DENDAM LUSIANA

DENDAM LUSIANA
Perjanjian Rima


__ADS_3

Nisa segera membuka matanya dan wanita muda yang bermandikan keringat itu begitu terkejut saat melihat boneka yang sama persis dengan mimpinya.


Boneka itu duduk di kakinya seraya menatap Nisa, Lusiana memiringkan kepalanya, lalu memberikan senyum padanya.


Nisa berteriak seraya menyingkap selimut dan Nisa yang terburu-buru itu tidak menyadari kalau kakinya sudah terikat dengan selang infus.


Ya, selang infus yang Lusiana pungut dari tempat sampah dan apa yang Lusiana lakukan itu membuat Nisa jatuh, tak bisa berlari.


Nisa yang ketakutan itu menatap Lusiana yang loncat dari brangkar, Lusiana loncat tepat ke wajah Nisa membuat Nisa sangat ketakutan.


Nisa yang tak berhenti berteriak itu mencoba melepaskan Lusiana yang menempel di wajahnya.


"Aaaaaaa!"


Lalu, Nisa mendengar seseorang memanggil namanya. "Nisa... Nisa... Nisa, bangun!"


Nisa yang membuka mata itu terengah, wajahnya pucat pasi.


Nisa merasa lega setelah melihat siapa yang ada di depan matanya yaitu teman kantornya yang sedang membesuk.


Nisa memeluk temannya dan mencubit lengannya, Nisa berharap kalau kali ini bukanlah mimpi dan Nisa yang merasakan sakit di lengannya itu kembali memeluk temannya.


"Kamu kenapa?" tanya teman Nisa seraya melepaskan pelukannya.


"Indri, temani aku di sini, aku sangat takut," pinta Nisa seraya menggenggam tangan temannya.


"Pulang kerja, ya. Aku pasti temani, sekarang, aku cuma mampir aja," kata Indri.


Nisa menggeleng dan memohon pada temannya yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Lalu, kerjaan kamu di kantor siapa handel?" tanya Indri dan Nisa menjadi bingung.


"Benar juga apa kata kamu," jawab Nisa.


Lalu, Indri mengulurkan tangannya untuk memberikan boneka yang ada di lantai saat dirinya datang.


"Ini punya kamu?"


"Astaga, itu bukan punyaku, tolong buang dia!"


"Astaga, ini boneka loh, kyut gini kamu tidak mau?" tanya Indri seraya memperhatikan Lusiana.


"Benar, dia bukan milikku dan aku tidak menyukainya!" kata Nisa seraya mengambil boneka itu, lalu, Nisa melempar boneka itu ke jendela.


Di luar, Lusiana yang mendarat kasar itu mengusap bokongnya.


"Nisa sialan," gerutu Lusiana.

__ADS_1


****


Di ruang rawat Oki, Oki sedang ditemani Rima dan Rima merasa tidak tega melihat kaki suaminya yang harus tergantung karena cidera dan kepala yang diperban.


Karin yang sudah ada di ruang rawat itu hanya bisa memperhatikan, ingin menyampaikan sesuatu pada Oki, tetapi, Karin mengurungkannya karena ada Rima.


"Aku khawatir dengan Syahnaz, bisakah kamu pulang untuk menjaganya?" tanya Oki seraya menatap mata Rima yang basah.


"Tapi, siapa yang akan menjagamu di sini?"


"Tenang saja, kami akan menjaganya, kalau di sini semua, lalu, siapa yang menjaga anak kalian?" tanya Karin yang kemudian bangun dari duduk.


Dan sebenarnya Karin tau kalau Lusiana tidak akan mengejar bayinya, tetapi, Karin takut Rima akan menjadi salah satu korban Lusiana selanjutnya.


"Tolong temukan boneka itu, aku tidak sengaja memungutnya, kalau tau akan seperti ini, aku akan membuangnya," kata Rima pada Karin.


"Kami akan berusaha," timpal Arion dari tempat duduknya.


Rima yang percaya Karin dan Arion itu merasa sedikit lega, ia pun mengiyakan perintah semua orang.


"Sayang, kamu hati-hati," pesan Arion dan Rima yang sedang mengambil tas tangannya itu mengiyakan.


Setelah itu, Rima pamit pada semua orang.


****


Setelah kepergian Rima, Karin menanyakan kesalahan Oki.


"Wanita yang di ruangan itu, dia simpananku," lirih Oki, ia merasa malu karena ketahuan berbuat.


Dan Arion menertawakan, "Haha."


"Sudah ku katakan, dia akan mencari korbannya yang dianggapnya tidak pantas hidup," lanjut Arion.


"Tertawalah kau," kata Oki seraya menatap kesal pada Arion.


Lalu, Oki mendapatkan panggilan dari rumah sakit, Oki mendapatkan kabar kalau Nisa sudah tidak ada.


Oki menangis dan memberitahu Karin kalau wanita itu sudah tiada. Untuk memastikan sendiri, Oki meminta bantuan pada Karin untuk melihat Nisa yang terakhir kalinya.


Walau dengan kaki pincang, Oki tetap mengikuti proses pemakaman Nisa.


Sementara itu, di rumah Rima, Rima sedang tersenyum, ia merasa bahagia dan Rima yang sedang memangku Syahnaz itu mengajaknya bicara.


"Sekarang, kasih sayang keluarga kita, tidak akan terbagi lagi, Nak."


Syahnaz yang diajak bicara itu tersenyum, merasa senang karena Ibunya sedang senang.

__ADS_1


Dan setelah memberikan asi, Rima kembali menitipkan Syahnaz pada Ibunya.


"Bu, Rima harus pergi dulu," pamitnya dan Ibunya itu memberi ijin karena pikirnya akan merawat Oki di rumah sakit.


Nyatanya, Rima pergi ke rumahnya, ia menemui Lusiana yang sudah menunggu, ya, Rima menjalin hubungan dengan Lusiana.


Rima mengambil baju milik Syahnaz yang masih baru, baju itu belum terpakai.


"Ini, kamu gantilah bajumu," kata Rima seraya memberikan baju itu.


"Terima kasih, Ibu," ucap Lusiana seraya menatap Rima.


Apa, Ibu? Jadi sudah sedekat itu?


Flashback on..


Malam itu, Rima ingin menemani suaminya dan saat Rima sampai, Rima mendengar obrolan Oki dan Nisa. Rima merasa curiga dan mengikuti Oki, ternyata Oki pergi ke rumah Nisa, membantu Nisa yang terluka, Rima mengikuti keduanya sampai di rumah sakit.


Di sana, Rima menangis setelah mendengar kabar keguguran itu, Rima menangisi pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya dan Lusiana yang melihat itu Rima menangis di tepi jalan itu menghampiri.


Walau awalnya takut, tetapi, Lusiana berhasil meyakinkan Rima kalau dirinya tidak akan melukai karena misi Lusiana adalah melenyapkan yang dianggapnya sampah.


"Lalu, apa kamu juga akan menghabisi suamiku?" tanya Rima dan Lusiana mengiyakan.


"Tolong, jangan buat suamiku mati, dia kepala keluar dan aku tidak mau Syahnaz tumbuh tanpa ayah, aku mohon." Rima memohon pada Lusiana yang berdiri di bawahnya dan karena Lusiana terdiam, Rima pun berjongkok, ia menepiskan rasa takutnya.


"Aku bergantung padanya, aku tidak mau jadi janda, kalau kamu mau berilah saja dia pelajaran."


Lusiana melepaskan tangan Rima dan Rima kembali meraih tangan Lusiana.


"Aku mohon, tolong bayangkan nasib anakku, masa depannya, perjalanan hidupnya masih panjang," Rima memohon dan Lusiana teringat dengan dirinya yang tumbuh tampa seorang ayah.


Dan Lusiana yang menginginkan kasih sayang seorang ibu itu meminta padanya untuk diangkat sebagai anak.


Demi keselamatan Oki, Rima pun mengiyakan.


Dan perjanjian pun dibuat. Setelah itu, Rima membantu Lusiana masuk ke mobil Oki.


Tidak lama kemudian, Rima mendengar kecelakaan itu, Rima merasa senang karena Oki selamat.


Flashback off.


"Ingat, kamu harus menepati janji, karena Ibu tidak suka kalau anak Ibu berbohong," kata Rima.


Lusiana mengangguk dan setelah itu, Lusiana pergi ke tempat persembunyiannya.


Lalu, apa yang terjadi dengan Nisa sebenarnya? Apa kah dia meninggal karena Lusiana?

__ADS_1


Like dan komen, ya, all. Jangan lupa dukung dengan Vote/giftnya juga ya, 😇


Terima kasih. 💙


__ADS_2