DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 5 - Malam Mencekam


__ADS_3

Hari itu, setelah pulang dari rumah Kek Retno, Dekka belum juga bisa memejamkan matanya untun tidur. Suara kehidupan tak terdengar di mana-mana, hanya hewan malam yang saling bersahutan mengisi sunyinya malam. Dekka membalikkan badannya berulang kali, berusaha mencari posisi yang nyaman untuk nya tidur. Namun seberapa keraspun dia berusaha, itu semua tetap saja percuma.


Di tengah kegundahan yang Dekka rasakan, dia dibuat heran dengan suara decitan pintu yang berasal dari sebelah kamarnya. Dia mengerutkan kening, memutuskan untuk mendudukkan diri dan tetap berada di atas kasur. Tak ada suara apapun setelah ya, tidak ada langkah kaki atau suara lainnya. Dekka mengedikkan bahu, mungkin itu hanya suara pintu yang tertiup angin.


Belum selesai kebingungan nya akan hal itu, dia kembali dibuat duduk tatkala mendengar suara barang terlempar dari arah dapur. Dekka terjingkit kaget, sedikit kesal dengan peristiwa itu. Sepertinya Bertan sedang ingin membuat sesuatu untuk dirinya dan malah menjatuhkan salah satu barang yang ada di dapur. Dengan kesal Dekka bangkit dari kasur, beranjak pergi ke dapur hendak memarahi Bertan yang membuat keributan.


Kembali dia dibuat terkejut, kakinya yang awalnya melangkah tegas kini berhenti. Kondisi dapur masih elok, hanya saja sebuah wajan yang seharusnya berada di bawah meja itu kini berada jauh di depan pintu. Tapi bukan itu yang membuat Dekka kaget, daput itu sepi tidak ada siapapun disana selain dirinya. Dan pintu kamar Bertan masih tertutup rapat, Dekka baru mengingat sesuatu hal. Bertan selalu mengunci pintunya selama tidur, itu yang dia tangkap dua hari tinggal bersama. Berarti pintu yang tadi terbuka bukanlah pintu kanar Dekka tapi pintu depan.


Dekka ingin melangkah, menutup pintu yang terbuka lebar itu, tapi sayang sosok itu seolah menghalangi pergerakannya. Dekka seakan selalu dibuat terpaku setiap sosok 'mereka' hadir di depannya. Sosok itu menatapnya dengan sorot mata menyeramkan, belum lagi bibir menyeringai yang sosok itu berikan padanya.


Rambut putih itu menjuntai panjang ke bawah, pakaian yang soso itu kenakan bak sebuah pakaian tradisional. Lama Dekka bersitatap dengan sosok itu, tak bisa ia menggerakkan tubuhnya yang sudah kaku. Dia bak patung bernapas, yang hanya bisa diam menatap semua hal mengerikan yang sosok itu lakukan. Tak lama kemudian sosok itu perlahan memudar, membuat tubuh yang awalnya mematung itu kembali bisa bergerak. Tubuh Dekka melemas seketika, peluh dingin membasahi dahinya yang tertutup oleh rambut.


Tubuhnya meluruh, bersimpuh di lantai dingin dapur itu. Lama dia menenangkan diri, membiarkan tubuhnya kembali mengumpulkan tenaga untuk masuk ke kamar. Sudah lama Dekka tidak pernah setakut ini, bahkan dia lupa kapan terakhir kali dia merasakan takut. Namun sosok tadi dan sosok genderuwo yang dia lihat memicu kembali rasa takut itu. Dan Dekka menyadari satu hal, sosok yang tadi dia lihat merupakan sosok yang sama dengan yang mengintip kala itu. Kurang lebih mirip, namun bagaimana bisa?


Tak ingin berlama-lama ada di sana, Dekka akhirnya bangkit untuk kembali ke kamarnya. Langkahnya lemas, peluh masih sesekali menetes walau tak separah sebelumnya. Dia kembali merebahkan diri di kasur, memejamkan mata sembari terus berdoa dan berusaha melupakan apa yang baru saja dia lihat.

__ADS_1


Namun sepertinya dia memang tidak dibiarkan untuk tenang, karena tak lama setelahnya dia kembali mendengar sesuatu yang mengherankan. Suara benda membentur sesuatu terdengar dari kamarnya, suaranya begitu keras membuat Dekka penasaran. Mengingat kejadian sebelumnya, ia urungkan sejenak niatnya. Sampai suara itu semakin keras dan akhirnya memancing kembali rasa penasarannya. Mengalahkan rasa takut yang sempat hadir, Dekka kembali menunaikan rasa penasarannya.


Bangkitlah ia, dan kemudian dia tau itu adalah keputusan yang salah. Disana, di salah satu pohon kelapa besar itu, sesosok dengan kain kafan yang menutupi seluruh tubuhnya, sosok yang sering di sebut pocong itu membenturkan kepalanya berulang kali ke pohon. Dekka menatap sosok itu, kali ini tubuhnya tidak kaku, mungkin karena mereka tidak saling pandang.


Namun itu hanya berjalan sebentar, karena Dekka akhirnya memilih untuk kembali tidur sebelum sosok itu menyadari kehadirannya. Bak sebuah kesialan yang datang bertubi, suara benturan itu semakin keras terdengar. Dekka menyembunyikan diri di balik selimut, dia tau sosok itu sekarang membenturkan kepalanya ke kaca kamarnya. Segala doa dia rapalkan, menenangkan pikiran dari semua hal itu.


"Dekka."


Lirihan itu menganggunya, membuat fokusnya terganggu. Dia tidak mengenal suara yang memanggilnya, namun dia tau itu memanggil namanya. Kemungkinan besar itu adalah salah satu dari 'mereka' yang ingin menarik perhatian nya. Dekka tak berani keluar dari selimut, dan kemudian setelah itu tak ada suara apapun lagi yang terdengar. Hingga akhirnya Dekka membuka selimutnya, tepat di depan matanya sosok itu berdiri di sampingnya dengan wajah yang benar-benar dicondongkan ke arahnya. Bisa Dekka liat dengan jelas sosok itu dan saat itulah kemudian Dekka tidak bisa mengingat apapun lagi.


"Kenapa bisa demam, Dekka?" tanya Bertan saat Dekka mulai sadar. Dekka hanya menggeleng, enggan rasanya dia menjelaskan sekarang. Dia ingin duduk, dan Bertan yang peka akhirnya membantu dengan senang hati. Dia menatap ke samping, ke arah jendela yang semalam sosok itu membenturkan kepala. Perlahan tangannya terangkat, menunjuk ke arah jendela yang bersih tanpa noda itu.


"Lo sempet bersihin jendela?" tanya Dekna lirih. Bertan menggeleng, dia hanya akan sesekali membersihkan jendela ketika ingin. Dia tidak serajin itu untuk berberes rumah. Dekka nampak menahan napas, ada sesuatu yang tak beres pasti Dekka lihat semalam.


"Kemarin lo liat sesuatu ya?" tanya Bertan.

__ADS_1


"Lo tau?" tanya Dekka. Bertan menggeleng awalnya, namun mengangguk kemudian. Dekka tentu saja keheranan, kepalanya masih pusing dan Bertan malah menambah beban pikirannya dengan jawaban tak pasti itu.


"Awalnya gue gak tau kalau lo bisa liat mereka, tapi Kek Retno udah jelasin sama gue tadi. Beliau tempat kesini, dan sekarang lagi makan gue juga udah beliin bubur buat lo. Pembicaraan ini tunda dulu sampai lo makan, baru gue lanjut sekalian sama Kek Retno biar lebih jelas."


Mendengar hal itu, satu mangkok kecil bubur itu Dekka makan dengan paksa. Lidahnya terasa pahit, ternggorokannya terasa panas untuk menelan. Dan setelah suapan tetakhir, Bertan tersenyum puas dan tepat saat itu Kek Retno memasuki kamar Dekka. Kakek tua itu duduk di kasur Dekka, sedikit kesusuahan mengingat dia sudah berumur.


"Apa yang kamu lihat kemarin Dekka?"


Sungguh Dekka dibuat kelu, omongan Kek Retno kepalang to the point. Padahal dia mengira Kek Retno akan berbasa basi terlebih dahulu sebelum ke inti pertanyaan. Keduanya menunggu jawaban, menatap serius ke arah Dekka.


"Pocong yang kakek ceritakan kala itu, Dekka rasa Dekka melihat sosok yang sama kemarin. Dia membenturkan kepalanya ke kaca itu, Dekka yakin. Satu lagi, seorang nenek-nenek berdiri di depan pintu rumah. Dekka gak tau gimana pintu itu bisa terbuka, yang Dekka tau sosok itu sudah berdiri disana." Kek Retno terlihat menghela napas, begitu pula dengan Bertan.


"Dekka dengerin gue, kalau lo denger suara aneh jangan di bawa penasaran. Gue emang gak bisa ngeliat mereka, tapi gue bisa ngerasain mereka di sekitar gue." Bertan berbicara.


"Lawan mereka Dekka, jangan kalah dengan mereka. Derajat kamu lebih tinggi dari mereka, ingat kata-kata kakek ini. Kamu bisa menang melawan mereka kalau kamu berani, bukan hanya melihat kamu bisa berkomunikasi dengan mereka, Dekka."

__ADS_1


__ADS_2