
Cerita ini berlatar tahun 1970-an tahun silam, saat Kel Retno masih berumur belasan tahun. Kala itu, ada hal yang menjadi buah bibir di Desa Seberang, seluruh penjuru Desa sudah mengetahyi hal itu, dari ujung utara ke selatan dan dari ujung barat ke timur. Entah siapa yang pertama kali menyebarkan, yang Kek Retno ingat saat itu semua penduduk Desa Seberang membicarakan hal itu.
Kala itu ada seorang perempuan tua yang menjadi pemeran utama dari buah bibir. Nek Suri, itu namanya. Perempuan tua yang ditinggal sang suami meninggal saat satu hari setelah mereka menikah, begitu katanya. Nek Suri tinggal di pojok desa, dan setelah suaminya meninggal Nek Suri tidak menikah kembali sehingga dia tidak mempunyai anak. Dan sampai saat akhir hayatnya dia hanya sendiri di rumh itu.
Yang menjadi buah bibir adalah tentang ilmu gaib yang katanya di miliku oleh Nek Suri. Banyak warga yang percaya bahwa kematian dari suami Nek Suri adalah tumbal yang dilakukan oleh Nek Suri sendiri untuk memperkuat ilmunya. Kek Retno kala itu belum terlalu mengerti, tentang perihal apa yang sebenarnya Nek Suri alami.
Memang sedari dulu, Kek Retno dapat melihat beberapa sosok mengikuti di belakang Nek Suri. Itu juga yang menyebabkan Kek Retno enggan mendekat, di tambah gosip-gosip yang semakin mencar di kalangan warga. Awalnya memang tidak ada masalah, hanya kabar yang beredar tanpa bukti pasti di dalamnya.
Tapi semakin lama, semakin sering terjadi hal aneh di Desa itu. Salah satunya adalah saat seorang warga menerima makanan dari Nek Suri. Orang itu tak percaya akan desas desus yang beredar, maka dengan segala kepolosannya dia menerima makanan yang Nek Suri berikan. Para warga sudah memperingati, namun dia tetap tidak peduli, maka di saat itu sehari setelah Nek Suri memberi makanan sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Gadis yang menerima makanan dari Nek Suri secara mengejutkan meninggal dunia satu hari kemudian. Tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi, namun para penduduk yakin kematian gadis itu pastilah ulah dari Nek Seri. Sehingga di hari itu, banyak orang yang semakin menjauhi Nek Suri, tidak ada yang berani untuk sekedar bertatap muka dengan wanita tua itu.
__ADS_1
Tapi kejadian mengerikan tak berhenti sampai sana, karena beberapa hari kemudian mulai ada korban lagi. Meninggal nya seorang anak setelah hanya melewati rumah Nek Suri, setelah itu ada korban lagi yang kala itu memprotes Nek suri. Hari berikutnya ada lagi korban setelah Nek Suri memperingati wanita yang terus menggunjing tentang dirinya yang tak sengaja di dengar. Semakin lama, desas desus itu semakin besar, bahkan Nek Suri yang diceritakan bisa merubah dirinya menjadi makhluk yang dia inginkan.
Kala itupun Kek Retno juga sama seperti mereka yang lainnya, mereka tak ada yang berani mengusik lagi Nek Suri. Sampai puncaknya, anak sang kepala desa meninggal setelah meminta minum pada Nek Suri. Kala itu kepala desa sangat terpukul, hinggalah dia mengumpulkan semua warga dirumahnya. Strategi balas dendam terhadapNek Suri dilakukan, kala itu Kek Retno dan anak-anak lain tidak diperbolehkan keluar rumah. Tapi kek Retno dan teman-temannya memang pada dasarnya bebal, sehingga mereka masih saja mengikuti dari belakang diam-diam.
Dibawah penerangan yang masih minim kala itu, berbekal obor dan satu botol minyak tanah malam harinya para warga berbondong-bondong menuju rumah Nek Suri. Kek Retno menahan napasnya, seolah tau apa yang akan terjadi. Dan benar saja, sedetik kemudian obor-obor itu mulai dilemparkan ke rumah Nek Suri, ditambah dengan sebotol minyak tanah yang menambah besar api. Rumah yang masih terbuat dari kayu itu terbakar hebat saat itu juga, terdengar teriakan lirih kesakitan Nek suri dari dalam.
Lalu keesokan harinya, tanah sudah basah oleh air hujan. Kebakaran hebat malam itu mati karena hujan, para warga kembali menuju rumah Nek Suri yang hanya tertinggal beberapa kayu yang belum terbakar sepenuhnya dan abu. Di tengah sisa bangunan itu, mayat Nek Suri berasa, tubuhnya mengeluarkan bau gosong menyengat namun para warga tidak peduli. Dan seolah tak terjadi sesuatu, mereka menguburkan mayat Nek Suri seadanya jauh masuk ke hutan untuk menghindari petaka lanjutan. Tempat itu kemudian di doakan selama tiga hari tiga malam, dan setelah itu tak ada lagi yang mengungkap tentang kematian Nek Suri.
"Kamu harus lawan mereka, jangan kalah kalau kamu tidak ingin terus seperti ini. Pasti ada alasan mengapa Nek Suri tiba-tiba menampakkan diri di hadapanmu. Hati-hati Dekka, tempat ini tidak seaman itu untuk orang dengan kemampuan seperti mu. Dan untuk dua sosok lainnya, mereka penunggu hutan seberang sungai, mungkin mereka tertarik karena kemampuan mu. Aura mu berbeda dari ornag-orang desa lainnya, jadi jangan kaget jika kedepannya kau mendapat banyak gangguan dari mereka."
"Tapi, ibu mengatakan kepada saya bahwa saya tidak akan melihat salah satu dari mereka lagi, lalu mengapa tiba-tiba saya bisa melihat mereka lagi? Saya memang sesekali merasakan perbedaan hawa dulu, tapi tidak pernah melihat langsung, sudah lama sekali," kata Dekka.
__ADS_1
"Itu takdir mu Dekka, takdir yang harus kamu jalani dan tidak bisa kamu hindari. Sudahlah Kakek mau pulang, ingin beristirahat." Kek Retno bangkit, dia berjalan tertatih dan berhenti lagi di depan pintu kamar Dekka sebelum berbalik badan dan kembali berkata satu kalimat yang menjadi tanda tanya untuk Dekka.
"Takdir mu datang ke tempat ini, termasuk dengan apa yang akan dihadapi nanti."
Dan karena hal itu juga kedua pemuda itu memutuskan untuk tidur bersama malam itu. Bertan tak ingin hal serupa terjadi dan Dekka kembali jatuh sakit. Dan malam harinya keduanya terjaga, tak bisa memejamkan mata karena riang suara tawa anak kecil mengganggu indra pendengaran mereka. Semakin lama suara itu semakin keras, lalu kemudian menghilang begitu saja. Namun kali ini bau gosong menyengat indra penciuman, Bertan reflek duduk begitu juga dengan Dekka. Sial mereka baru saja membicarakan hal ini tadi.
Bertan bangkit, memaksa Dekka untuk ikut dengannya memeriksa, siapa tau memang ada kebakaran yang terjadi dan bukan karena sosok Nek Suri. Mau tak mau Dekka mengikuti, sampai bau itu semakin menyengat di pintu belakang, dan ketika pintu itu terbuka bau itu semakin menusuk. Dekka menghentikan langkah, kala netranya sudah menangkap sosok itu di depan matanya.
"Nek Suri, masih dengan rupa menyeramkan menyeringai ke arah Dekka yang diam. Kali ini entah karena bersama Bertan atau karena sudah bertemu sebelumnya, dia tak setakut sebelumnya. Tangan dan kakinya pun bisa digerakkan, lidahnya tak kelu untuk berucap. Sosok itu juga hanya diam, tak bergerak dan hanya memandang ke arah Dekka maupun Bertan. Sedangkan Bertan hanya diam saat melihat Dekka hanya diam, ingin bertanya namun ia urungkan setelah Dekka mengatakan satu kalimat.
"Pergi dari sini, jangan mengangangguku maupun saudara ku. Kami tidak ada urusan apapun dengan mu."
__ADS_1