
Oki bangun dari tidurnya, ia menyalakan lampu kamar dan mencari sesuatu itu, tetapi, Oki tidak menemukannya.
Kemudian, Oki mematikan kembali lampunya dan Oki kembali ke ranjang. Oki menatap bantal Rima yang kosong.
Sementara itu, Rima sedang menggendong bayinya di kamar lain, bayi itu tidak berhenti menangis.
Rima yang mendapati putrinya tidak seperti biasanya menjadi bingung, padahal, Rima merasa kalau tidak ada yang salah dengannya.
"Sayang kenapa nangis terus?" tanya Rima seraya menatap putrinya yang sedih.
"Apa kamu sakit perut?" tanya Rima seraya menurunkan bayinya ke ranjang, setelah itu, Rima mengoleskan minyak telon ke perutnya.
Tetapi, itu tidak membuatnya tenang.
Rima kembali menggendong putrinya dengan posisi yang seharusnya selalu disukainya yaitu gendong M-Shape.
Putrinya itu masih menangis dan Rima yang kebingungan itu membangunkan Oki.
"Mas, Syahnaz terus menangis, aku takut dia kenapa-kenapa, apa perlu kita ke dokter?" Rima terus menggoyangkan lengan suaminya.
Dan Oki yang merasa kasihan dengan putrinya itu pun bangun, ia mengambil kunci mobil dan mengiyakan apa kata istrinya.
Dan ketika di perjalanan, Syahnaz diam, ia tidak rewel sama sekali bahkan Syahnaz yang lelah terus karena menangis itu tidur pulas.
"Kenapa di rumah nangis terus?" tanya Oki yang sedang mengemudi.
"Aku juga tidak tau, apa mungkin anak kita ingin jalan-jalan," jawab Rima yang sedang memperhatikan wajah cantik putrinya dengan kepala yang masih gundul.
"Sudah kamu susuin belum? Masa anak sekecil itu sudah tau minta jalan-jalan," jawab Oki.
"Sudah, kalau disusui terus juga kasihan nanti kembung, dia tidak nyaman juga, kan." Rima menjawab dengan raut wajah yang sedih. Ia terus memeluk putrinya.
Lalu, Oki bertanya, "Terus, sekarang kita jadi ke rumah sakit, tidak?"
"Jadi saja, Mas. Sudah tanggung di jalan," kata Rima seraya menatap Oki dan Oki melihat jam di layar ponselnya waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
Sesampainya di rumah sakit, Syahnaz yang baru saja di periksa itu hanya mendapatkan vitamin.
"Sudah tenang sekarang?" tanya Oki dan Rima mengangguk.
__ADS_1
Setelah itu, Oki kembali membawa anak dan istrinya pulang. Sesampainya di rumah, Syahnaz yang semula tidur itu kembali menangis, ia meronta seolah menolak diajak masuk.
"Gimana ini, Mas? Apa ada sesuatu di rumah kita?" tanya Rima yang masih berdiri di ruang tamu.
"Sepertinya memang ada sesuatu, aku pun merasakan gangguan itu," jawab Oki dan Rima segera menempel pada suaminya.
"Mas, jangan bikin aku semakin takut," kata Rima yang sekarang memeluk lengan Oki.
Setelah itu, demi kenyamanan putrinya, Oki membawa Rima ke rumah Ibunya lebih dulu.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu tinggal di rumah Ibu dulu, untuk sementara, bagaimana?" tanya Oki dan Rima mengangguk, lalu, Rima meminta pada Oki untuk menggendong Syahnaz.
Dengan cepat, Rima mengemasi semua barang keperluan Syahnaz.
Dan setelah itu, Oki segera mengembalikan Syahnaz pada Ibunya.
Sekarang, semua orang sudah ada di mobil. "Kamu mau ke rumah Ibu kamu apa Ibuku?" tanya Oki dan tentu saja, Rima menjawab kalau dirinya ingin ke rumah Ibunya sendiri.
"Baiklah," kata Oki yang kemudian mengemudikan mobilnya.
"Nanti siang, aku mau cari orang pintar, untuk lihat rumah kita," kata Oki dan Rima mengiyakan.
Sesekali, Oki menatap wajah putrinya dan Oki berdoa untuk keselamatannya.
Lalu, Oki teringat dengan teman mesranya. "Apa dia yang mengirim gangguan itu ke rumah."
Setelah 40 menit perjalanan, sekarang, Oki dan Rima sudah sampai di rumah Nenek Syahnaz dan Nenek Syahnaz menjadi bertanya-tanya apa yang membuat Oki dan Rima ke rumah sepagi ini.
Rima menjelaskan dan Ibunya itu meminta untuk mereka tinggal di rumah untuk sementara sampai Oki sudah membereskan gangguan itu.
Rima dan Oki saling menatap. Setelah itu, Nenek Syahnaz menyuruh Rima untuk ke kamar. "Sudah, sekarang kamu harus istirahat, kamu pasti sangat lelah, kasian cucu Ibu."
Rima bangun dari duduknya, membawa Syahnaz ke kamarnya dan Oki yang mengikuti di belakangnya itu meminta ijin pada Rima untuk pulang karena Oki merasa tidak tenang selama gangguan itu belum teratasi.
Rima mengiyakan dan Oki pun pamit pada mertuanya.
****
Oki yang mengira kalau gangguan itu kiriman dari teman mesranya pun menemuinya, setibanya di sana, Oki yang belum dipersilahkan masuk itu menerobos.
__ADS_1
"Mas, pagi-pagi sekali kamu datang, ada apa? Apa kamu bertengkar dengan Mbak Rima?" tanya Gadis berambut pendek yang masih mengenakan pakaian tidurnya.
"Jangan pura-pura tidak tau, kamu tau aku sangat mencintai Rima dan tidak akan meninggalkannya walau kamu sudah menggunakan cara kotor!" kata Oki seraya menatap kekasih gelapnya.
"Melakukan apa? Ada juga aku yang menangis semalaman karena kamu mengabaikanku!" timpalnya.
"Aku tidak mengabaikan kamu, tapi kamu harus tau tempat, di rumah, aku adalah milik istriku dan di luar aku milikmu, sekarang, aku minta sama kamu untuk mengambil kembali gangguan yang kamu kirim!" kata Oki seraya mencekal lengan gadis mungil yang ada di depannya.
"Aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan, walau aku ingin memilikimu seutuhnya, tapi, aku tidak akan memakai cara kotor seperti tuduhanmu!"
Oki melepaskan cekalan itu, dan Oki merasa kalau pacarnya itu tidak bohong.
"Kamu jujur padaku?" tanya Oki seraya menatapnya.
"Aku tidak suka berbohong, Mas," jawabnya dan karena menyesal telah menuduh, Oki pun memeluk pacarnya.
"Maafkan aku," kata Oki seraya mengusap punggung tipis pacarnya. Setelah itu, Oki membawanya untuk duduk dan Oki mulai menceritakan apa yang sudah dialaminya.
Pacarnya itu mengangguk dan menyarankan Oki untuk menemui orang pintar.
"Iya, aku harus mencari orang pintar, sekarang, aku harus kembali, kita harus bekerja dan ingat, jaga sikapmu di kantor, jangan sampai orang-orang curiga pada kita." kata Oki seraya mengusap rambut lurus hitam kekasihnya.
Setelah itu, Oki kembali ke rumah dan Oki yang merasa sedang di awasi hanya mengambil pakaiannya dan berniat untuk mandi di kantor.
Oki yang sedang mengambil sepatu di rak itu merasa kalau ada sesuatu di belakangnya dan pria tampan berbadan tinggi itu menoleh.
Tidak ada apapun di belakangnya. Padahal, itu adalah Lusiana yang berlari ke sana ke mari.
Setelah mendapatkan semua keperluannya, Oki pun keluar dari rumah, tidak lupa mengunci pintunya.
Karena terlalu sibuk di pagi hari, membuat Oki hampir telat dan Oki yang mandi di toilet satpam itu mendapatkan pertanyaan.
"Tumben Pak Oki, apa air di rumah mati?" tanya salah satu satpam, "Kalau iya, mungkin membutuhkan bantuan, saya bisa membantu," lanjutnya dan Oki tersenyum.
"Tidak apa, bukan urusan air, tapi apakah kamu mengenal orang pintar?" tanya Oki seraya menatap satpam tersebut.
"Wah, bukannya Pak Oki sendiri orang pintar, ya?" tanya satpam dan Oki yang sedang mengancing lengan kemejanya itu menjawab, "Bukan pintar itu, tapi semacam orang yang bisa mengusir gangguan," jelas Oki.
Apakah Oki dapat menyelesaikan masalah gangguan itu?
__ADS_1
Like dan komen, ya, all. Jangan lupa vote/giftnya, juga, ya. Biar makin semangat up-nya.
Mohon maaf untuk typonya. 🙏✌