
Bab 23
Sabrina dan Sulis kini sedang duduk bersama di samping rumah sang Nenek,Sabrina masih dengan tangisnya,Sulis hanya diam saja dengan tangan yang mengelus² punggung adiknya,ia masih senantiasa di sana menunggu tangis Sabrina redah baru ia akan bertanya kenapa Sabrina menangis,Saat ini Sabrina merasa sedih,merasa tersisih dan merasa tidak di harapkan kehadirannya oleh Bapaknya,Sabrina cuma bisa menangis tanpa ada rasa ingin berbagi dengan Kakaknya,karna Sabrina tidak mau Kakaknya menganggap dirinya iri dan cemburu kepadanya.
Tak berselang lama akhirnya Sabrina berhenti menangis,kini di sampingnya bukan hanya ada Kakaknya saja tapi Mak Nyai juga ada entah sudah berapa lama Mak Nyai duduk di sana,karna Sabrina tidak menyadari kedatangan neneknya itu,tidak jauh dari tempat mereka Mak Nyai duduk di dingklik kayu dengan mata yang sudah keriput Mak Nyai menatap kedua cucunya dan berkata.
" Lis,coba Kamu tengok Bapak dan Emak apakah mereka masih berantem di ruang tamu,Mak Nyai tadinya mau tidur di kamar,karna berisik dan bosen denger pertengkaran orang tua Kamu Mak Nyai kesini deh "?
Sulis awalnya ingin menolak apa yang Mak Nyai suruh,karna ia ingin menanyakan sesuatu kepada Sabrina tapi karna liat tatapan tajam neneknya maka Sulis mau tidak mau harus nurut.
" Dek tunggu disini dulu yah sama Mak Nyai nanti Kakak balik lagi,jangan kemana² " Ujar Sulis.
" Sudah sana Lis,Sabrina tidak akan kemana²,dia tetap disini sama Mak Nyai " Jawabnya.
Sedangkan yang di ajak bicara hanya mengangguk saja,lalu Sulis pun bangkit dan berjalan menuju ruang tamu,ketika sudah sampai benar saja apa yang di katakan neneknya kalau orang tuanya masih saja berdebat,Sulis yang sudah tidak tahan lagi mendengarnya akhirnya membentak keduanya.
" Hey...bisa tidak kalian sudahi berantemnya,malu Mak Pak di dengar tetangga "
Sontak saja pasutri itu langsung berhenti berdebat.
Kardun mendekati Sulis lalu membujuknya agar pulang kerumah hari ini juga.
" Lis,kita pulang ke rumah Bapak yah,sana kemasi baju² kamu dan Emak,Bapak tunggu disini "
Bisa²nya Bapak menyuruh Sulis dan ibunya saja yang berkemas sedangkan Sabrina juga ada disini.
" Pak,Bapak sadar tidak,kita ke rumah nenek bertiga "
" Mau bertiga kek,mau berdua kek sudah sana kemasi baju² kamu,kita pulang sekarang dengar tidak "?Ucap Kardun dengan nada tinggi.
" Aku dan Anak² tidak mau pulang Mas,kalau Mas mau pulang silahkan pulang..."!Saut Surti ke suaminya.
" Iyah Pak,Sulis juga masih mau disini,apa lagi Sabrina,dia pasti masih kangen sama nenek,kita baru saja sehari semalam "
" Bisa tidak kalian tidak membantah,terus kalau masalah Anak itu mau ikut pulang silahkan dan kalau masih mau disini Bapak tidak peduli " Ucap Kardun.
__ADS_1
" Pak bisa tidak sedikit saja peduli dan sayang Sabrina,dia juga Anak Bapak,kasihan dia "
" Lis,Bapak tidak bisa,karna dia belum tentu dara daging Bapak,pasti dia anak campuran dengan laki² lain " Ucap Kardun.
" Bapak tidak boleh berbicara seperti itu Pak gimana kalau ada yang dengar takutnya jadi fitnah "
Sedangkan Surti yang melihat perdebatan antara Anak dan Bapaknya tersenyum kecil tanpa ada yang menyadari.
" Bukan fitnah Lis tapi memang benar Sabrina itu bukan anak Bapak kamu,pasti anak campuran sama lelaki lain " Ucap Surti memanas²i suaminya.
" Mak tahu dari mana,koq Mak begitu yakin kalau Sabrina bukan anak Bapak "
" Yah jelas yakin lah,karna Diani itu bukan perempuan baik²,kalau dia perempuan baik² dan terhormat tidak akan merebut Bapak kamu dari Emak terus menikah diam² "
" Bapak percaya sama apa yang di ucapkan sama Emak kamu,karna dulu Bapak berumah tangga sama Diani Bapak jarang pulang terus tiba² Bapak dengar Diani hamil,pasti dia ada masukin laki² lain ke dalam rumah tanpa sepengetahuan Bapak " Ucap Kardun lagi.
" Pak,Mak,Sabrina kan sudah besar,dari pada kalian menebak² terus yang belum tentu akurat alangkah baiknya Bapak tes DNA saja "
" Halah buang² duit saja... tidak usah di pake saran dari Sulis Mas " Ucap Surti
Melihat kelakuan Ibu Bapaknya begitu Sulis pun pergi begitu saja.
" Ish Anak itu mentang² sudah besar,pergi main nyelonong ajjha " Gerutu Surti
Setelah Sulis sudah agak jauh berjalan dari ruang tamu,ia melihat Sabrina di balik tirai gorden kamar Mak Nyai,Sulis yakin Sabrina mendengar semua pembicaraannya dengan Bapak dan Emak yang memang sedikit keras suaranya tadi.
Dengan langkah pelan Sulis mendekati dimana Sabrina berdiri,ia menyibak sedikit gordennya dan muka mereka saling berhadapan,Sabrina yang ketahuan menguping,ia pun gelagapan...
" Em itu Kak,Sabrina mau ke dapur ambilkan Mak Nyai minum,eh hampir saja tabrakan sama Kakak " Ngeles Sabrina
" Kakak tunggu di belakang rumah,habis antarkan minum buat Mak Nyai,Adek susul Kakak kesana yah ada yang mau Kakak bicarakan " Ucap Sulis
" Baik Kak..."
Selang 10 menit kemudian Sabrina mendatangi Sulis yang duduk menunggunya di Jonggol belakang rumah nenek mereka.
__ADS_1
" Kak...Maaf lama yah "
" Duduk dek... Tidak apa² " Ucap Sulis.
Sabrina pun nurut duduk di sebelah Kakaknya.
" Dek Kakak boleh tanya tidak ?" Sulis pun memulai pembicaraan.
" Boleh Kak... "
" Kenapa tadi menangis di dekat kandang ayam,Adek belum jawab pertanyaan Kakak pas kita duduk di sana bareng,sebelum Mak Nyai menyuruh Kakak tadi ?"
" Ouh itu tidak apa² Kak...cuma sedang galau sama tugas sekolah ajjha " Kilah Sabrina.
" Cerita ajjha dek sama Kakak,jangan di pendem sendirian,kita kan Kakak beradik harus saling terbuka dan berbagi kesedihan,suka mau pun duka " Pancing Sulis.
" Beneran Kak cuma masalah tugas sekolah,karna cape mikir terus jawabannya salah makanya nangis " Ucap Sabrina bohong
" Kakak tahu kamu bohong dek dan Kakak juga tahu kamu dengar semua apa yang di ucapkan Emak dan Bapak ke Kakak tadi kan,,, ?"
Sulis sebenarnya sangat kasihan sama Sabrina,dari kecil memang Bapaknya tidak mau berdekatan dengan Sabrina,bahkan saat Sabrina jatuh di depan mata Kardun,Bapaknya itu tidak menolong sama sekali malah mengatai,apa lagi pada saat Sabrina sakit peduli pun tidak...
" Sudah yah Kak Sabrina masuk dulu,mau mandi sudah waktunya harus berangkat mengaji " Ucap Sabrina.
" Walaupun Adek tidak mau cerita sekarang ke Kakak,tidak apa²,kapan pun Sabrina mau curhat Kakak akan selalu mendengarkan "
Mendengar kata² Kakaknya Sabrina berbalik dan langsung memeluk Sulis.
" Terimakasih Kak... " Ucap Sabrina tulus dalam pelukan Kakaknya dan tanpa Sulis tahu Sabrina menangis dalam diam,ia juga buru² menghapus air matanya karna tidak ingin Kakaknya tahu.
Bersambung... 🙏☺️☺️
Sorry baru update lagi,karna saya sibuk terima telfon dari mamah kandung saya yang Alhamdulillah sudah berkabar baru 5 hari ini.Kita belum bertemu,insya Allah hari Minggu saya akan berangkat naik bus dari Bali ke Jawa untuk menemui beliau.
Beliau sudah sangat ingin bertemu dengan saya karna kita memang sudah 27tahun lamanya tidak bertemu.
__ADS_1