DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 1 - Kepindahan


__ADS_3

Dekka, seorang pria berusia 23 tahun dan bekerja sebagai seorang freelance cerita horor selalu memerlukan referensi untuk ceritanya. Tapi kehidupan di kota begitu berisik, tetangga yang berteriak satu sama lain, suara menganggu pada malam hari oleh dua pasangan di samping kosnya. Tangisan anak kecil di malam hari, itu semua membuat dirinya terganggu yang harus memerlukan konsentrasi tinggi untuk merangkai setiap kata menjadi sebuah kalimat.


Dan hari ini adalah puncaknya, suara-suara itu menjadi satu malam ini. Membuatnya muak, di tambah dengan kejar-kejaran target akan ceritanya. Sampai akhirnya hari ini dia melayangkan protes pada ibu pemilik kos dan terjadilah pertengkaran di antara mereka. Ibu kos yang tidak mau mencari pekerjaan lebih dengan seorang pemuda yang tidak pernah ingin mengalah, sangat cocok untuk berdebat.


Suara tak mengenal lelah bersahutan mempertahankan pendapat pribadi sampai akhirnya sang pemilik kos kesal dan mengusir Dekka secara terang-terangan dari sana. Dekka tentu saja mengiyakan, egonya terlalu tinggi untuk mengalah. Sedari dulu dia tak pernah kalah dalam sesutau hal, baru kali ini dia akhirnya menyerah berdebat dengan ibu kos dan memilih untuk benar-benar pergi dari sana untuk emncari tempat baru.


Malam itu juga Dekka segera membereskan segala pakaiannya dan memutuskan untuk pergi ke rumah orangtuanya yang berada cukup jauh dari sana. Alasan mengapa Dekka memilih untuk kos adalah karena orangtuanya masih sibuk mengurus adiknya yang masih kecil-kecil, dan suasana di rumah juga tidak kalah ribut dari suasana di luaran sana.


"Kenapa sih Dekka, ini yang ketiga kalinya kamu keluar dari kos karena hal yang sama. Ini perkotaan Dekka, dimana kita satu sama lain tinggal bersampingan dan bahkan berdekatan. Suara-suara yang kamu dengar itu wajar, jadi ibu rasa itu tidak masuk akal untuk membuat kamu keluar dari kos." Ibu Dekka dengan jengah menasehati anaknya yang kini sedang makan di depannya, sang suami hanya diam dia bahkan lebih muak dengan anaknya ini.


"Tapi bu, Dekka itu seorang freelance. Dekka butuh ketenangan untuk menghasilkan uang, bagaimana caranya Dekka bekerja jika mereka sangatlah ribut. Jadi kali ini tolong carikan Dekka kos lagi, tapi jauh dari kebisingan." Dekka menjawab. lalu melanjutkan menyuapkan nasi goreng masakan sang ibu kedalam mulutnya. Rasa nikmat dan gurih menjalar, masakan ibunya adalah yang paling dia sukai sejauh ini.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu pindah saja kerumah nenek. Tinggal di desa, bukankah itu akan membuatmu lebih tenang?" tanya Bapak. Dekka nampak berpikir, tak buruk lagipula desa neneknya masih memungkinkan untuk akses internet. Jadi sepertinya tidak ada salahnya mencoba, tapi bukankah nenek sudah lama meninggal lalu jika ia pindah kesana adakah yang akan mengenalnya?


"Ada Bertan disana, kau bisa bertanya-tanya dengannya jika ada hal yang tak kau mengerti nanti. Bagaimana dengan itu?" tanya Bapak lagi. Dekka akhirnya mengangguk, menyuapkan suapan terakhir ke dalam mulutnya lalu meminum air yang sudah disiapkan sebelumnya oleh sang ibu. Dia akan mencoba, tidak ada salahnya jika harus tinggal bersama Bertan yang merupakan sepupu dari pihak Bapak.


"Kalau begitu besok antarkan Dekka kesana yah, Dekka belum tau jalan. Atau jika tidak biarkan Bertan yang kesini dan menjemput Dekka."


Perkataan Dekka mengejutkan kedua orang tuanya, bagaimana tidak anak itu baru saja pulang hari ini dan besok akan berangkat lagi? Sungguh benar-benar gila. Namun tak ayah Bapak mengangguki anaknya, ketimbang dia terus menerus mendengarkan omelan Dekka yang tak kunjung selesai karena adik-adiknya ribut nanti.


Benar-benar sunyi, yang terdengar hanya suara dari burung yang saling bersahutan. Bahkan cuacanya masih segar padahal ini sudah siang hari. Tetesan-tetesan air hujan masih menghiasi pepohonan kanan kiri yang menandakan disini baru saja selesai hujan. Dekka menghirup napas dalam-dalam, sudah lama dia tidak merasakan udara dengan kesegaran yang begitu memanjakan seperti ini. Aroma petrichor begitu menyengat ke hidungnya menambah ketenangan untuk hati dan kepikirannya.


"Suasana di desa sini masih sangat sejuk ya, sangat berbeda dengan suasana di kota," ujar Dekka mengungkapkan perasaannya. Matanya terpejam membiarkan angin menyapu wajahnya, membelai manja kedua pipinya. Betran melirik sekilas pada Dekka lalu mengangguk setuju, memang desa ini masih asri walau tak begitu di pedalaman.

__ADS_1


"Desa ini namanya Desa Seberang, orang-orang menyebutnya begitu karena desa ini terletak di seberang sungai besar. Nanti kapan-kapan aku ajak kesana untuk memancing ikan, kau akan lebih suka dengan ketenangan yang di hadirkan. Pakde dan Bude sudah cerita jika kau harus memiliki ketenangan, dan kebetulan aturan desa pun demikian. Tidak boleh ribut, terutama jika sudah malam itu benar-benar sebuah pantangan di desa." Bertan menjelaskan.


"Mengapa begitu?" tanya Dekka penasaran. Bagaimana bisa sebuah daerah melarang warganya untuk ribut, sungguh sangat aneh. Bertan mengangkat bahu acuh sebagai jawaban, Dekka mengerutkan kening tak mengerti, Bertan tidak tau alasannya?


"Itu sudah menjadi aturan di sana Dekka, kita tidak perlu mempertanyakannya. Cukup patuhi semua peraturan yang ada disana, maka semua akan baik-baik saja. Nanti sampai di ruma ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu, tapi sebelum itu mandilah dulu. Bersihkan dirimu," jawab Bertan semakin membuat Dekka pesaran namun dia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


Dan tak lama kemudian, mobil pick up itu berhenti di sebuah rumah yang sedikit di ujung. Dekka mulai menurunkan barang-barangnya dibantu oleh Bertan. Mereka berdua membawa barang-barang itu ke kamar Dekka sebelum akhirnya Bertan kembali memaksa Dekka yang ingin beristirahat untuk mandi. Dekka menurut, badannya juga sebenarnya sudah terasa lengket.


Selesai mandi, Dekka langsung diajak Bertan untuk makan karena ini sudah siang. Hidangannya sederhana hanya nasi dan tempe goreng. Beruntungnya Dekka bukan tipe orang yang pemilih soal makanan, jadi dia memakan makanan itu dengan lahap. Bertan tersenyum melihat itu, sepertinya Dekka tidak terlalu buruk. Dan akhirnya setelah makan siang itu selesai, Dekka mulai menata barang-barangnya yang masih berada di dalam tas.


Bajunya yang tak terlalu banyak di masukkan kedalam lemari kecil, perlengkapan lainnya dia susun di atas meja pendek dan lebar itu. Setelahnya dia menemui Bertan, memulai obrolan tentang hal penting yang Bertan maksudkan sebelumnya.

__ADS_1


"Aku mau bicara tentang nenek, dan peraturan di desa ini yang harus kamu patuhi Dekka."


__ADS_2