
Bab 22
Keesokan harinya Kardun bersiap untuk pergi ke kampung sang istri guna menjemputnya serta anak².
Kekacauan yang kemaren sore ia lakukan tidak ada niatan untuk dirapikan,Kardun lalu keluar rumah ia ingin membeli sarapan untuk dirinya sendiri,karna ia merasa lapar dari semalam tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.
10 menit kemudian Kardun kembali dengan menentang keresek berisi sebungkus nasi,ia bergegas masuk dan duduk di sofa membuka bungkusan nasi lalu memakannya dengan lahap.
Sekarang Kardun sedang mengendarai sepeda motornya menuju kampung halaman istrinya.
40 menit berlalu akhirnya Kardun sampai di depan rumah bercat abu² putih,ketika ia mendorong pintu gerbang rumah mertuanya terdengar suara Sabrina yang menyapanya.
" Bapak... "
Sedangkan yang di sapa hanya melihatnya saja tanpa membalas sapaan Sabrina,sontak Anak itu merasa sedih karna Bapaknya tidak merespon.
Sesudah memasukan motornya di pekarangan rumah mertuanya Kardun tanpa mengucapkan salam langsung menyelonong masuk.
Sabrina yang memang sedang berdiri di pintu masuk terhuyung badannya membentur pintu karna Kardun mendorong Sabrina ke samping pas masuk tadi.
Melihat Anak yang tak diakuinya kebentur pintu Kardun tidak mengucap maaf atau pun menolong Sabrina,ia Cuek saja dan melanjutkan langkahnya masuk sambil berteriak memanggil² nama istrinya.
" Surti,ti... Surti,ini Mas ti " Teriaknya tanpa malu.
Surti yang sedang duduk di belakang rumah dengan ibunya mendengar suara Kardun,Surti langsung bangkit dan berjalan sedikit berlari guna memastikan suara yang ia dengar memang suara suaminya.
Pas memasuki pintu belakang Surti bertabrakan dengan Kardun membuat Surti jatuh terduduk dilantai karna keduanya sama² berlari kecil.
" Auh... " Surti meringis menahan sakit dan ngilu di bokongnya,Kardun yang melihat Surti jatuh ia langsung menolongnya dengan mengulurkan tangan.
" Aku bantu berdiri dan maaf sudah menabrak Kamu "
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Surti menerima uluran tangan dari suaminya dan ia segera bangkit berdiri.
" Ada apa Kamu kesini Mas "?Ucap Surti dengan dana kesal.
Kardun melipat kedua tangannya dengan nada angkuh menjawab
" Aku kesini mau jemput Kamu dan Anak²,kenapa Kamu pergi tanpa memberitahu Aku ti "?
" Kamu nanya,kamu bertanya² Mas,tanpa Aku jawab,kamu pasti tahu jawabannya kenapa Aku ada di rumah mamak ku "
" Tidak seharusnya kamu keluar dari rumah tanpa seizin ku Surti " Ucap Kardun emosi
" Mas...izin atau tidaknya,itu hak aku "
" Sudah berani Kamu ti melawan suami ha plak... " Kardun menampar pipi Surti
" Tega kamu Mas... " Ucap Surti sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
" Aku tidak suka sama orang yang membantah dan kamu tahu itu,mulut kamu semakin kurang ajar saja " Ucap Kardun tanpa merasa bersalah setelah menampar istrinya.
" Aku sudah katakan sama Kamu kalau uang yang aku pakai Judi,uang tabungan ku sendiri,apa perna aku berJudi mengambil dan merampas uangmu ti,kan tidak kenapa terus²an mempermasalahkan ha " Ucap Kardun meninggikan suaranya.
" Kamu memang tidak mengambil dan merampas uang Aku Mas untuk di pakai Judi dan Aku seringkali bilang ingat pulang Mas,ubah kelakuan mu itu bila perlu Berhenti,pabrik butuh kamu,jangan sampai pabrik kita Bangkrut,tolong,Kamu pikirkan nasib istri dan Anak²,jangan Egois Mas " Ucapnya
Di ruangan yang berbeda Mak Nyai,Sabrina dan Sulis mendengarkan saja pertikaian suami istri tersebut.
Sulis yang mendengar ibunya memohon sama Bapaknya merasa iba,apa yang di katakan ibunya itu memang benar,kalau Bapaknya terus²an berJudi pabrik tidak ada yang ngurus bahkan bisa gulung tikar.
Akhirnya Sulis memutuskan untuk menghampiri kedua Orang Tuanya ia ingin menengah²i.
Ketika sudah dekat Sulis memanggil keduanya,Kardun dan Surti pun menoleh kearah suara.
__ADS_1
" Pak,Mak sudah jangan berantem lagi,tidak enak di dengar saudara dan tetangga,mari duduk di ruang tamu,kalian bicarakan baik² " Ucap Sulis bijak karna memang Sulis sudah besar.
Kardun yang melihat Anak Sulungnya sontak langsung menghampiri dan mencium kening putri kesayangannya,sedangkan disisi lain ada seorang anak yang tak lain adalah Sabrina, melihat interaksi antara Bapak ke Anak yang begitu disayangi.
Sabrina juga sangat ingin di perlakukan seperti itu oleh Kardun tapi yang ia dapatkan selalu sikap cuek,dingin dan kasar dari Bapaknya.
Setelah mendengarkan saran dari Anak Sulungnya,Kardun,Surti dan Sulis berjalan bersama menuju sofa ruang tamu,ketika keduanya sudah duduk,Sulis pamit kebelakang mengambilkan air minum untuk ibu dan bapaknya.Sedangkan Surti dan Kardun mereka berdua diam dengan pikiran masing².
Sulis yang sedang berjalan ke dapur di hadang sama Mak Nyai.
Mak Nyai bertanya Sulis, " Lis,dimana kedua orang itu "?
" Ada di ruang tamu Mak Nyai,Sulis permisi mau ke dapur buat minuman dulu " Ucap Sulis kepada neneknya.
" Yah sudah sana,abis buatkan minum tolong samperin Sabrina,kasihan Anak itu sedang menangis di sana di samping rumah dekat kandang ayam "
" Baik Mak Nyai... " Ucap Sulis dengan mengangguk.
Sulis yang mendengar adik kecilnya menangis pun bertanya² dalam hati ada apa dengan Sabrina,dari pada penasaran akhirnya Sulis percepat membuatkan minuman untuk kedua Orang Tuanya dan ingin segera menghampiri adiknya.
5 menit kemudian Sulis mengantar minuman dan habis itu ia segera pergi ketempat yang sudah diberitahukan sama Mak Nyai dan benar saja Sabrina ada di sana ketika menyadari kedatangan Kakaknya Sabrina buru² menghapus air matanya dan tersenyum kepada Sulis yang menatapnya.
" Eh Kakak,sini kak duduk " Ajak Sabrina
" Adek kenapa disini sendirian,masuk yok disini bau hehehe "
Tapi Sabrina tidak menggubris omongan Sulis kepadanya,ia masih betah di kursi yang duduki nya saat ini,Sulis yang melihat Sabrina hanya diam saja akhirnya dia mengalah duduk di kursi samping Sabrina...
" Ada apa dek,koq Kakak tanya tidak dijawab "? Tanya Sulis
" Tidak ada apa² Ka,gimana Bapak sama Emak " Ucap Sabrina mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Jangan mengalihkan pembicaraan dek,kata Mak Nyai kamu nangis,apa ada yang di rasa sakit,kasih tahu Kakak mananya yang sakit "?
Sabrina tidak menjawab tapi dia malah kembali menangis sambil meletakan tangannya di mulut agar tangisannya tidak terdengar sama ibu,bapak dan neneknya.