
Duduk di ruang tamu dengan dua gelas kopi untuk masing-masing pria sudah tersedia. Sepiring gorengan yang juga tadi sempat dibeli pun sudah tersaji disana. Di sebuah bangku rotan yang masih layak di pakai, Dekka duduk berseberangan dengan Bertan. Lama menunggu, namun Bertan tak jua memulai pembicaraan, pria itu malah fokus dengan ponselnya sedari tadi entah mengapa.
"Kau sebenarnya mau ngomong apa sama aku?" tanya Dekka. Bertan menoleh, menyuruh menunggu dengan isyarat tangannya. Fokus kembali dengan ponselnya yang membuat Dekka geram, dia lebih baik beristirahat jika seperti ini. Dan lima menit kemudian, Bertan mulai meletakkan ponselnya, menatap serius ke arah Dekka yang tentu saja sudah penasaran akan pembicaraan mereka.
"Ini tentang nenek, kau tau kan kalau saat nenek meninggal tidak satupun darimu ataupun keluarga mu yang datang?" tanya Bertan. Dekka mengangguk, tentu saja saat itu dia sudah berumur 19 tahun jadi dia masih mengingat dengan jelas. Dan ibu mengatakan bahwa itu memang peringatan dari nenek untuk tidak datang kesana.
"Kau ingin tau apa yang terjadi pada nenek saat itu? Mengapa nenek yang masih sehat, tiba-tiba saja meninggal di malam hari?" tanya Bertan. Dekka mengangguk antusias, wajahnya terlihat serius mendengar Bertan yang juga tak kalah seriusnya. Bertan pun mulai menceritakan semuanya, kejadian yang ia tau saat sebelum sampai sang nenek meninggal.
Lima hari sebelum neneknya meninggal, sang nenek sempat pergi keluar Desa bersama tetangga lainnya untuk kegiatan para lansia. Di hari itu tidak ada yang aneh, sampai pada malam harinya wajah nenek tiba-tiba pucat. Saat itu Bertan mengira bahwa nenek sakit, tapi ternyata tidak karena saat itu nenek tidaklah demam. Bertan sempat bertanya, namun nenek enggan memberi jawaban yang jelas. Beliau hanya mengatakan bahwa beliau kelelahan setelah perjalanan jauh keluar desa, padahal itu adalah kegiatan rutin yang sering dilakukannya.
Keesokan harinya, nenek menjadi tambah aneh. Dia sering bergumam sendiri, tiba-tiba menyebut nama Dekka yang merupakan cucu sulungnya dan menggumamkan kata 'hidup' setelahnya. Bertan tak tau apa yang sebenarnya nenek lakukan, karena setiap dia bertanya nenek akan menyuruhnya untuk diam. Lalu kemudian, di suatu hari nenek mengajaknya untuk berbicara. Kembali menyebut nama Dekka dalam pembicaraan itu, membuat Bertan semakin bertanya-tanya.
"Kamu ingat dengan keluarga paman? Ingat dengan Dekka saudara mu?" tanya Nenek saat itu. Bertan tentu saja mengangguk, mengapa dia melupakan mereka, pikirnya saat itu. Nenek mengangguk, diam sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimat.
__ADS_1
"Jika nenek mati nanti, jangan pernah biarkan mereka terutama Dekka untuk datang kesini. Katakan pada mereka bahwa ini adalah perintah dari diriku sendiri. Aku juga akan menuliskan pesan untuk mereka sebelum aku mati."
Itu yang nenek katakan saat itu, dan keesokan harinya nenek benar-benar menulis surat. Langsung menyuruh Bertan untuk mengirim segera surat itu. Dekka tidak tau menahu tentang hal itu sebelumnya, maka saat nenek meninggal sampai di makamkan dia baru mengetahuinya. Dan sehari setelah itu, nenek tiba-tiba mengejang, tubuhnya dingin dan kemudian nenek meninggal. Semua terjadi secara tiba-tiba, Bertan bahkan belum bisa mencerna semuanya. Dan malam itu rumahnya ramai, banyak warga yang terlihat ketakutan melihat mayat nenek yang matanya masih terbuka dengan tubuh kakunya.
Kembali ke masa kini, ruang tamu dengan kursi rotan itu telah menjadi saksi nenek menulis surat. Dekka menahan napasnya, dan Bertan menghela napasnya. Sampai saat ini pun masih teringat jelas bagaimana nenek mengejang saat itu.
"Lalu mengapa aku tidak diperbolehkan untuk datang ke pemakaman nenek?" tanya Dekka.
"Aku juga tidak tau, nenek tidak menjelaskannya lebih lanjut tentang alasannya. Saat itu dia hanya mengatakan bahkan keluarha mu terutama kamu tidak bisa datang ke pemakaman nya. Apa alasannya aku juga tidak tau, hanya Tuhan dan nenek yang tau," jawab Bertan.
"Lupakan dulu perihal nenek, aku ingin mengatakan beberapa aturan di Desa Seberang ini yang harus kau patuhi. Setidaknya demi keselamatan mu sendiri, patuhilah semua aturannya." Dekka mengangguk.
"Pertama, jangan pernah mengeluarkan suara berisik di malam hari. Jangan sampai menganggu tetangga dan yang lain, lalu jangan pernah ke sungai ketika arus sedang deras. Jangan pernah keluar ketika sudah malam hari, jangan tidur terlalu larut itu yang terakhir." Bertan menjelaskan.
__ADS_1
Dekka sekali lagi mengangguk, menurutnya tidak ada yang aneh dengan semua larangan itu. Itu bahkan semua yang ingin dia dapatkan, tak ada keributan dan hanya akan ada ketenangan untuknya. Tapi mengapa sebuah desa menerapkan aturan seperti itu? Bukankah itu merupakan hal yang aneh?
"Ah satu lagi, ada beberapa tempat yang tak boleh kau kunjungi. Salah satunya bangunan kosong di samping sungai, dan kuburan tua di barat. Itu benar-benar tempat terlarang, jadi kau tidak boleh sama sekali pergi ke sana. Kau mengerti dengan semua itu kan?"
"Iya aku mengerti, tapi tidak ada larangan untuk aku menyentuh barang-barang di rumah ini kan? Misalnya aku tidak boleh menggunakan pisau, atau aku tidak boleh masuk ke kamar nenek?" tanya Dekka.
Kali ini Bertan yang mengerutkan keningnya, mengapa tiba-tiba Dekka menanyakan hal itu? Kemudian dia menggeleng sebagai jawaban, tidak ada pesan yang nenek tinggalkan tentang larangan itu. Dekka mengangguk pelan, menggumamkan sesuatu yang samar didengar oleh Bertan.
"Aku rasa ada sesuatu yang aneh."
"Bertan, aku akan kembali ke kamar. Aku sudah boleh pergi kan? Aku ingin istirahat, tubuhku lelah." Dekka berkata, dan Bertan mengangguk.
Di kamarnya Dekka masih memikirkan apa yang Bertan ucapkan tadi. Sebenarnya Dekka tidak mempersalahkan hal itu, aturan itu masuk akal menurutnya. Namun apa alasan neneknya? Mengapa keluarganya terlebih lagi dia tidak boleh datang ke pemakaman. Dan ada satu lagi hal yang menganggu Dekka, sosok yang melihat mereka sedari tadi di luar jendela. Dekka sebenarnya melihat nya dari tadi, tapi dia hanya diam menganggap bahwa itu hanya tetangga yang penasaran terhadap dirinya. Tapi belum selesai dia berbicara, bahkan hanya satu kedipan sosok itu menghilang.
__ADS_1
"Gak mungkin kan?" gumamnya. Masih diingat dalam benaknya bagaimana dia melihat 'mereka' dulu. Tapi dia sudah tidak bisa melihat 'mereka' lagi, tapi mengapa sosok tadi tetap saja menganggu pikirannya. Itu semua membuat kepalanya terasa pusing semakin dipikirkan.
Melupakan tentang hal itu, Dekka akhirnya melanjutkan kegiatannya. Membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya. Tubuhnya lelah, tapi dia harus menyelesaikan hal itu sebelum besok. Beruntunglah dia sudah menyelesaikan setengahnya, jadi dia hanya tinggal menyelesaikan setengah lagi.