
Flashback on. Hancur, Lusiana merasa hancur dan Adele sama sekali tak mau mengerti dirinya.
Lusiana berpikir, untuk apa dirinya hidup jika keadilan tak ia dapat.
Malam itu, Lusiana tak berpikir panjang, ia mengambil pisau dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Setelah itu, Lusiana keluar dari rumah, ia pergi ke rumah si pria gendut yang ternyata memiliki keluarga kecil, tetapi, istrinya berada di kursi roda.
Si gendut yang membukakan pintu itu sedikit terkejut saat melihat siapa datang.
"Mas, siapa itu?" tanya istrinya dan si gendut menjawab kalau itu bukanlah siapa-siapa.
Dan Lusiana yang merasa kalau hidup pria itu harus hancur pun menerobos masuk. Lusiana memperkenalkan dirinya pada wanita cantik yang menyusul gendut ke depan.
"Saya, anak dari selingkuhan suamimu!" kata Lusiana dan gendut tak tinggal diam.
"Jangan asal bicara kamu!" sergah si gendut dan istrinya meminta jawaban dari suamimu.
Lalu, Lusiana yang tidak basa-basi lagi itu mengeluarkan pisaunya, Lusiana yang seperti kerasukan itu menjilat pisau tersebut sebelum ia menancapkannya pada perut si gendut.
Lusiana yang berdiri di tengah antara gendut dan istrinya memeluk si gendut untuk memberi pelajaran.
Dengan sengaja, Lusiana membiarkan pria itu mati perlahan dan Lusiana yang menyimpan dendam itu tidak membiarkan keluarga si gendut selamat.
Pedihnya hati si gendut saat melihat anak dan istrinya dalam bahaya, tetapi, dirinya tidak dapat berbuat apapun, ia yang terkapar dengan darah yang mengalir itu hanya bisa melihat dan setelah itu, Lusiana pergi dari rumah si gendut.
Dan satpam yang tertidur itu bangun, ia keluar dari pos dan melihat jejak darah dari pintu rumah majikannya, pembantunya lah yang menjadi saksi mata.
Sebelum polisi datang, Lusiana yang memeluk bonekanya mencari Adele yang sedang melakukan perawatan wajah.
"Ada apa, Lusi?" tanya Adele yang menatap putrinya dari cermin meja rias, terlihat, Lusi berdiri di pintu dengan memeluk bonekanya. Tatapan matanya kosong, ia ingin pergi dengan membawa luka hatinya yang takan terobati oleh apapun.
"Lusi pamit, Mah," kata Lusiana yang tak banyak berkata lagi.
Setelah itu, Lusiana kembali menutup pintu kamar Adele, Adele yang merasa aneh pun menyusul. Ia melihat Lusiana yang berpakaian serba putih berjalan ke arah jendela yang berada di lantai dua.
"Lusi, mau apa kamu?" tanya Adele dan Lusiana tak menghiraukan.
Lusi terus berjalan dan sesampainya di tepi jendela, Lusiana berbalik badan, ia menatap Adele yang terdiam, Adele sendiri tak pernah berpikir kalau Lusiana akan melakukan hal di luar batas.
"Sayang, untuk apa kamu berdiri di situ?" tanya Adele yang melangkah maju.
__ADS_1
"Selamat tinggal, Mah. Dan teruskanlah melakukan apapun yang membuatmu senang," ucap Lusiana dengan begitu datarnya.
Dan Adele berteriak setelah melihat Lusiana yang menjatuhkan dirinya.
"Lusi!" teriak Adele yang berlari untuk menyelamatkan putrinya, tetapi, tangan Adele tak sampai untuk meraihnya.
Adele yang berlari keluar dari rumah itu bertemu dengan polisi yang berniat menjemput Lusi.
Adele menangis, meminta pertolongan pada polisi, sayangnya, Lusiana tak terselamatkan. Adele yang histeris melihat putrinya bersimbah darah itu pingsan.
Flashback off.
****
Detektif yang menangani kasus Karin menolak perintah atasannya untuk menetapkan Karin sebagai tersangka.
Merasa tak tega karena sama sekali tak ditemukan sidik jari Karin di pisau yang ada di TKP.
Dan Karin dapat keluar dari penjara setelah Hendru menebusnya. Selain karena tebusan, memang tidak ditemukan sidik jari Karin di pisau yang ada di TKP.
Tetapi, bebasnya Karin tidak membuatnya bebas dari hukuman sosial, Karin selalu mendapatkan tatapan sinis dan cibiran, bahkan banyak yang terang-terangan mengatakan sangat takut melihat Karin.
Karin tak menggubris semuanya yang ia pikirkan adalah Lusiana.
Karin juga mendengar kabar kematian saudara tirinya dan Karin pergi mencari Bram yang kabarnya masih koma.
****
Beberapa waktu berlalu, sekarang, Bram sudah bangun dari komanya, ia sangat sedih atas kepergian Laila dan Alexia.
Dan Karin yang sedang menyantap mie instannya itu membaca berita dari ponselnya, berita kematian yang terjadi pada pelaku kejahatan.
Karin berpikir dan menyangkut pautkan itu dengan Lusiana.
"Apakah Lusiana?" tanya Karin pada dirinya sendiri.
Benarkah apa yang Karin pikirkan?
****
Sementara itu, Lusiana sendiri masih berdiam di tempat kumuh, Lusiana yang dipungut oleh pemulung itu menjadi mainan oleh Nida, anak pemulung tersebut dan masih berusia 7 tahun.
__ADS_1
Nida membawa boneka kesayangannya itu kemana-mana bahkan saat sekolah dan Karin yang sedang berbelanja kebutuhan pokok itu melihatnya.
Karin mengejar Nida yang sedang berjalan bersama dengan teman-temannya dan kemudian terlihat kalau Nida ditindas oleh temannya.
Teman-teman Nida menarik Lusiana dan terjadilah aksi tarik menarik.
Karin yang melihat itu pun melerai. Setelah berhenti, Karin mengatakan akan memberikan uang jika anak-anak itu memberikan bonekanya.
Sayangnya, Nida yang sangat menyukai Lusiana itu menolak, gadis berambut sebahu itu berlari, Karin yang mengejarnya harus kehilangan jejak.
"Assh, kemana anak itu, aku khawatir dia akan menjadi korban," kata Karin yang terengah.
Setelah itu, Karin memutuskan untuk pulang.
Malam harinya, Nida yang belajar ditemani oleh Lusiana itu bercerita kalau tidak menyukai teman-temannya yang berusaha merebutnya.
Lusiana mengedipkan matanya, ia berpikir kalau setelah sedikit lama menganggur itu akan kembali beraksi.
Melihat boneka yang mengedip, Nida berpikir kalau bonekanya memang seperti itu.
"Kamu pasti boneka mahal, makanya kamu bisa ngedip, apa kamu bisa bicara?" tanya Nida seraya menyisir rambut Lusiana.
"Mana ada boneka bisa ngomong, Da," timpal Ibu Nida yang baru saja kembali dari pengepul.
"Ibu membawakan ayam, kesukaan kamu, kamu makan, ya, Nak!" perintah Ibu Nida dan Nida pun senang, Nida meninggalkan bonekanya begitu saja di meja belajarnya yang kecil.
Setelah malam sudah larut, Lusiana merasa bosan, ia merasa kalau di tempat Nida tidak ada yang dapat dikerjakannya.
Karena misi Lusiana adalah menghabisi sampah yang memenuhi bumi ini.
Lusiana yang ada di meja itu turun, ia keluar dari gubuk Nida, meninggalkan Nida yang begitu menyukainya.
Lusiana yang berjalan di tempat kumuh itu harus melewati gang kecil dan buntu, di sana Lusiana sangat terkejut saat seseorang hampir jatuh mengenainya.
"Ampun, tolong jangan lakukan itu, saya janji, saya akan melunasi hutang Ibu," kata m seorang wanita yang jatuh.
"Halah, sekali saja, itu bisa melunasi hutang Ibumu!" kata si pria yang mendorongnya sampai jatuh.
Dan pria yang melepaskan celananya itu mengingatkan Lusiana pada si gendut dan Lusiana tak tinggal diam.
Lusiana yang ada di samping tong sampah itu menggigit kaki si pria dan pira itu mengaduh. menendang Lusiana dan tentu saja, Lusiana tak akan membebaskannya.
__ADS_1
Selamat kah pria tersebut?
Like dan komen setelah membaca, ya, all. Jangan lupa dukung author dengan vote/giftnya. Terima kasih dan mohon maaf untuk Typonya, 💙