
Siang itu Dekka sama sekali tidak bisa tenang, dia masih mengingat jelas bagaimana rupa dan ekspresi dari sosok itu. Dekka memijit pelipisnya yang terasa pusing, sial dia bisa melihat 'mereka' lagi, padahal ibunya mengatakan dia tidak akan bisa melihat mereka lagi. Tapi kenapa tadi dia melihatnya? Dan apakah kemarin yang dia lihat juga salah satu dari 'mereka'?
"Bertan, lo percaya hantu?" tanya Dekka pada akhirnya. Tangannya masih dengan telaten membersihkan isi perut ikan yang tadi mereka dapat. Tiga ikan besar hanya untuk mereka berdua, itu benar-benar sangat banyak menurut Dekka. Kali ini dia yang akan memasak, lagipula dia tidak bisa hanya menumpang disini.
"Kenapa nanya begitu?" tanya Bertan heran. Dekka diam tak menjawab, ingin mengatakan apa yang ia lihat tapi takut Bertan malah tidak percaya nantinya. Merasa tak ada respon dari Dekka, Bertan menoleh menatap Dekka yang masih membersihkan isi perut ikan itu. Tangannya menepuk bahu Dekka, membuat sepupunya itu menoleh sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Kalau gue bilang percaya, gimana?" tanya Bertan yang membuat Dekka kaget. Pasalnya semua yang Bertan ucapkan saat perjalanan mereka ke sungai seolah-olah menunjukkan dia tidak percaya hantu. Dekka menoleh, matanya menampilkan sedikit binar mendengar jawaban Bertan.
"Lo punya pengalaman horor? Mau gue tulis di blogger gue," ucap Dekka tiba-tiba. Entah mengapa dia mengatakan hal itu, itu hanyalah ucapan spontan yang ia ucapkan. Bertan tampak berpikir sebentar, dia mencoba mengingat lalu mengangguk kemudian. Memang bukan pengalaman pribadinya, namun sesuatu yang nenek pernah ceritakan padanya dulu.
"Nanti kalau lo udah lese masaknya gue ceritain, sambil anterin satu ikannya buat kakek di sebelah, kasian gak ada siapa-siapa," ucap Bertan yang akhirnya di angguki oleh Dekka. "Oh kalau lo mau nanya pengalaman horor, tanya aja sama kakek, beliau pasti tau soalnya orang-orang dulu kan masih mistis gitu." Sekali lagi Dekka hanya mengangguk mengiyakan.
Dekka akhirnya melanjutkan memasak, simple saja yang dia masak. Ikan goreng yang sebelumnya ia marinasi dengan bumbu instan dan juga sambel terasi bungkus. Sudah siap semuanya dia melanjutkan untuk menata semuanya dalam sebuah rantang lengkap dengan nasi dan sayur kangkung dadakan yang hanya direbus dan di beri garam. Setidaknya makan sayur, itu yang Dekka katakan pada Bertan tadi.
Mereka bersiap ke rumah kakek, berniat makan disana sekalian menemani beliau. Matahari sudah terbenam dan mereka berdua sama-sama melewati makan siang karena terlalu asik memasak. Ketukan pelan Bertan berikan pada rumah yang masih tradisional itu, sepertinya rumah itu menyimpan banyak rahasia.
Pintu rumah terbuka menampilkan sesosok pria tua dengan rambut yang hampir memutih sepenuhnya. Kakek tersenyum ke arah keduanya, sedikit menyingkir memberi mereka ruang untuk masuk ke rumahnya. Keduanya masuk, dan Dekka sedikit menundukkan badan melewati kakek. Kakek itu tersenyum ke arah Dekka, lalu setelah mereka masuk pintu kembali di tutup. Kakek yang bernama asli Retno mengikuti dari belakang dan mulai ikut duduk di antara keduanya yang sudah menyusun semua makanan di atas karpet.
__ADS_1
"Nih kek dimakan, tadi Bertan sama Dekka habis mancing sekalian bawa ini niatnya mau ngenalin Dekka ke kakek," ucap Bertan. Kek Retno mengangguk, menatap lekat ke arah Dekka yang memperkenalkan diri.
"Panggil saja Kek Retno, sama seperti yang lain. Kakek boleh makan ini? Lapar perut kakek," ucap Kek Retno. Dekka tertawa lalu mengangguk, menyiapkan makanan untuk kek Retno dengan daging ikan yang sudah dipisan dari tulang nya. Lalu dia lanjut menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri, ketiganya mulai makan di atas karpet dengan nasi di alaskan oleh kertas nasi.
Perut ketiganya akhirnya terisi penuh setelah satu suapan nasi terakhir disuapkan. Kek Retno meminun air, lalu dengan kesusahan berdiri dan mencuci tangan di belakang rumahnya. Dekka mengikuti, membiarkan Bertan yang masih menyusun kembali rantang. Ketiganya akhirnya kembali ke ruangan tadi setelah lima menit kemudian.
"Dekka, bagaimana rasanya melihat mereka?" tanya Kek Retno tiba-tiba. Dekka terkejut, sementara Bertan menatap ke arah Dekka. Bagaimana Kek Retno tau bahwa dia bisa melihat 'mereka' dan apakah itu hanya ucapan spontan?
"Kek, bagaimana kakek tau saya bisa melihat mereka?"
"Um, biasa saja kek. Lagipula saya sudah lama tak melihat 'mereka' lagi." Dekka menjawab, dan Kek Retno hanya mengangguk saja. Bertan menatap Dekka penuh tanda tanya, Dekka mengisyaratkan untuk diam pada Bertan. Tolong jangan bahas tentang dirinya dulu.
"Mau dengar pengalaman kakek?" tawar Kek Retno yang tentu saja di angguki oleh Dekka. Ini yang dia tunggu-tunggu, setidaknya bisa dia jadikan lanjutan dari ceritanya nanti. Kek Retno tersenyum, laku mengangguk, mulai membuka mulut untuk bercerita.
Hari itu, di tahun 1970 an kakek Retno yang baru berusia 40 tahunan saat itu melemparkan kail pancingnya ke sungai. Suara hewan-hewan kecil mulai terdengar di iringi oleh suara air sungai yang mengalir. Cuaca saat itu sudah sedikit gelap, mengingat kakek Retno saat itu memancing sengaja di senja hari. Cacing-cacing yang dia gunakan sebagai umpan menggeliat di plastik yang dia gunakan, berusaha kabur dari dalam kurungan.
Cukup lama, pancing itu akhirnya berkedut dalam air menandakan sesuatu telah memakan umpan. Pancingan itu di angkat, dan sebuah ikan yang berukuran sedang naik ke permukaan. Kek Retno tersenyum senang, melemparkan pancingan kedua.
__ADS_1
Sama seperti yang dirasakan oleh Dekka, kek Retno juga merasakan perubahan hawa di sekitarnya. Dia menoleh ke kanan, kiri dan belakang tidak ada apa-apa di sekitar sana. Namun semua berbeda saat dia menoleh ke arah depan kembali, di seberang sungai sana. Tepat di depan Kek Retno, sebuah sosok besar berbulu berdiri di antara dua pohon. Besarnya hampir menyamai pepohonan itu, mata merahnya menatap ke arah Kek Retno.
Kek Retno bergidik, segera dia membereskan perlengkapan memancingnya dan beranjak pergi. Apakah cerita Kek Retno selesai sampai disana? Jawabannya tidak, karena di sepaniang perjalanan menuju rumahnya hawa tetap sama seperti di sungai. Kek Retno tidak memedulikan hal itu, dia tetap berjalan cepat agar sampai di rumahnya. Dan sesuatu terlihat aneh di sekitarnya kemudian, dia sudah berjalan lama dan hanya hal itu saja yang dia lihat.
Cuaca semakin sejuk dengan pandangan yang semakin minim karena hari sudah gelap. Kek Retno mulai menyadari sesuatu, dia sedang di kerjai. Dia menoleh ke belakang, sosok besar itu berdiri disana, masih menatap ke arahnya dengan mata merah menyala itu. Kek Retno saling bersitatap dengan sosok itu, dan tak lama kemudian sesuatu yang menakutkan kembali terjadi.
Di belakang sosok besar itu, ada puluhan sosok lain yang juga melihat ke arahnya. Ada satu yang menarik perhatian Kek Retno, membuat buku kuduknya berdiri. Sosok itu di baluti oleh kain kafan di seluruh tubuhnya, darah dan tanah mengotori kain kafannya. Wajahnya hancur berantakan, dengan belatung yang keluar dari ketujuh lubang wajahnya. Hal itu membuat Kek Retno mematung, kaku tubuhnya tak bisa digerakkan. Sosok yang ia yakini pocong itu mendekat ke arahnya, dalam hati kek Retno hanya bisa berdoa agar dia segera kembali ke asalnya.
Kembali ke saat ini, Dekka menahab napas mendengar hal itu. Ternyata dia cukup beruntung tak seperti Kek Retno yang dibawa ke alam mereka. Merinding bulu kuduknya dibuat oleh cerita Kek Retno. Berbeda dengan Dekka, Bertan malah semakin penasaran dengan kelanjutannya.
"Terus lanjutannya gimana kek?" tanya Bertan.
"Kakek keluar dari alam mereka, lalu pulang. Apalagi?" balas Kek Retno yang membuat Bertan kecewa. Dekka tak percaya, tidak mungkin semudah itu kek Retno bisa keluar semudah itu.
"Kau sudah bertemu dengan salah satu dari mereka kan?" tanga Kek Retno pada Dekka. Dekka membalas dengan anggukan, dia sudah bertemu dengan satu sosoknya.
"Kau memang ditakdirkan untuk ini," guman Kek Retno yang masih bisa di dengar oleh Dekka. Ingin dia bertanya lebih lanjut, namun hari sudah semakin gelap membuatnya mengurungkan niat bertanya dan memutuskan untuk kembali pulang.
__ADS_1