
Hari itu, seharian hujan sehingga Bertan dan Dekka tak bisa melakukan kegiatan apapun selain bermalas-malasan di rumah. Hari sudah siang, namun hujan yang masih lumayan deras membuat itu masih terlihat di pagi hari, ditambah dengan suasana yang sejak dan dingin membuat dua pemuda dengan jarak umur tak jauh itu memutuskan untuk kembali ke kamar dan begelung selimut.
Mata mereka terpejam, membawa mereka ke alam mimpi tak lama kemudian. Dengkuran halus terdengar dari bibir keduanya, namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian. Kernyitan dahi milik Bertan menandakan sosoknya sedang mimpi buruk jika dilihat sekilas.
Dan Bertan disana, entah alam mimpi atau apa. Dia berdiri, di rumahnya, namun kali ini dia bisa melihat sosok tersayangnya yang sebenarnya telah pergi. Ibu, ayah dan kakek ada disana, mendiskusikan sesuatu yang entah apa. Bertan tak bisa mendengar apa yang mereka katakan karena jarak yang lumayan jauh. Akhirnya dia mendekat, mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dengan rasa penasaran. Sepertinya tidak ada yang menyadari kehadirannya, tentu saja karena ini hanya alam mimpi dan Bertan tau hal itu.
Semakin dia mendekat semakin dia menyadari raut wajah tak mengenakkan dari mereka, dan ternyata di sana juga ada ibu dan ayah dari Dekka yang juga memasang wajah tegang. Wajah kakek dan nenek merah padam, menahan amarah yang tidak bisa meluap begitu saja. Dari pembicaraan mereka, mereka baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga. Itu adalah akibat dari apa yang tak sengaja mereka ikut campuri. Saudara kakek meninggal, Dekka dan Bertan masih bayi saat itu.
Semakin lama, wajah kakek semakin serius. Mulai beliau membicarakan tentang bahaya yang akan dihadapi oleh kedua bayi itu jika semisal mereka diketahui keturunan langsung dari kakek. Mereka berdua spesial, Dekka terutama yang memiliki kemampuan sama percis seperti kakek. Kedua orang tua diminta meninggalkan Desa Seberang sesegera mungkin, namun tolakan mentah-mentah diberikan keduanya.
"Saya gak bisa ninggalin ibu dan bapak gitu aja disini, jika kami pergi kalian harus ikut pergi," Ayah Bertan berucap. Ibu Bertan mengangguki dan aayah bertan memberi pembelaan pada saudaranya. Terlihat kakek mengusap wajahnya frustasi, kedua putranya tidak mengerti dengan situasi apa yang sedang mereka hadapi. Wajar karena mereka tidak bisa melihat 'mereka' yang tak kasat mata.
"Kalian lupa dengan apa yang bapak bilang saat anak-anak kalian lahir?" tanya Kakek. Ayah Dekka kali ini menggeleng, maju selangkah untuk mewakilkan saudaranya menentang. Istrinya ikut melangkah, setia mendampingi sang suami karena sejujurnya dia juga tidak ingin pergi dari Desa ini.
__ADS_1
"Kami ingat pak, tapi itu belum tentu benar. Buktinya sampai sekarang Dekka dan Bertan masih baik-baik saja," ucap Ayah Dekka. "Lagipula bagaimana mungkin keturunan saya memiliki bakat yang tidak saya miliki, harusnya saya yang menurunkannya sebagai ayah," lanjutnya.
Kala itu perdebatan terjadi, dan tak ada yang mengalah sampai akhirnya kakek yang memilih untuk diam. Empat orang melawan dia berdua dengan istrinya, tentu saja mereka akan kalah suara. Saat persetujuan dibuat, dengan Dekka dan Bertan yang akan selalu ada di bawah pengawasan kakek dan nenek tiba-tiba di sekeliling Bertan memutih. Menggelap dalam satu kejapan mata dan di kejapan berikutnya dia sudah ada di sebuah latar cerita lain.
Dia bisa melihatnya saat itu, dirinya yang sudah balita di gendongan sang ibu menangis. Begitu pula dengan Dekka yang sudah melemah di gendongan ibunya. Bertan menahan napasnya, dia sama sekali tidak mengingat atas kejadian ini pernah terjadi dalam hidupnya. Dia melihat sekeliling, kabut hitam dimana-mana, dan yang paling menyita perhatiannya adalah Dekka dengan darah di sekitar bibirnya.
Di depan mereka ada ayahnya dan dekka, juga kakek sedang berperang dengan seorang makhluk besar. Makhluk itu berwujud manusia, dengan keenam lubang di wajahnya mengeluarkan darah. Bentukannya seperti manusia, masih menggenakan pakaian kuno kerajaan lengkap dengan hiasan rambutnya. Bertan tak pernah melihat sosok itu sebelumnya, namun sekarang melihatnya membuat bulu kudungnya langsung berdiri seketika. Untuk pertama kalinya Bertan merasakan ketakutan seperti itu pada makhluk seperti mereka.
Nenek berbicara, mengacung-acungkan jari ke arah sosok besar itu, dengan bahasa yang tak Bertan kenal berbicara. Namun dia tahu disetiap kata yang nenek lontarkan ada emosi yang terpendam, ada rasa amarah ang ingin meluap. Tak lama setelah nenek berbicara sosok itu manatap tajam ke arah mereka semua. Berkata yang membuat keadaan sekitar bergema akan suaranya yang kelewat keras.
Setelah berkata dengan bahasa asing sosok itu pergi dan nenek langsung kembali seperti biasa setelahnya. Dia ketakutan, seolah apa yang baru saja terjadi dilihat olehnya. Kakek mengelus punggung istrinya menenangkan, menatap tajam anaknya yang hampir membuat kedua nyawa sepupunya melayang. Di saat itu, Bertan berhenti menangis dan Dekka tertidur di pelukan sang ibu.
"Bawa Dekka pergi dari sini sebelum dia benar-benar mati. Jika salah satu dari kalian tetap ingin tinggal, hanya Bertan yang bisa. Saudara ku sudah memberikan pelindung padanya," ucap kakek.
__ADS_1
"Tapi pak."
Ayah Dekka ingin kembali menentang namun nenek langsung menghentikannya dengan isyarat tangan untuk berhenti berbicara. Ayah Dekka langsung diam, membiarkan ibu dan ayahnya mendekati Dekka yang tampak masih lemas. Darah di sekitar bibir Dekka di usap pelan oleh nenek, dibelainya pelan surai Dekka penuh kasih.
"Kalian harus pergi, sosok itu menginginkan putra kalian. Tanah ini terkutuk pada mereka yang merupakan keturunan murni dari kakek. Dan dia adalah orangnya, semua kemampuan kakek menurun padanya. Mulai sekarang apapun itu alasannya, sebelum aku dan bapak mu mati jangan pernah menginjakkan kaki di kampung ini. Titip pesan ku untuk cucuku, dan kalian jangan pernah menginjakkan kaki sebelum anak kalian masih belum menemukan titik terang jangan pernah menginjakkan kaki. Kalian telah di tandai oleh dia."
Dan setelah itu semua kembali menggelap, suasana kembali hening. Sekeliling Bertan mulai putih lalu menggelap seketika dan beberapa saat kemudian dia terbangun. Keringat dingin mengucur deras di dahinya, napasnya tak beraturan. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling dan tatapannya berhenti di arah Dekka yang juga sedang mengatur napas. Sepupunya itu juga sama sepertinya, banyak peluh yang menetes dari dahinya.
Mereka berdua saling pandang untuk beberapa waktu yang lama. Dan kemudian mereka menyadari, ekspreksi wajah mereka sama yaitu ketakutan dan kaget. Pandangan mereka biarkan beradu sejenak sampai akhirnya Dekka yang memutus untuk mengacak rambutnya.
"De, lo mimpiin kenapa lo bisa pergi dari sini ya?"
"Gue gak perlu jawab hal itu."
__ADS_1