
Setelah mengerjap beberapa kali, Dekka akhirnya bisa memfokuskan tatapannya pada cahaya yang masuk ke matanya. Dia menatap ke sekeliling lalu berhenti di arah Bertan yang menatap lega ke arahnya begitu juga dengan Kek Retno. Mereka menatap Dekka dengan tatapan heran sekaligus penasaran, sedangkan Dekka juga melayangkan tatapan yang sama.
"Kek Retno ngapain kesini?" tanyanya langsung yang dibalas oleh pukulan pelan dibahunya oleh Bertan. Pemuda itu mendelik, menatap tak suka ke arah Bertan yang seenak jidat memukulnya. Sedangkan Kek Retno hanya melihat sambil memakan salah satu pisang goreng yang tadi disuguhkan Bertan padanya. Lengkap dengan kopi hitam pahit kesukaannya.
"Gimana rasanya berpetualang?" tanya Kek Retno kemudian. Dekka mengerutkan kening heran, bahkan dia belum menceritakan hal itu dan Kek Retno sudah mengetahuinya. Apakah pria tua itu sebenarnya pelamar atau apa? Itu terlintas dalam pikirannya seorang.
"Kok kakek tau?" tanya Dekka.
"Mudah, setelah dengar cerita dari Bertan sudah pasti kamu diajak ke dunia mereka. Kamu sudah tak bangunin dari tadi tapi tak respon toh, sudah kayak orang mati. Padahal kamu tidak sedang sakit, makanya jawabannya pasti satu yaitu kamu diajak." Dekka mengut-mangut mengerti.
"Tadi gue panik gara-gara lo belum sadar, terus gue suruh Kek Retno kesini," lanjut Bertan. Sekali lagi Dekka hanya mengangguk, tenaganya bagai terkuras banyak padahal dia hanya tidur. Tubuhnya lemas dan malas untuk digerakkan. Dia menggelengkan kepada ke kanan dan ke kiri, memutar kepalanya untuk menghalau pegal yang dia rasakan.
"Capek toh?" tanya Kek Retno.
"Iya kek, padahal saya gak ngapain."
"Yo wajar, orang kamu barusan di ajak petualang semalaman. Lagian ini kali pertama kamu toh, makanya kamu ngerasa capek. Kata bapak saya dulu begitu," ucap Kek Retno sebagai jawaban. Dekka semakin tak mengerti, mengapa kata 'bapak' beliau. Bukannya beliau sendiri juga mempunyai kemampuan yang sama dengan dirinya?
"Kok kata bapak Kek Retno, emang Kakek gak pernah ngalamin?" Bertan bertanya mewakilkan pertanyaan yang ada dalam benak Dekka. Dekka mengagguk membenarkan seolah dia juga ingin mengetahui hal itu, Kek Retno menatap keduanya lalu menggeleng. Tentu saja hal itu semakin mengundang pertanyaan besar di benak keduanya.
__ADS_1
"Saya tidak sehebat itu, sudah-sudah kenapa jadi tanya-tanya tentang saya. Harusnya kamu yang jelasin apa yang tadi kamu lihat," balas pria tua itu. Dekka akhirnya baru mengingat kembali apa yang ia lihat semalam sebagai mimpi. Dia membenarkan posisinya untuk duduk, menatap ke arah dua lainnya dengan tatapan yang sangat serius.
"Kek, kenal dengan yang namanya Endah?"
Pertanyaan Dekka membuat Bertan menegang, dan Kek Retno hanya menghela napasnya sejenak lalu mengangguk. Kini Bertan juga ikut mengangguk, tentu saja siapa yang tak kenal dengan kembang desa itu, dia menjadi banyak incaran, Sayangnyadia sudah menghilang lima hari sebelum kepindahan Dekka kesana. Itu sebabnya mereka tidak pernah bertemu tatap, tapi bagaimana Dekka bisa mengetahui tentang Endah?
"Kok lo bisa tau pasal mbak Endah?" tanya Bertan.
"Kuntilanak basah semalem itu krmungkinan dia, soalnya itu yang gue liat semalem di mimpi. Dia hanyut di sungai setelah di seret sama laki-laki ke sungai waktu arusnya deras. Tapi gue gak tau siapa lelakinya, gue cuman tau perawakannya itupun gak terlalu jelas gue inget," ungkap Dekka.
"Yo pantes gak pulang-pulang, dikira kabur sama pacarnya ternyata hanyut toh." Kek Retno mengangguk mengerti, sedangkan Dekka mengerutkan kening heran. Bertan menatao Kek Retno yang mengodenya untuk menceritakan kejadian itu pada Dekka.
"Loh, kalau gitu kita harus bilang dong sama keluarganya kalau mbak Endah dibunuh," ucap Dekka. Bertan tergelak, sepertinya kehidupan kota benar-benar membuat Dekka melupakan desa. Tidak mungkin akan semudah itu untuk membuat mereka percaya, ditambah bagaimana Dekka yang baru pindah bisa tau, itu pasti akan menghadirkan tanda tanya.
"Gak bakal bisa, orang desa sini udah gak percaya gituan lagi. Lagian orang tua Mbak Endah udah ngenggepnya anak mereka kabur," ucap Bertan.
"Loh, seharusnya mereka bakalan nge cek kalau mayat itu beneran milik Mbak Endah. Gue gak mau tau lo harus bantuin gue, gue udah punya rencana."
Bertan mengerutkan kening sedangkan Dekka tersenyum penuh misteri. Lalu beberapa jam setelahnya desa itu digemparkan oleh penemuan jasad Endah yang tersangkut di salan satu aliran sungai bersama beberapa dahan kayu yang jatuh. Penemuan itu membuat seluruh warga desa geger dan mulai memunculkan banyak gosip. Ada yang bilang itu karma karena Endah sudah durhaka, ada juga yang benar menebak mengatakan Endah dibunuh orang.
__ADS_1
Yang pastinya orang tua Endah sangat terpukul dengan penemuan jasad Endah. Itu semua bermula setelah beberapa anak yang Dekka ajak memancing memancing cukup jauh ke arah jasad Endah. Bak sebuah keberuntungan tanpa diperintah mereka malah sudah mengerti maksud Dekka, salah satu anak kemudian kembali dan mengatakan bahwa mereka menemukan wanita disana. Dekka tersenyum penuh kemenangan lalu mengatakan pada anak-anak lainnya untuk pulang dan mengatakan hal itu pada kepala desa.
"Endah, kasian kamu nak pasti kedinginan disana."
Tangis pilu ibu Endah tersengar menyayat hati, dia terus menangis sambil memeluk jasad anaknya. Ayah Endahpun tak kuasa menahan tangisnya yang dibiarkan tumpah di samping Ibu Endah sembari menenangkan istrinya. Tapi ada satu orang yang menyita perhatian Dekka, seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka berdua dengan wajah tegang dan sedikit gerakan kaku menatap ke arah jasad Endah. Dekka langusng tersentak sadar, dia adalah lelaki yang dia lihat di dalam mimpinya.
Namun saat itu Dekka hanya diam, enggan mengatakan apapun sampai pemakaman Endah selesai dilakukan di malam harinya. Seperti biasa, dia dan Bertan akan tidur di kamar yang sama. Dan kali ini Dekka tidak ada niatan untuk begadang, dia sudah tau bahwa dirinya mampu. Jadi dia tidak akan mau berurusan lebih dengan 'mereka' yang tak juga seharusnya melibatkan dirinya.
"Lo liat cowok yang tadi diem aja selama pemakaman gak?" tanya Dekka pada Bertan. Yang ditanya mengerutkan kening heran, banyak lelaki yang hadir di pemakaman dan hampir semua dari mereka hanya diam. Termasuk mereka berdua, jadi Bertan tidak tau pasti yang mana yang Dekka maksudkan.
"Yang mana?"
"Yang tinggi putih, terus agak kumisan itu lo. Yang tadi sempet salaman sama orang tua Mbak Endah." Dekka menjelaskan.
"Oh itu orang yang dulu mau nikahin Mbak Endah tapi ditolak sama Mbak Endah, kenapa emang?" Dekka tersentak, dia kira itu adalah calon suami Endah tapi ternyata ini tak semudah itu. Dia menatap ke arah Bertan, kali ini tatapannya sangat serius.
"Dia orang yang gue liat di mimpi, orang yang udah nyeret dan ngedorong Mbak Endah kesungai," jelas Dekka.
"Udah, lo gak usah ikut campur lagi. Lo inget apa yang Kek Retno bilang tadi kan? Pelaku akan mengaku ketika dihantui rasa bersalah."
__ADS_1
"Kalau dihantui Mbak Endah juga."