DENDAM LUSIANA

DENDAM LUSIANA
Mencari Jalan Keluar


__ADS_3

Dan sebagai detektif, Arion dapat dengan mudah menemukan keberadaan Adele.


Yang Arion lakukan sekarang adalah mengunjungi rumah adik Adele, karena sudah mengetahui masa kelam Adele dan Lusiana, Arion pun tak menanyakannya lagi.


Yang Arion pikirkan adalah karena Adele tak pernah merelakan kepergian Lusiana sehingga membuat arwah itu menjadi penasaran dan selalu membuat masalah.


"Mungkin keluarga Lusiana harus membuat pengajian, mendoakan Lusiana supaya tenang, jujur saja, percaya atau tidak, Lusiana sudah membuat onar, sekarang, dia selalu menganggu," ujar Arion pada adik Adele dan ucapan Arion menyinggung adiknya.


"Dengarkan baik-baik. Kami keluarga Lusiana tidak pernah diganggu atau semacamnya, jadi hati-hati lah ketika anda bicara, anda seorang ahli hukum dan tau kalau bisa saja saya melaporkan anda atas pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan!" kata Adik Adele dan Arion menatapnya datar.


Arion pun segera pamit karena kehadirannya dianggap menganggu oleh Adik Adele.


Di jalan, Arion menghubungi Hendru, Arion meminta pada mertuanya itu untuk menanyakan apa yang harus Arion lakukan pada Adele supaya Lusiana tidak menyimpan lagi dendam terhadapnya.


Hendru menjawab akan segera menanyakan itu pada mbah dukun tersebut.


Setelah itu, Arion kembali menyimpan ponselnya lagi dan saat itu juga Arion menabrak seorang gadis dan gadis itu adalah Raya.


Raya yang jatuh itu bangun dan memberikan senyum pada Arion membuat Arion merasa merinding.


Arion segera turun dari mobil, ia menghampiri Raya yang masih berdiri di depan mobilnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arion seraya memperhatikan Raya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.


Arion melihat jari-jemarinya yang terlihat sangat pucat dan Arion mengira kalau Raya saking terkejutnya.


Arion meminta maaf dengan mengulurkan tangan dan Raya yang menerima uluran tangan itu merasa terbakar dan segera menarik tangannya.


"Aku tidak apa-apa," kata Raya yang kemudian pergi.


"Arion!" geram Lusiana dalam hati.


Sementara itu, dari kejauhan, ada yang sedang memperhatikan Raya. Mereka adalah rombongan Bara.


Bara, Dion dengan Kenzi yang membonceng Dion itu merasa heran dengan Raya.


"Kalian lihat, di mana ada orang tertabrak mobil masih baik-baik saja?" tanya Kenzi pada Dion dan Bara.


"Atau Raya bermutasi jadi mutan?" tanya Bara dan Dion menertawakan.


Bara menatap datar Dion dan Dion pun diam.


Setelah itu, semua orang pulang ke rumah masing-masing kecuali Kenzi yang selalu menempel pada Dion.


Di rumah Dion, Kenzi mengatakan kalau dirinya hamil dan Dion menyarankan untuk menggugurkan kandungan itu.


"Dion, tidakkah sebaiknya kita menikah?" tanya Kenzi seraya menatap Dion yang sedang duduk di sampingnya.


"Jangan gila, kita masih sekolah dan sebentar lagi akan ujian, aku tidak mau gagal dalam ujian, jadi, kamu harus menurut dengan ucapanku!" ucap Dion yang tak mau dibantah.


Kenzi menangis dan Dion meninggalkannya masuk ke kamar.

__ADS_1


Kenzi memilih pulang dan selama perjalanannya, ia menangis sendirian di taksi.


Dan Kenzi yang sudah hampir dekat rumah itu menghapus air matanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat Raya ada di rumahnya sedang bertamu.


"Ka-kamu."


"Kenapa? Tidak usah takut seperti itu," kata Raya seraya bangun dari duduknya.


"Ra-Raya, aku minta maaf, aku hanya membantu Dion," ucap Kenzi yang ketakutan.


Kenzi memilih untuk keluar dari rumah dan Kenzi yang belum sampai di pintu itu membulatkan mata saat tiba-tiba pintu rumahnya tertutup dengan kencang.


"Kamu tau apa yang Dion lakukan pada Raya?" tanyanya dan Kenzi menggeleng.


Lalu, Raya yang sekarang sudah ada di depan matanya itu mencengkeram mulut Kenzi.


Kenzi mendorong Raya dan Raya sama sekali tidak jatuh.


"Kamu sudah mati, kenapa bisa bangun lagi, apa kamu sudah menjadi hantu?" tanya Raya pada Kenzi dan karena takut, Kenzi mencoba keluar, sayangnya, pintu itu tak dapat terbuka.


Kenzi berlari mencari bantuan pada pekerja di rumahnya dan semua orang terlihat tidur di ruang tengah.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kenzi pada Raya.


Kenzi sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada Raya, Raya yang dikenal gadis lemah dan selalu tertindas sekarang tidak dapat di remehkan.


Lalu, Raya mencekal lengan Kenzi membuat Kenzi melihat puluhan orang yang sudah tewas di tangannya yang berwujud boneka.


"Kamu ingin selamat?" tanya Raya dan Kenzi yang ketakutan itu mengangguk.


"Bawa Dion dan Bara ke gedung kosong yang ada di jalan xxx," perintah Raya dan Kenzi mengangguk.


"Jangan bermain-main denganku!" ancam Raya dan Kenzi yang sudah mengetahui kalau Raya bukanlah Raya itu ketakutan, ia terkencing di roknya.


****


Di rumah Arion, Arion dan Karin sedang terdiam, ia sudah mengetahui apa yang harus ia lakukan pada Adele untuk menghentikan Lusiana.


Lusiana yang menginginkan kematian Ibunya sendiri.


"Mas, apakah kita harus membunuh demi kebaikan?" tanya Karin pada Arion yang sedang menatapnya.


Arion menjadi bingung, karena tidak mungkin ia akan membunuh Adele.


Lalu, Karin seolah memiliki ide, ia meminta pada Arion untuk mengijinkannya membuka mata batinnya.


Arion tidak mengijinkan itu dan Karin pun terdiam.


****


Siang telah berlalu, sekarang, Kenzi sudah membawa Dion dan Bara ke gedung yang Lusiana tunjukkan, di sana Lusiana sudah menunggu.

__ADS_1


"Kenzi, untuk apa kita ke sini, di sini sangat gelap dan tempat ini terbengkalai," protes Dion dan Bara membenarkan ucapan Dion.


"Kita sudah bersalah pada Raya, kita harus meminta maaf kalau ingin selamat," kata Raya yang sedang memegangi senter.


"Sejak kapan kamu takut sama dia," timpal Bara dan Raya yang sebenarnya adalah Lusiana itu menjawab, "Sejak hari ini."


Dan karena gelap, membuat rombongan Kenzi itu tak melihat keberadaan Raya.


Kenzi merinding dan Kenzi yang ingin mencari selamat itu meminta pada Raya untuk melepaskannya.


"Dengar, kamu tidak boleh mengingkari janji, aku sudah membawa Dion dan Bara kemari, jadi kamu harus melepaskan ku!"


Mendengar itu, Dion dan Bara saling menatap, tak percaya kalau Kenzi telah bekerja sama dengan Raya.


Raya yang masih membutuhkan Kenzi itu melarangnya pergi.


"Aku akan melepaskan, tetapi, ada satu pekerjaan lagi," kata Raya yang ternyata sudah berdiri di samping Kenzi.


Kenzi mengarahkan senter itu tepat ke wajah Raya membuat Raya terlihat sangat menyeramkan.


Semua orang terkejut dan Kenzi jatuh terduduk.


"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Kenzi dengan lirih.


Lalu, Kenzi melihat sebuah pisau dan tambang yang Raya lemparkan padanya.


"Untuk apa ini?" tanya Kenzi seraya mengambil dua benda itu.


"Kamu tau apa yang Dion lakukan pada Raya, bukan?" tanya Raya dan Kenzi yang tau betul itu mengangguk.


"Lakukan apa yang Dion lakukan pada Raya!" perintah Raya dan Kenzi menggeleng.


"Raya, hentikan!" kata Bara seraya mendorongnya dan Raya menahan tangan itu yang sudah menyentuh bahunya.


Raya memelintir tangan Bara dan Bara kesakitan.


Dion yang melihat itu tak diam saja dan Dion yang berniat memukul Raya itu harus merasakan tendangan Raya yang begitu kuat.


Raya melepaskan tangan Bara dengan begitu kasar sehingga membuat Bara jatuh.


Setelah itu, Raya kembali pada Kenzi, kali ini, Raya menjambaknya.


"Lakukan yang suruh atau kamu akan menukar nyawamu dengan mereka?"


Mendengar itu, Kenzi menelan salivanya.


Bersambung.


Apakah Kenzi akan menurutinya?


Like dan komen setelah membaca, ya, all.

__ADS_1


__ADS_2