
Keesokannya, Arion sudah menjemput dan itu membuat Melodi mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa secepat ini?" tanya Melodi dan Arion tak memberitahu.
"Tidak apa, kami harus pergi dulu," kata Arion yang kemudian menggandeng tangan Cila dan setelah di mobil, Arion memperhatikan kalung Cila dan Arion merasa lega karena cincin itu masih ada di sana.
****
Setibanya di rumah, Cila melihat Arka memakai kalung yang terbuat dari kain dan memiliki kantung yg berwana hitam.
Cila menertawakan itu, "Adek pakai kalung apaan, kok, jelek banget," celetuk Cila seraya menyentuh kalung yang ada di leher Arka.
"Biarkan," ucap Arion seraya melepaskan tangan Cila dari kalung tersebut.
Setelah itu, Arion ke kamar sedangkan Karin sedang menyiapkan makan makan malam, tinggallah Cila dan Arka.
Cila yang merasa Karin sangat udik dengan memberikan kalung itu pada Arka pun mulai memikirkan cara untuk melepaskan kalungnya dan benar saja, Cila mengambil gunting kecil dari tasnya untuk melepaskan kalung itu, beruntung, Karin yang merasa tak tenang itu segera menghampiri Cila dah Arka yang ada di ruang tengah.
"Jangan!" seru Karin pada Cila yang hampir menggunting kalung itu.
"Mami, kalung ini sangat jelek, sekarang ini jaman modern, Mi!" gerutu Cila seraya menatap Karin.
"Ya, biarkan saja." Karin mengambil gunting itu yang ada di tangan Cila.
"Mi, ponsel Cila belum Mami kembalikan dan sekarang, Mami mengambil gunting Cila?"
"Ponselmu sudah ada sama Dadymu," jawab Karin seraya mengangkat Arka dari duduknya, ia tak tenang meninggalkan anaknya sendirian di tengah ancaman Lusiana.
"Lihat saja nanti, Mi," kata Cila dalam hati.
****
Di rumah Raya, ia sedang menonton televisi bersama bersama Ibunya, tetapi, Raya terdiam, ia menatap kosong pada layar televisi tersebut dan ibunya pun mengusap punggungnya.
"Kenapa, Nak?" tanya Ibunya dsb Raya menggelengkan kepala.
"Raya ke kamar dulu, Bu," kata Raya yang kemudian bangun dari duduknya.
Di kamar, Raya yang merasa sangat mengantuk itu memejamkan matanya, baru saja terlelap, Raya sudah bermimpi buruk, Raya melihat Lusiana yang sedang menghabisi nyawa keluarga si gendut dan Lusiana yang memegang pisau berlumuran darah itu menengok, ia menatap Raya yang sedang menyaksikan, lalu, Raya segera membuka mata.
Raya mengusap dadanya dan Raya masih ingat dengan wajah Lusiana itu pun menyebut namanya.
__ADS_1
"Lusiana," lirih Raya, lalu, Raya merasakan hembusan angin yang menerpa, padahal, jendela kamar sudah tertutup dan Raya merasa heran dari mana asal angin itu.
Raya mengusap lehernya yang terasa merinding, bulu halusnya berdiri dan tanpa Raya ketahui kalau Lusiana telah datang.
Lalu, Raya menolehkan kepalanya ke belakang dan Raya melihat wajah Lusiana yang pucat dengan gaun hitam dan rambut panjangnya.
Raya pingsan sampai pagi menjelang, Raya yang di bangunkan oleh Ibunya itu membuka mata dan badannya terasa lemas.
"Nak, tolong jangan seperti ini, Ibu sangat khawatir dengan kesehatanmu," kata Ibu Raya yang nampak sangat bersedih hati.
Dan Raya yang tidak mendengarkan Ibunya itu berbalik badan. Ia masih ingat dengan mimpi buruknya semalam dan wajah Lusiana terlihat sangat nyata, seperti bukan mimpi.
Lalu, Raya merasakan usapan lembut di kepalanya. "Nak, besok Ibu mulai jualan, kamu bantu Ibu lagi, ya!" pinta Ibunya yang kemudian bangun dari duduknya.
Wanita berusia 40 tahun itu pergi ke pasar dan Raya tiba-tiba merasa merinding.
"Kenapa aku jadi takut?" tanyanya pada diri sendiri.
Lalu, Raya bangun untuk mandi dan Raya yang berjalan melewati lemarinya itu melihat bayangan hitam di cermin lemarinya dan Raya pun terkejut, ia berteriak, "Aaaaa!"
Bruk! Raya jatuh terduduk dan Raya yang jatuh itu merasa merinding, ia mengusap ke dua lengannya dan Lusiana yang selalu mengikutinya itu berbisik, "Balas dendam!"
Kemudian, Raya kembali pingsan dan dalam pingsannya itu, Raya kembali melihat dirinya yang dilecehkan.
****
Di rumah Karin, wanita itu sedang kelelahan lantaran bibi sedang cuti.
Karin ketiduran dan Arkan yang sedang bermain itu turun dari ranjang, Arka mencari Cila dan Cila sedang memainkan ponselnya di kamar.
Cila melihat ke pintu dan Cila mempersilahkan adiknya untuk masuk dan Cila yang masih penasaran dengan kalung Arka itu melepaskannya dengan cara menggunting.
Lusiana yang sedang memberikan mimpi buruk pada Raya itu tersenyum, ia segera pergi untuk menemui Arka yang sudah tidak mengenakan perisainya lagi.
****
Arion yang sedang menangani kasus di TKP itu merasa heran ketika langit tiba-tiba menjadi gelap dan angin kencang menerpanya.
Karena khawatir, Arion menghubungi Karin dan Karin yang sedang tidur pulas itu segera membuka mata saat mendengar ponselnya berdering.
Karin yang membuka mata itu tak melihat keberadaan Arka dan Karin mengabaikan panggilan tersebut membuat Arion makin khawatir.
__ADS_1
Karin yang keluar dari kamar itu melihat Arka yang melayang, ya, Lusiana sudah mendapatkan anak itu dan Lusiana membawa Arka sehingga Arka terlihat melayang.
Lusiana yang tersenyum itu ingin membuat Arka jatuh dari tangga yang tinggi dan Arka yang menangis itu harus terguling dari tangga.
"Arka!" teriak Karin seraya berlari untuk mengejar Arka, sayangnya, tangan Karin tak sampai untuk meraihnya.
Dan Karin membulatkan matanya saat Arka tiba-tiba hilang dari pandangannya.
"Apa? Kemana Arka?" tanya Karin dalam hati.
Lalu, Karin berpikir kalau ini adalah mimpi dan Karin mencoba untuk bangun.
Berulang kali, Karin menepuk pipinya. "Bangun, Karin!" seru Karin.
Lalu, Karin tersadar kalau itu bukan mimpi setelah melihat Cila yang keluar dari kamar dengan memegang kalung Arka.
Karin mematung dan Cila menangis, ia meminta maaf pada Karin.
"Mami, maafkan Cila, Cila tidak tau kalau ini adalah penangkal," tangisnya seraya berjalan mendekati Karin dan Karin segera mengambil kalung itu dari tangan Cila, Karin pun berlari turun untuk mencari putranya.
"Arka!" teriak Karin seraya menangis.
"Ada apa?" tanya Arion yang sudah berdiri di pintu utama.
Karin yang tak bisa menjelaskan itu menunjukkan kalung Arka dan Arion bertanya kenapa kalung itu lepas.
Dan Cila yang menyusul ke bawah itu menjelaskan kalau dirinya yang melepas dan setelah itu, tiba-tiba saja Arka melayang, lalu menghilang.
"Menghilang?" tanya Arion seolah tak percaya dan Karin menganggukkan kepala.
"Anak kita, dia menghilangkan di tengah tangga saat sedang terguling, Mas, mungkin kah itu Lusiana? Lalu, kemana dia membawa anak kita?" tangis Karin dan Arion menatap Cila.
Lalu, Arion menyingkirkan tangan Karin yang ada di lengannya.
"Kenapa kamu melepaskan ini? Apa kamu tidak bisa mendengarkan ucapan Karin?" tanya Arion yang membentak Cila.
Cila ketakutan dan Arion yang frustasi itu mengusap rambutnya.
Benarkah Lusiana yang membawa Arka?
Like dan komen, ya, all.
__ADS_1
Dukung juga dengan vote/giftnya, ya. Dukungan kalian adalah semangatku.