
Di rumah Arion, Karin sedang memperhatikan Lusiana yang juga sedang menatapnya.
Lalu, Karin memanggil Arion saat melihat pintu kandang itu hampir lepas.
Arion yang baru selesai dengan mandi itu segera menghampiri Karin yang duduk di ruang tengah.
Tidak lama kemudian, Bram datang untuk melihat boneka yang telah menghabisi nyawa putrinya.
Setelah berkumpul, Arion berniat akan memanggil kyai untuk memusnahkan Lusiana dan Lusiana yang mendengar itu pun mengamuk, dengan menggunakan satu tangannya yang berusaha keras membuka pintu kandang tersebut.
Dan Bram hanya diam saja, ia menatap Lusiana yang juga menatapnya.
"Aki-aki jelek, tidak tau diri, apa kamu melihatku?"
"Teruslah mengoceh sebelum ku antar kamu ke neraka!" kata Arion yang kemudian bangun dari duduk.
"Aku harus mengambil ponsel, di kamar, kamu jaga dia!" perintah Arion pada Karin dan Karin mengangguk.
Setelah Arion tak terlihat, tiba-tiba saja anak buah Bram membius Karin dari belakang.
"Bawa setan itu, aku harus mencincangnya sebelum ku musnahkan dia!" perintah Bram.
Dan di mobil, Bram memasukkan kandang kucing itu ke dalam karung dan membuat Lusiana semakin tak menyukainya.
"Kakek tua, lepaskan aku, dasar tidak tau diri!" teriak Lusiana.
Dan Bram tersenyum smirk.
****
Di rumah Arion, Arion melihat Karin yang berbaring di sofa dengan kandang kucing yang hilang.
"Karin... Karin," Arion membangunkan Karin dan Karin mulai sedikit membuka matanya.
"Arion," lirih Karin.
"Di mana kandang bonekanya?" tanya Arion dan Karin menggelengkan kepala.
"Tidak salah lagi, Bram telah mencurinya," kata Arion yang kemudian menghubungi Bram dan Bram mematikan ponselnya.
"Aku tau di mana rumah persembunyiannya," kata Karin dan Karin yang masih sedikit pusing itu mencoba untuk bangun.
"Ayo cepat, kita harus memastikan kalau boneka itu musnah," kata Karin dan Arion merasa ragu kalau Bram akan membawa Lusiana ke rumahnya.
Dan benar saja, Bram membawa Lusiana ke sebuah rumah kosong lain yang sudah anak buah Bram siapkan.
Di sana, sudah ada dukun yang menunggu. Dan tanpa Bram ketahui kalau dukun itu ilmunya tidak sebanding dengan Lusiana.
Dan dukun itu membakar Lusiana dengan mulut yang komat-kamit membaca mantra.
Apakah Lusiana akan mati, tidak! Justru dukun itu seolah membantu Lusiana yang terjebak di boneka itu keluar.
__ADS_1
Roh jahat itu merasa senang dan akan mencari tempat baru untuknya bersemayam, lalu, melanjutkan misinya memberantas yang dianggapnya sampah.
****
Tak menemukan Bram membuat Karin dan Arion mencarinya ke hotel.
Di sana, mereka pun tak menemukan Bram.
Dan saat keduanya memutuskan untuk pulang, justru mereka bertemu di lift saat pintu lift terbuka.
"Dimana dia?" tanya Arion yang sedang menahan emosi.
"Sudah ku musnahkan, kalian tenang saja," kata Bram yang kemudian berjalan meninggalkan Karin dan Arion.
"Anda tidak bisa bicara seenaknya tanpa bukti," kata Karin dan langkah Bram terhenti.
Lalu, anak buah Bram melemparkan sisa boneka Lusiana yang sudah terbakar, Bram sengaja menyisakan itu untuk bukti.
"Kalau sudah seperti ini, apa dia bisa mengganggu?" tanya Bram.
Karin dan Arion saling menatap.
****
Mobil hitam Arion membelah jalanan kotak yang tengah diguyur hujan kecil. Dan Arion tidak sendiri, ia bersama Karin dan selama perjalanannya, mereka saling diam.
Diamnya Karin dan Arion tengah memikirkan Lusiana.
Lalu, Karin membuka suaranya, "Apa benar Lusiana sudah tidak gentayangan lagi?" tanya Karin dengan pandangan mata yang tetap lurus ke depan.
"Entah," jawab Arion yang kemudian kembali fokus mengemudi dan Arion tiba-tiba saja melihat seorang gadis melintas didepannya dan Arion segera menginjak remnya.
Berbeda dengan Arion dan Karin yang sama terkejutnya, gadis yang seluruh badannya basah kuyup itu justru tersenyum dan melanjutkan langkah kakinya.
Karin menurunkan kaca mobilnya untuk menegurnya, "Mbak, kalau jalan hati-hati!"
Dan gadis itu sama sekali tak menoleh, ia hanya tersenyum dengan langkah riangnya.
Melihat itu, Karin dan Arion merasa merinding.
Arion melanjutkan laju mobilnya saat kendaraan yang ada di belakangnya itu membunyikan klakson.
****
Satu minggu telah berlalu dan setelah Bram membakar boneka Lusiana, keadaan kotak sedikit tenang tanpa teror Lusiana.
Dan sekarang, Karin menjenguk Rima, terlihat, Rima sudah mulai bisa berjalan lagi, walau masih harus tertatih.
Dan Oki masih berbaring di rumah sakit, kabarnya sudah membaik dan akan segera pulang.
Setelah kejadian menyeramkan yang menimpa keluarga Rima, apakah kini kebahagiaan akan datang?
__ADS_1
Karin merasa bahagia akhirnya keluarga itu selamat.
Setelah itu, Karin harus pulang dan ternyata di rumahnya sudah ada Arion dan Cila yang menunggu.
Arion dan Cila ditemani oleh Hendru dan sekarang, Arion mengajak Karin untuk ikut bersamanya.
Arion mengajak Karin dan Cila untuk makan siang bersama.
Dan di saat menunggu makanan datang, Karin sedikit terkejut saat mendengar Arion menyuruh Cila untuk memanggil Mama pada Karin.
"Maksud kamu apa, Arion?" tanya Karin yang duduk di depannya.
Cila yang duduk di samping Arion itu menatap Karin. "Cila punyanya Mommy bukan Mama."
Karin dapat memahami perasaan Cila yang sampai saat ini masih menginginkan orangtuanya untuk bersatu.
Dan Karin menatap Arion, ia mencari jawaban atas perintah Arion dan Arion tersenyum.
Di perjalanan pulang, Arion mengantar Cila ke rumah Melodi dan Cila yang sekarang sudah berdiri di pintu itu menatap Arion dan Karin.
Tatapan kosong dan Karin merasakan apa yang Cila rasakan.
Lalu, Arion yang sudah duduk di bangku kemudinya itu melambaikan tangan pada Cila dan Cila hanya diam.
Di perjalanan..
"Arion," lirih Karin seraya menatap Arion.
"Hmm," jawab Arion tanpa melihat Karin.
"Apa maksud kamu, tidak seharusnya kamu bercanda seperti itu," kata Karin dan Arion tersenyum.
"Aku tidak bercanda," jawab Arion yang kemudian menepikan mobilnya di bawah pohon. Arion mengeluarkan kotak kecil yang berwarna biru dari saku jaketnya.
Arion membukanya dan terlihat sepasang cincin di dalamnya.
"Aku merasa jatuh hati padamu, mau kah kamu menjadi teman hidupku yang akan menemaniku sampai akhir?"
Karin yang sebenarnya memiliki hati itu hanya bisa diam, ia memikirkan Cila.
"Kenapa diam?" tanya Arion seraya meraih tangan kiri Karin, berniat akan memakaikan cincinnya. Arion menganggap diamnya Karin adalah tanda setuju.
Dan Karin menutup tangannya dengan cara mengepal sehingga Arion tau kalau Karin belum mengijinkan cincin itu melingkar di jari manisnya.
"Kenapa? Selama kita menjalankan misi bersama, apakah tidak ada sedikitpun getaran di hatimu untukku?" tanya Arion seraya menatap Karin.
"Aku memikirkan Cila dan Lusiana," jawab Karin yang juga menatap Arion.
"Kenapa dengan Lusiana? Dia sudah hancur dibakar oleh Bram dan orang-orangnya, kita sudah bisa bernafas lega sekarang," kata Arion, "kamu tau, aku sudah menunggu lama untuk ini, menunggu kasus ini selesai, lalu melamarmu," lanjutnya.
Dan Karin mulai sedikit membuka tangannya dan Arion yang merasakan itu segera memakaikan cincinnya.
__ADS_1
Benarkah Karin dan Arion berjodoh? Lalu, kemana arwah jahat itu berkeliaran sekarang?
Dukung karya author dengan cara like, komen dan Vote/giftnya, terima kasih.