
#24
Matahari telah menampakkan wujudnya ,kicauan burung terdengar indah di pagi hari yg cerah. Arka dan lira belum juga bangun dari tidur mereka.
Arka mulai mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit , kini dia sudah bangun dan ketika bangun dia di suguhkan wajah cantik ira yg polos saat sedang tidur
"Cantik" Gumam arka
Entah dorongan dari mana arka mengangkat tangannya dan mulai meraba wajah lira dari pipi ke mata ke hidung dan berhenti di bibir lira yg menggoda arka mulai mendekatkan wajahnya ke wajah lira tapi belum juga arka menempelkan bibirnya ke bibir lira , lira sudah mulai mengerjapkan matanya dan membuka mata sontak membuat arka menjauh dari wajah lira
"Ugh... Kak" Kata lira sambil merentangkan otot-otot nya
"Bagaiman keadaanmu ira? " Tanya arka
"Aku merasa pusing dan agak mualdan juga lemas kak" Kata lira
"Mungkin ini efeknya " Kata arka dalam hati
"Sini mendekatlah"kata arka
"Untuk apa? " Kata lira
Karena lira tidak mendekat juga arka pun mendekat dan mulai memijit kepala lira sehingga mereka saling menatap wajah satu sama lain, mereka saling memandang sehingga membuat keduanya berdebar. Arka tergoda dengan bibir lira yg seksi itu dan kini dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah lira , hampir saja bibir arka dan lira bertemu tapi itu tidak terjadi karena ada seseorang yg masuk
__ADS_1
"Lira arka" Kata kakek, kakek datang bersama Erina dan Sinta dan juga seluruh warga mereka datang untuk mencari lira sesuai janji mereka malam tadi. Atka dan lira menjauhkan wajah mereka dan lira buru-buru memakai hijabnya lagi karena dia belum memakai hijabnya, mereka berdiri menghampiri kakek dan lira langsung memeluk kakek nya
"Kakek" Kata lira
"Kenapa kau melakukan ini nak... Kau tau ini dosa " Kata kakek sambil meneteskan air dan memegang dadanya yg sakit mata dia kecewa kenapa cucunya bisa melakukan hal yg di larang oleh Tuhan
"Tidak kek ini tidak seperti yg kakek lihat kami tidak melakukan itu kek" Bantah lira
"Mana ada maling ngaku kek" Kata Sinta
"Tidak ... Kami tidak melakukan apa-apa" Kata lira
"Jika maling ngaku penjara penuh ira dan kamu arka kamu sudaherusak nama baik keluarga kami dan desa kami" Kata Erina sinis
"Lihatlah pakaian kalian... Mana mungkin kami tidak curiga dan tadi itu buktinya bahwa kalian sudah melakukannya " Kata warga
"Tidka kami tidka melakukannya pak" Kata lira
"Sudah kita nikahkan saja mereka dari pada mencemarkan nama baik kampung kita " Kata warga satunya lagi
"Tidak kami tidak melakukannya" Bantah arka
"Alah sudahlah kita nikahkan saja kek" Kata Sinta
__ADS_1
"Cukup " Teriak kakek"kakek tidak percaya ini ira kakek kecewa denganmu hah hah"kata kakek sambil memegang dadanya yg terasa sakit seketika saja kakek pingsan
"Kakek" Teriak lira sinta dan arka
"Ayah " Kata Erina mereka mendekat kepada kakek dan menahan tubuh kakek agar tidka jatuh
"Cepat kita bawa ke rumah" Kata Erina, mereka semua panik dan membawa kakek ke rumah dan langsung memanggil pak mantri untuk memeriksa keadaan kakeknya
Kini mereka semua sudah berada di rumah kakek dan kakek sedang di periksa di kamarnya sedangkan arka lira singa dan Erina menunggunya di ruang tamu
"Ini semua karena kau ira.. Kau pembawa sial di keluarga kami.. Dulu kakak ku yg meninggal sekarang kakek begini... Kenapa kau tidka ikut saja dengan ibumu yg selingkuh itu hah? " Bentak Erina kepada lira
"Tante" Kata lira
"Aku menyesal kenapa dulu aku2 membiarkanmu tinggal disini" Kata Erina
"Tante kenapa kau berbicara begitu " Kata lira sambil menitipkan air mata , arka yg melihatnya pun langsung mendekat ke arah lira dan memegang pundaknya untuk menguatkan hatinya
"Kau anak pembawa sial ira" Kata Erina
"Kak apa aku pembawa sial? " Tanya lira kepada arka
"Bukan kau bukan pembawa sial ira tenanglah" Kata arka menguatkan
__ADS_1
"Kau pembawa sial sehingga ibumu selingkuh dan meninggalkan kakak ku" Kata Erina