
Pemilik warung menatap aneh ke arah Mbak Rondo yang masih bermanja dengan Dekka. Dia bergelayut manja di lengan yang kebih muda, walau berkali-kali telah ditolak. Perasaan Dekka dongkol, sedangkan Bertan tersenyum mengejek. Senang rasanya melihat Dekka tertekan seperti sekarang akibat sosok itu. Tak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama, Dekka akhirnya memutuskan untuk membayar gorengan dan menyeret Bertan yang belum menghabiskan kopinya beranjak dari sana.
Seluruh tubuhnya merinding, bukan karena melihat sosok menyeramkan karena Dekka mulai terbiasa dengan mereka. Tapi karena sikap dari kuntilanak yang merasuki Mbak Rondo dan bagaimana sosok itu bermanja padanya membuat semua bulunya berdiri seketika. Dia mempercepat langkahnya, sengaja agar segera menemukan tempat yang sepi untuk sekedar mengungkap identitas dari sosok itu.
Mereka sedang berada di kawasan banyak pohon di sekitaran Desa. Penduduk lain mungkin sudah mengunci rumah mereka, karena waktu juga menunjukkan pukul 20.09 karena warung tadipun sepertinya sudah berberes ingin tutup. Hanya menunggu mereka bertiga pergi dari sana baru sang pemilik rela menutup warungnya. Dan tanpa keraguan sama sekali sosok itu mengikuti Dekka.
Sampai akhirnya Dekka menghentikan langkah saat merasa bahwa mereka sudah cukup berada di tempat yang sepi. Dia menyiapkan hatinya, menenangkan pikirannya agar tak mudah dipengaruhi oleh sosok itu nantinya. Dekka balikkan badannya, menatap Mbak Rondo yang ada di depannya, hanya berjarak beberapa meter tempat mereka berdiri.
Bertan mundur selangkah, sesuai rencana dia akan menjaga Dekka dari belakang seandainya dia ambruk nanti. Dia melihat nya sekilas, dari sorot mata Mbak Rondo memiliki nafsu dan obssi yang besar. Itu membuatnya merinding, membayangkan bagaimana bisa orang yang telah mati menyukai seorang manusia yang masih memusingkan kehidupannya.
"Saya tau kamu bukan Mbak Rondo, kalau berani langsung saja tampakkan diri kamu. Jangan mengambil raga Mbak Rondo," ucap Dekka menantang. Tatapan Mbak Rondo berubah untuk benerapa detik, lalu detik selanjutnya kembali seperti biasa. Menggoda dan penuh rasa pada Dekka, yang selanjutnya terjadi cukup mengejutkan. Tubuh Mbak Rondo limbung dan jatuh ke tanah, sedangkan daro raganya keluar sesosok makhluk dengan pakaian serba merah dengan rambut panjang terutai.
Sosok itu terbang mendekati Dekka dengan wajah tersenyumnya. Kali ini tidak terlihat cantik seperti Mbak Rondo biasanya, tapi terlihat menyeramkan dengan robekan di sekitar bibirnya. Wajahnya hancur penuh luka, tangannya yang bergerak ke arah Dekka pun dipenuhi dengan belatung yang keluar dari setiap lubang-lubangnya. Dekka mual seketika, semua isi lambungnya menggejolak minta dikeluarkan saat itu juga.
__ADS_1
"Kau sungguh tampan!"
Sosok itu berbicara, Dekka mundur selangkah dengan wajah yang ditolehkan agar sosok itu tidak menyentuhnya. Jijik membayangkan tangan penuh dengan belatung itu berhasil menyentuh seinci pun dari wajahnya. Sosok itu tampak kesal, tidak berhasil menyentuh wajah tampan yang dia dambakan.
"Kau sungguh tampan, aku akan menikahi mu jika aku masih hidup," ucap sosok itu.
"Tapi lihatlah diri mu sekarang, kau tidak sepertiku. Kau bukan manusia lagi, jadi buang jauh-jauh semua angan mu itu," ucap Dekka menantang. Sosok itu tertawa, tampak lucu dengan ucapan yang dikatakan Dekka.
"Lalu bagaimana jika aku membuatmu sama seperti ku? Maka kau akan bisa bersama ku bukan?" Sosok Kuntilanak merah itu berbicara. Bulu kuduk Dekka langsung merinding terutama saat sosok itu maju untuk menyerang ke arah Dekka.
Terlihat kesal di mata sosok itu, dan kemudian dia berbalik ingin kembali memasuki raga Mbok Rondo sebelum akhirnya dia melihat Bertan yang berada di dekat sosoknya. Dia menatap tajam Bertan yang hanya menyengir kemudian menyingkir, dan saat sosol itu ingin kembali masuk dia tidak bisa. Seolah ada sesuatu yang menghalanginya kembali masuk ke raga yang dia gunakan wadah itu.
"Kenapa, gak bisa masuk ya? Kasihan banget," ucap Bertan mengejak. Selama sosok itu tengah berbincang dengan Dekka tadi dia sudah memasangkan kalung yang diberikan oleh Kek Retno. Kata Kek Retno itu untuk menangkal sosok-sosok yang selama ini mengincar tubuh Mbak Rondo. Dan ternyata benar itu berhasil, padahal hanya sebuah kalung, namun ternyata bisa digunakan sebagai jimat.
__ADS_1
Kuntilanak merah itu kemudian tampak marah, menyerang ke arah Dekka dan Bertan yang tampak berdekatan. Dengan reflek keduanya menutup mata, berdoa dalam hati mereka. Tak ada yang terjadi, hawa di sekitar juga berubah menjadi lebih menenangkan lebih dari biasanya. Mereka membuka mata, tak lagi melihat sosok itu di sekitar mereka. Yang ada hanya Mbak Rondo yang sudah menatap mereka dengan tatapan heran sekaligus takut.
Bertan mendekatkan diri pada Dekka, membisikkan kalimat tentang Mbak Rondo. Bahwa sosok di depannya inilah bagaimana Mbak Rondo biasanya, tak berani macam-macam. Tatap matanya polos, dengan mimik wajah tegang namun begitu enak di pandang. Wanita itu bangkit, menyadari dia berada di tempat yang tak dia ketahui dengan dua pemuda di depannya. Tak ingin ada berita simpang siur, Mbak Rondo berlari begitu saja meninggalkan Bertan dan Dekka yang sebenarnya hendak menjelaskan.
"Gue takutnya kita dikira ngapain tadi," ucap Dekka sedikit meringis melihat Mbak Rondo berlari ke arah kegelapan. Bertan mengangguk, lagian mereka berdua dengan Mbak Rondo seorang wanita pastilah perlu dicurigai. Namun mereka tak melakukan apapun, sentuhan pun seminimal mungki diberikan saat memakaikan kalung tadi oleh Bertan.
"Yaudah ayo balik aja, gue ngantuk. Besok aja kita bicara," ajak Bertan.
Mereka berdua akhirnya berjalan pulang, berharap bahwa setelah ini tidak ada lagi sosok yang akan menggoda Dekka seperti sebelumnya. Mending itu adalah manusia, lah ini merupakan sosok arwah yang bahwa Dekka tidak tau siapa.
Namun sepertinya tidak semudah itu, karena sosok kuntilanak merah itu masih kerap menampakkan diri pada Dekka sesekali walau hanya melihat dari kejauhan. Namun Dekka sering kali abai, memilih untuk pura-pura tak peduli walau sebenarnya dia cukup tak nyaman. Mbak Rondo pun sama, saat bertemu dengan Dekka ataupun Bertan yang hendak menjelaskn, dia malah berlari pergi. Wajah cantiknya kering ditutupi dengan topi atau selendang yang digunakan untuk menghindari tatap mata langsung dengan kedua pemuda itu.
"Sudah biarkan saja, kalau nanti dia ingin meminta penjelasan baru dijelaskan." Kek Retno memberitau saat untuk kedua kalinya Mbak Rondo menghindari mereka. Bertan dan Dekka sama-sama menghela napas lelah, mereka hanya ingin memberi penjelasan dan rasanya susah sekali.
__ADS_1
"Dia sedang malu, jadi jangan diganggu."