DENDAM LUSIANA

DENDAM LUSIANA
Berantakan


__ADS_3

Karin dan Lusiana saling menatap, Lusiana yang bertubuh kecil itu berjalan mondar-mandir di depan Karin membuat Karin sedikit pusing dan kesal.


Lalu, Karin yang masih dengan tongkatnya itu menunjuk Lusiana.


"Setan, apa yang membawamu menemuiku? Cari mati kamu?"


"Terbalik, kamu yang akan mati Karin, kamu selalu menghalangi jalan ku, padahal kita adalah sama-sama korban kerasnya hidup, tidak bisakah kita hidup bersama saling berdampingan?"


"Tidak, kamu sudah mengambil nyawa Ibuku dan sekarang kamu mengajakku bekerjasama? Setan tidak tau diri!" bentak Karin.


"Ibumu mati karena tertabrak mobil bukan karena aku, Karin!" jawab Lusiana dengan suara khasnya.


Lalu, Karin yang sudah tidak dapat bersabar lagi itu mengayunkan tongkatnya ke arah Lusiana.


Lusiana menghindar dan Lusiana berjalan di atas tongkat tersebut, Karin yang melihat Lusiana sedang berlari ke arahnya itu meninjunya dan Lusiana sedikit terpental.


"Kamu jahat, Karin!" kata Lusiana dan Karin merasa kalau setan yang sedang dihadapinya itu sangat pandai memutar balikkan fakta.


Lusiana yang terpental itu segera bangun dan matanya kini berubah menjadi merah. Lusiana terbang ke arah Karin dan Lusiana yang membawa pisau milik Rima itu mengayunkan pisau tersebut.


Walau berbadan kecil, kekuatan Lusiana tak dapat diremehkan, terbukti dari Karin yang sedang menahan pisau itu, pisau yang Lusiana ayunkan tepat di depan wajahnya.


Darah bercucuran dari tangan Karin yang menggenggam pisau dan Karin merasa kalau gangguan Lusiana kali ini bukanlah mimpi.


Dan Karin yang berdoa dalam hati itu berhasil memutar balikkan pisau tersebut ke arah Lusiana dan Karin yang meminta pada Tuhan untuk menyelamatkan nyawanya itu mulai mendapatkan sedikit kekuatan dan Karin dapat menggoreskan pisau itu di wajah imut Lusiana dan Lusiana semakin geram dengan Karin.


Dan karena mendengar suara ribut dari dalam kamar, Hendru pun mengetuk pintu. Karin dan Lusiana menatap pintu itu.


Lusiana melepaskan pisaunya dan membuat Karin sedikit terpental dan punggungnya mengenai lemari.


Lusiana berlari ke arah jendela dan sebelum pergi, Lusiana menatap Karin.


"Jaga kau, Karin!" ancam Lusiana.


Dan Karin yang kesakitan itu membuka pintu. Melihat darah di kamar Karin itu Hendru sedikit panik.


"Ada apa? Kenapa dengan tanganmu?" tanya Hendru seraya meraih tangan Karin.


Lalu, Hendru mengambil kotak obat.

__ADS_1


Karin mengambil sendri kapas dan alkoholnya.


"Pa, Karin tidak apa, tidak usah khawatir," kata Karin dan sekarang keduanya sedang duduk di ranjang.


Hendru melihat kaca jendela yang pecah dan itu membuatnya bertanya-tanya.


"Kalau Karin cerita, apa Papa akan percaya?" tanya Karin seraya menatap Hendru.


"Kamu mau bilang boneka itu lagi? Bukannya boneka itu sudah musnah?"


"Ck," decak Karin dalam hati.


****


Sementara itu, di rumah Rima, Oki sedang mengajak istrinya untuk duduk bersama di ruang tengah, Ada banyak hal yang ingin Oki sampaikan.


"Sebenarnya, kamu tau semua, bukan?" tanya Oki seraya menatap Rima yang ada di samping kanannya.


Rima yang sudah mengerti apa maksud dari Oki itu hanya diam.


"Kamu tau siapa Nisa dan apa hubungan kami."


"Rima, aku mencintaimu," kata Oki dan Rima menghapus air matanya.


"Cinta yang seperti apa, Mas?" tanya Rima seraya menatap Oki.


"Maafkan aku, aku tidak lulus ujian dalam awal pernikahan kita," kata Oki seraya meraih tangan Rima dan Rima yang begitu mencintai suaminya hanya bisa pasrah.


Dan Oki pun mulai cerita awal perselingkuhannya dengan Nisa dan Rima semakin sakit saat mengetahui kalau keduanya selingkuh sejak Rima hamil.


"Aku terlalu stress dengan pekerjaan dan di saat aku butuh kamu, kamu tidak ada di sisiku," kata Oki yang mencari pembenaran.


Dan Rima mulai melepaskan tangan Oki dari tangannya.


"Kamu tau apa yang terjadi padaku, aku mabuk karena hamil dan aku tidak bisa melayanimu, tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, ternyata di balik sikapmu yang seolah menerima justru kamu mengkhianatiku di masa sulitku, di mana hati kamu, Mas?"


"Rima, maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kata Oki seraya mengusap air mata Rima dan Rima semakin sakit saat tangan Oki menghapus air matanya.


"Rima, aku mau minta sesuatu sama kamu," kata Oki dan Rima menatapnya. Menunggu apa yang akan Oki katakan.

__ADS_1


"Berikan boneka itu padaku!"


Seketika, Rima terdiam, ia bangun dari duduk. "Kenapa? Apa kamu takut akan ketahuan jika berselingkuh lagi?" tanya Rima dan Oki yang semula duduk itu ikut berdiri.


"Bukan seperti itu, tidak seharusnya kamu menyimpan boneka setan, Rima. Memangnya kamu tidak khawatir, dia arwah penasaran Rima, bisa berbuat jahat kapanpun." Oki mencoba memberi pengertian dan Rima yang sudah menyayangi Lusiana itu tak setuju dengan apa yang Oki katakan, lalu, Lusiana yang sekarang terluka di bagian wajah itu tiba-tiba ikut bergabung.


Benda kecil itu berjalan dan berdiri di antara Oki dan Rima. "Kenapa kalian meributkanku?"


Oki terkejut melihat boneka yang dapat bicara dan Oki dengan tiba-tiba menendang Lusiana sehingga mengenai televisi.


"Mas, apa yang kamu lakukan," kata Rima dan Rima segera mengambil boneka setan tersebut.


Oki yang mengetahui Rima begitu menyayangi Lusiana itu menariknya dan menyeret boneka yang kecil tapi sangat berat untuk ditarik.


Lalu, Rima yang mencoba menghalangi itu menarik lengan Lusiana dan karena saling tarik menarik, salah satu lengan Lusiana menjadi putus.


Lusiana menangis karena sudah kehilangan satu tangannya dan Oki merinding saat mendengar dan melihat boneka yang seperti itu.


Dan Rima yang terjengkang itu harus merasa pusing saat kepalanya membentur dinding.


Sementara Rima kesakitan, Oki membawa Lusiana keluar, Oki mengeluarkan korek dari saku celananya.


Dan belum sempat membakar Lusiana, Lusiana sudah melawan, dengan mata yang merah menyala, Lusiana menyergap, lalu mendorong Oki dan Oki terjatuh di lantai teras, Lusiana yang memang tak menyukai Oki itu membenturkan kepalanya ke lantai berkali-kali, sampai mengalir darah dari bekas luka kecelakaan lalu.


Melihat Oki yang tak berdaya, Lusiana pun menginjak-injak wajahnya.


"Manusia serakah!" kata Lusiana dan Lusiana masuk ke rumah untuk melihat keadaan Rima dan Lusiana melihat Rima yang tak sadarkan diri, Lusiana mengira kalau Rima telah tewas. Lalu, Lusiana pergi ke kamar.


Rima yang bangun dari pingsannya itu mendengar suara tangis dari kamar dan Rima segera menyusul.


"Lusi," panggil Rima yang berdiri di pintu kamar dan Lusiana yang sedang menyeret Syahnaz itu menghentikannya, ia menatap Rima.


"Ibu, aku kira kamu mati, jadi aku akan membawa adik bersamaku."


"Apa? Membawa adik? Bagaimana cara kamu merawat dia, kamu hanya boneka, Lusi? Lalu, di mana suamiku?"


Lusiana terdiam dan dia sedikit kecewa mendengar Rima yang mengatainya hanya boneka.


Bersambung.

__ADS_1


Like dan komen, ya, all. Terima kasih sudah membaca.


__ADS_2