
Malam yang dingin dengan lebatnya hujan diluar, petik menyambar membuat tak satupun suara lain terdengar akibat geruduk yang dihasilkan. Bertan termenung di atas kursi sambil meyuapkan mie instan ke dalam mulutnya, tempe goreng pun tersaji di depannya. Dan tepat dihadapannya Dekka juga memakan mie miliknya, menikmati setiap suapan mie yang masuk ke dalam mulut mereka.
Gaya yang mereka lalukan sama, dengan salah satu kaki naik sebagai tumpuan tangan yang akan menyuapkan mie ke dalam mulut. Tempe goreng itu diambil sebagai lauk pelengkap, mereka berdua mendengarkan hal yang sama. Yaitu sebuah poscast yang menceritakan tentang kejadian horor beberapa orang yang dijadikan satu dalam satu chanel. Entah sejak kapan, mereka jadi menyukai acara horor seperti itu terutama untuk poscast.
Petir dan suara gemuruh di luar menambah sensasi horor, walau kadang mereka tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan. Kali ini mereka mendengarkan sebuah podcast tentang pendakian horor, Dekka yang memintanya. Anggukan Dekka berikan untuk menanggapi podcast yang sudah mencapai *******. Satu suapan terakhir masuk ke dalam mulutnya, dan Dekka akhirnya mengambil satu lagi tempe goreng untuk nya.
Satu tegukan air dia lakukan sambil terus mendengarkan cerita yang hampir usai, kemudian Bertan juga ikut meneguk air. Cerita itu berakhir dengan salah satu teman mereka yang akhirnya meninggal, sungguh kasihan nasibnya. Tempe goreng di atas piring tak lagi tersisa, semua ludes di makan oleh keduanya yang memang baru dapat beristirahat setelah seharian tadi berkeliling kota untuk mencar bibit jagung dan singkong.
Kemarin Bertan bercerita bahwa sebenarnya mereka memiliki warisan tanah perkebunan yang memang dibagi untuk mereka berdua. Dan Dekka menyarankan untuk menanami tanah itu dengan singkong dan jagung yang lumayan bisa digunakan untuk makanan sehari-hari atau dijual nantinya. Bertan hanya mengangguk menyetujui, toh Dekka lebih berpendidikan dari pada dirinya.
Belum juga mereka sempat mensurvei lokasi yang terletak lumayan jauh dari rumah, hujan sudah turun dan memaksa mereka untuk tetap tinggal disana. Bertan bangkit, mengikuti Dekka yang membawa piring kotor untuk di cuci di dapur. Disusunnya kembali piring-piring itu dalam rak, lalu mereka melanjutkan langkah untuk kambali ke ruang tamu.
"De, gimana kalau nanti ada sesuatu hal yang berkaitan dengan kejadian di Desa ini membuat salah satu dari kita meninggal?"
__ADS_1
Pertanyaan Bertan sontak membuat dekka menoleh kaget, apa-apaan dia bertanya dengan tiba-tiba seperti ini. Dekka mengangkat bahunya, dia tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Karena sebenarnya dia juga takut akan sesuatu yang nantinya akan terjadi pada mereka. Tapi sebisa mungkin dia sebagai kakak akan membuat suasana aman untuk mereka.
"Lo gak usah mikirin macem-macem, mending kita coba ke kamar kakek, lo bilang ada hal yang mau lo tunjukin kan?" tanya Dekka.
Bertan menepuk jidatnya, astaga dia melupakan hal itu. Dia akhirnya mengangguk lalu membawa Dekka pergi bersamanya menuju kamar kakek yang bersebelahan dengan kamar mereka. Ini juga kamar nenek dulunya, namun saat memeriksa beberapa minggu lalu Bertan melupakan suatu hal. Jadi barulah hari itu karena dia ingat, dia ingin menunjukkan nya pada Dekka.
"Dulu, kakek juga suka berkebun kata nenek. Jadi dia sering nyimpen beberapa tulisan tentang tips berkebun, mungkin lo ah kita maksudnya bisa belajar dari tulisan beliau. Di tambah, ada beberapa catatan kakek yang mungkin bisa lo liat," ucap Bertan.
Kamar milik kakek terbuka, debu itu masih sama terasa di indra penciuman mereka. Jelas karena tempat itu belum sempat mereka bereskan minggu sebelumnya. Bertan membuka salahs atu laci, mengeluarkan dua tumpukan buku yang berisi tentang catatan berkebun. Diserahkannya salah satu buku pada Dekka yang langsung dibuka. Benars aja, di dalamnya banyak tulisan tentang cara bercocok tanam di perkebunan. Sepertinya kakek dulu memang memiliki hobi berkebun.
'Banyak bahaya disini, itu karena mereka.'
Itu yang tertulis, Dekka akhirnya melanjutkan membalik halaman sampai akhirnya dia melihat tulisan-yulisan itu di halaman berikutnya. Banyak tulisan yang tak Dekka mengerti, namun beberapa bisa Dekka baca. Salah satunya tentang keturunan kakek yang menanggung masalah, juga tentang maaf yang kakek ucapkan pada keturunannya. Dekka mengerutkan kening, ingin membaca lebih lanjut namun halaman terakhir hanya kertas kosong tanpa tulisan.
__ADS_1
"Ini maksudnya apa?" tanya Dekka.
Bertan melihatnya, menampilkan tulisan yang tadi Dekka baca. Bertan juga sama terkejutnya, sebelumnya dia hanya melihat beberapa tulisan berupa potongan kertas yang entah dimana sekarang, namun ini baru dia lihat. Dia kemudian menyerahkan salah satu lagi buku kepada Dekka, menyuruh Dekka membaca buku itu juga. Mungkin saja ada juga yang aneh, karena Bertan sangat malas untuk membaca semua halaman.
Sama seperti sebelumnya, satu persatu halaman dibuka perlahan oleh Dekka, berulang kali membaca kalimat yang sama untuk memastikan ada yang aneh atau tidak. Buku yang kini dibacanya berisi tentang beberapa peristiwa yang pernah kakek lewati, seperti saat dia masih kanak-kanak dan juga saat terjadi perebutan wanita di Desa Seberang tempo dulu. Dekka terkekeh, merasa lucu dengan apa yang dibaca membuat Bertan ikut penasaran dan membaca hal yang sama.
Mereka berdua akhirnya membaca bersama, sampai pada salah satu lembar kosong sebuah foto jatuh. Dekka mengambil foto itu, melihat apa yang ada disana. Tubuhnya pun seketika menegang, bulu kudungnya berdiri dan dia merinding seketika. Napasnya dia tahan sejenak, astaga di dalam foto itu. Tiga pria yang ada di dalam foto itu, salah satunya pernah Dekka lihat dalam wujud lain sebelumnya. Tangannya terangkat, menunjuk salah satu orang dalam foto itu.
"Ini siapa?"
"Itu kakek bodoh, siapa lagi." Bertan menyahuti kesal.
Lagi Dekka terdiam, berarti sosok yang berarti selama ini hanya bisa dilihat olehnya adalah kakek? Lalu mengapa hanya dia yang melihat, dan mengapa kakek hanya memerhatikannya tanpa berkata apapun. Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Dekka semakin merasakan ada kejanggalan disini?
__ADS_1
"Sosok kakek-kakek yang gue liat ternyata kakek gue sendiri, Bertan."
"HAH"