
Dua hari berlalu sejak kejadian itu, entah kenapa sebuah keberanian membuncah dalam diri Dekka tiba-tiba. Dia tidak lagi mematung jika melihat sosok, hanya saja perasaan takut itu tak bisa ia hindari. Seperti sekarang, dia baru saja datang setelah dari kota untuk membeli beberapa perlengkapan yang ia perlukan dengan Bertan. Seolah mengerti, Bertan juga hanya diam melihat Dekka yang menatap lurus ke arah salah satu pohon besar di samping rumah mereka.
Semua barang mereka sudah masukkan, dan ketika Dekka ingin memasukkan sekardus pop mie yang baru saja dia beli, langkah nya tiba-tiba terhenti. Hari memang sudah gelap, bahkan rumah-rumah warga tak lagi terdengar suara dan hanya mereka berdua yang berkegiatan. Samar Dekka lihat di bawah rindang pohon dengan remang-remang lampu jalan menerangi. Sosok dengan rambut panjang ada disana, baju putih nya menyentuh tanah.
Tapi merunut Dekka ada yang aneh dari sosok itu, rambut dan pakaian yang dikenakan sepertinya basah entah mengapa. Bertan mengikuti arah pandang Dekka, dia tak bisa melihat apapun sejauh ini tapi dia bisa merasakan ada kehadiran sosok lain di sana. Lama Dekka hanya diam, sebelum akhirnya Dekka membuka mulut untuk berkata.
"Ada apa? Sepertinya saya tidak pernah mencari masalah dengan kamu, bahkan saya tidak mengenal kamu."
Lama kembali Dekka terdiam, sampai akhirnya dia berdecak dan pergi meninggalkan Bertan yang masih kebingungan. Sosok yang tadi dia tanyai tidak menanggapi, atau entah dia yang memang tak mengerti cara berkomunikasi dengan mereka. Bertan mengikuti di belakang dengan membawa sekardus mie yang sebelumnya ingin Dekka ambil.
"Siapa tadi, Dekka?" tanya nya penasaran. Dekka mengangkat bahu acuh, toh dia memang tidak tau siapa sosok itu sebenarnya. Sepertinya Kek retno salah paham akan kemampuannya, karena memang sedrai dulu Dekka tidak pernah bisa berkomunikasi secara langsung dengan mereka. Hanya suara tawa dan tangisan yang bisa dia dengar, dan tidak dengan yang lainnya.
"Gak bisa lo jelasin ciri-cirinya gitu?" tanya Bertan lagi.
"Rambutnya panjang, pakaiannya juga panjang warna putih. Rambutnya hampir nutupin wajah, seperti lainnya wajahnya pucat." Dekka menjelaskan singkat dan malas-malasan, mereka masih memutuskan untuk tidur bersama. Bertan tampak berpikir, satu mahluk yang sering ada di film horor terlintas di pikirannya.
"Kunti?"
"Mungkin, tapi rambut dan pakaiannya basah," ucap Dekka lagi.
__ADS_1
"Kuntilanak basah." Seru Bertan yang membuat Dekka tertawa, Bertan juga ikut tertawa dan akhirnya di hari itu mereka tertawa bersama. Sungguh tebakan yang tidak bisa Dekka pikirkan tapi masuk akal untuknya. Dan setelah tawa itu mereda, Bertan masih tampak berpikir.
"Apa jangan-jangan di sungai ada penunggunya ya?" tanya Bertan. Dekka mengangkat bahu acuh, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Ketimbang memikirkan hal itu, dia lebih memilih memejamkan mata dan tidur membelakangi Bertan. Tubuhnya sudah lelah seharian ini diajak bekerja, jadi dia ingin istirahat sekarag. Dan Bertan yang tak mendapat tanggapan dari lawan bicaranya pun hanya bisa ikut memejamkan mata. Keduanya mulai terlelap, hingga keesokan harinya matahari terbit.
Bertan dibuat heran, entah angin apa yang membuat Dekka yang awalnya menolak untuk memancing lagi kini malah memaksanya memancing bahkan saat mereka baru saja selesai sarapan. Mereka berdua bahkan belum ada yang mandi, tapi yang lebih tua sudah menarik paksa dirinya mengambil pancingan. Dan disinilah mereka berada sekarang, sungai besar dengan air yang masih terbilang rendah.
Kurang lebih sudah 30 menit mereka disana, dan baru satu ikan yang mereka dapatkan. Ketimbang fokus dnegan pancingannya, Dekka malah fokus memandang ke sekeliling seolah mencari sesuatu yang tak bisa dilihat olehnya. Bertan tak lagi heran, karena setelah dia mengetahui bahwa Dekka itu istimewa dia menjadi terbiasa dengan Dekka yang tiba-tiba mematung dan mengeluarkan keringat dingin.
Pancing yang di tarik, membuat Dekka kembali fokus dengan tujuan awalnya. Satu ikan lagi mereka dapatkan dan Dekka tersenyum puas. Dia mengajak Bertan berdiri, pergi dari sana untuk segera mengolah ikan itu seperti sebelumnya. Ada alasan mengapa Dekka ingin memancing, dia ingin mencari tau lebih jelas tentang berkomunikasi dengan 'mereka' dari Kek Retno. Karena malu hanya datang untuk bertamu, itu sebabnya dia memancing sembari memastikan apakah sosok-sosok yang sebelumnya dia lihat ada disana atau tidak.
"Habis ini kita ke rumah Kek Retno ya, gue mau nanya sesuatu sama beliau."
Dan benar saja, akrena saat jam makan siang mereka segera menuju rumah Kek Retno dan makan siang bersama seperti sebelumnya. Kek Retno yang melihat gelagap aneh dari Dekka hanya tersenyum, dia kurang lebih tau maksud kedatangan Dekka kesana. Dia melihat jelas dari mimik wajah pemuda itu.
"Bertemu dengan siapa lagi, Dekka?" tanya Kek Retno.
"Kuntilanak basah, Kek."
Bukan Dekka yang menjawab namun Bertan yang langsung mendapat sikutan di tangannya dari Dekka. Kek Retno tertawa, lalu menatap Dekka yang dengan ragu-ragu menganggukkan kepala. Kek Retno ikut mengangguk dibuatnya.
__ADS_1
"Tidak ditanya maksudnya apa?" tanya Kek Retno, Dekka menggeleng.
"Itu alasan saya kesini Kek, saya sudah berusaha berkomunikasi dengan mereka tapi tetap saja tidak bisa. Kayaknya kakek salah tentang saya yang bisa berkomunikasi dengan mereka," ucapnya jujur.
"Dekka, berkomunikasi dengan mereka bukan hanya membutuhkan suara. Kamu perlu tenang dan banr-benar menghilangkan rasa takutmu, baru kamu bisa berkomunikasi dengan mereka," jawab Kek Retno. Dekka menganggaruk tengkuknya, menatap dengan tatapan malu ke arah Kek Retno yang seolah tau dia masih takut.
"Cobalah, Dekka. Kemampuan mu lebih dari yang kamu kira," ucap Kek Retno lagi.
"Tapi gue penasaran, lo yang awalnya bilang gak mau berurusan sama mereka kenapa tiba-tiba malah pengen komunikasi sama mereka?" tanya Bertan yang sedari tadi meyimak.
"Tatapan sosok kemarin yang ngeganggu gue, bahkan gue sampai mimpiin sosok itu mau bilang sesuatu tapi gue tetep aja gak bisa denger," ucap Dekka.
"Maka dari itu, kamu bisa mengungkap hal yang menjadi misteri Dekka. Siapa tau kamu menjadi seorang yang dipercaya dan dihormati suatu saat nanti," ucap Kek Retno.
"Hanya perlu keberanian dan ketenangan."
"Dekka akan coba kek, setidaknya untuk membuktikan bahwa hal yang kakek katakan tentang kemampuan Delkka itu salah. Dekka bukan orang yang spesial seperti kakek yang tau banyak tentang mereka."
Dekka menantang, dia masih tak percaya dengan semua yang Kek Retno katakan. Kek Retno hanya membalas dengan anggukan seolah menerima tantangan dari Dekka, dia masih yakin bahwa kehadiran Dekka ke Desa Seberang adalah garis takdir yang harus pemuda itu jalani. Karena setelah sekian lama, akhirnya muncul generasi muda yang mempunyai kemampuan seperti itu di Desa Seberang.
__ADS_1