
Bab 14
Beberapa bulan kemudian. Mimpi buruk Sabrina dimulai pada sore hari ini,hal yang tidak perna dia bayangkan kini terjadi kepadanya,Kardun,Surti dan Sabrina dengan celana yang basa,mereka bertiga kini sedang berada di ruang tamu,entah kesalahan apa yang Sabrina perbuat sehingga Kardun marah besar sama Sabrina.
Sabrina hanya menunduk diam,ketika mendengar percekcokan antara bapak dan ibunya, Sabrina tahu kesalahannya,ia membuat bapaknya marah kepadanya sedangkan ibunya sekarang ini sedang membela dirinya.
Kardun tiba tiba menyeret Sabrina keruang tengah,menghempaskan badan kurus Sabrina ke ubin dan melepas ikat pinggang dari badannya lalu mencambuk tubuh kurus Sabrina dengan membabi buta dan sambil mencaci gadis malang itu,kek orang kesetanan Kardun terus melayangkan cambukan ke badan Sabrina,gadis kecil itu menjerit kesakitan dan teriak mengucapkan kata " Ampun pak Ampun " sambil meringis menahan rasa sakit,tapi Kardun tidak menghiraukan teriakan Sabrina.
Surti yang melihat suaminya menyiksa Sabrina segera menghampiri keduanya dan ingin menghentikan perbuatan Kardun tersebut,tapi ketika Surti sudah dekat dan ingin menghentikan,Suara bentakan suaminya terdengar lantang.
" Jika kau mendekat,Aku akan mencambuk kau sekalian "
Mendengar ancaman suaminya maka seketika itu Surti menghentikan langkahnya dan hanya bisa menatap sedih melihat kondisi Sabrina saat ini. Akhirnya Surti pun angkat bicara,
" Mas hentikan mas,kamu bisa membunuhnya,sudah Mas kasihan Sabrina "
Surti hanya bisa menangis melihat tanpa bisa menghentikan.
10 menit kemudian,Kardun yang sudah merasa puas melampiaskan emosinya pun berhenti menghajar Sabrina dan melempar sembarangan ikat pinggangnya. Sambil terengah engah Kardun berkata.
__ADS_1
" Anak tidak tahu di untung kamu,sudah di terima dirumah ini harusnya kamu menurut dan mengikuti peraturan,bukan malah seenak nya "
Sambil tangannya memegangi dagu Sabrina dengan kilat mata yang masih emosi.
Ketika melihat suaminya sudah menghentikan aksinya Surti menepis tangan suaminya langsung merengkuh tubuh kurus Sabrina kedalam pelukannya dan mereka menangis bersama.
Kardun yang melihat perlakuan Surti ke anak yang tidak diakuinya pun mencemooh.
" Surti,kau tidak usah mengasihani Anak itu nanti dia besar kepala dan semakin kurang ajar nantinya "
Surti yang masih menangis mendengar perkataan sang suami pun berkata.
Mendengar pembelaan sang istri untuk Anak yang tidak diakuinya itu Kardun pun Membentak.
" Kalau tidak diberi pelajaran dia tidak kapok dan akan mengulanginya lagi ti " ujar Kardun dengan meninggikan suaranya.
" Tapi kan Mas kita bisa bicara baik baik dan menasehati Sabrina,supaya dia tidak lagi main di sungai,bukan dengan cara kekerasan seperti ini Mas,lihatlah Mas kedua tangan,paha dan punggung Sabrina banyak bekas tali pinggang kamu "
Seketika Kardun pun menengok ke arah yang disebutkan tadi sama istrinya,memang nampak banyak dan besar besar merah di kulit badan Sabrina membekas tali pinggang,ada juga luka dengan bercak darah sedikit.
__ADS_1
" Mandikan dia dan beri makan,jangan sampai Anak itu sakit " ucap Kardun dan berlalu dari sana begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Setelah kepergian Kardun Surti melepaskan pelukannya,mengusap air mata di pipi Sabrina dan membuka baju juga celana Sabrina alangkah kagetnya Surti melihat punggung juga paha dekat bokong Sabrina penuh dengan bekas cambukan Surti menyentuh luka luka Anak sambungnya,seketika itu Sabrina meringis kesakitan.
" Mak sakit,perih banget,rasanya badan Sabrina sakit semua,kenapa bapak melakukan ini sama Sabrina Mak " ucapnya sambil menangis
" Maafkan bapak ya Bina,bapak itu khilaf,Mak yakin besok bapak pasti bersikap baik ge sama Bina,sekarang kita mandi dulu yok,habis mandi Emak obati luka Bina "
Sabrina di papah masuk ke kamar mandi oleh Surti,tapi ketika pintu akan ditutup Sabrina berkata " Mak luka lukanya pasti perih banget ketika terkena air "
" Kalau begitu Sabrina seka ajjha ya pakai kain biar tidak perih sangat,Emak ambilkan dulu kainnya "
Surti berlalu dari kamar mandi menuju lemari pakaian Sabrina ia mengambil sehelai kain dan memberikannya kepada Sabrina.
" Mak keluar dulu mau ambilkan makan buat Bina,sekarang Bina seka ya "
Segera Bina menutup pintu kamar mandi,melucuti semua pakaiannya dan membasahi kain ditangannya lalu menyeka lukanya sambil terisak karna ia sangat merasa perih pada luka lukanya. ia teringat ucapan bapaknya beberapa menit yang lalu,
kenapa bapaknya tidak mengakui ia sebagai anaknya,sebenarnya ia anak siapa ? Itulah pertanyaan yang sedang menari nari di otak Sabrina saat ini.
__ADS_1
Bersambung -_-