubungan?" tanya Karin seraya menatap Arion.
"Nanti akan ku cari tahu, sekarang, kamu harus pulang dan istirahat," kata Arion.
****
Di sebuah genteng rumah, Lusiana masih bersembunyi di sana, ia merasa kalau keberadaannya kini tidak aman.
__ADS_1
Sudah banyak yang mengetahui tentangnya dan benar saja, setelah melihat rekaman cctv dari rumah Nenek Ibran itu, polisi mengerahkan semua anggotanya untuk mencari semua boneka yang mirip dengannya, lalu, membakar semua boneka itu.
Dan polisi membuat konferensi pers, mengatakan kalau pihaknya sudah memusnahkan boneka setan itu, tetapi, apa yang polisi itu katakan hanyalah untuk meredam kekhawatiran masyarakat.
Arion dan Karin yang melihat berita itu hanya bisa terdiam. Lalu, Karin membuka suaranya, "Boneka itu hanya ada satu dan aku rasa apa yang ada di dalam boneka itu tidak berpindah-pindah."
"Dari mana kamu tau?" tanya Arion.
Keduanya sedang berada di taman bermain, memperhatikan Cila dari tempat duduknya.
"Kamu pernah membaca komik?" tanya Karin yang pandangannya tetap lurus ke depan, memperhatikan Cila.
"Tidak, aku tidak hobi membaca," jawab Arion yang kemudian meminum kopi instan dalam kemasan botol.
"Aku berpikir, kalau Lusiana terjebak di dalam boneka itu, seperti cerita dalam komik yang ku baca, ketika seseorang mati, lalu membuka mata dan dirinya mendapati sudah berada di tubuh lain, seperti itu," kata Karin yang mencoba menjelaskan.
"Masuk akal, tidak?" tanya Karin seraya menatap Arion dan Arion pun menatap Karin..
"Tidak," jawab Arion dan keduanya yang saling menatap itu mulai mengagumi satu sama lain.
Karin yang mulai sedikit grogi dengan tatapan Arion itu tersenyum kaku.
Lalu, ada Cila yang datang, ia memeluk Arion. "Dady, Cila lelah," kata Cila dengan begitu imutnya.
Dan Karin yang melihat itu merasa penasaran dengan Ibu Cila.
"Di mana Ibunya?"
"Ada, dia ada, aku terlalu sibuk sampai melupakan mereka dan itu yang membuat Melodi pergi dari ku?" jawab Arion.
"Lalu, dengan kita duduk bersama seperti ini, apakah tidak ada yang akan cemburu?" tanya Karin dan Arion mengatakan kalau dirinya tidak terikat dengan hubungan apapun.
"Syukurlah," kata Karin dan Arion yang mendengar itu sedikit salah paham.
"Suka sekali, sepertinya." Arion melirik pada Karin yang membulatkan matanya.
"Bukan seperti itu, aku hanya khawatir akan ada yang marah padamu, itu saja," jawab Karin seraya mengangguk.
Dan Arion sedikit tersenyum.
Apakah akan tumbuh benih-benih cinta antara Karin dan Arion?
__ADS_1
Like dan komen setelah membaca, ya, all.
Dukungan kalian adalah semangatku, yuk divote/giftnya. Terima kasih. 💙