
Malam pertama dilewati Dekka dengan tenang, tak seperti biasanya harus emosi terlebih dahulu sebelum tidur. Saat dia bangun keesokan harinya, dirinya merasa begitu segar, segera dia ke kamar mandi menunaikan bebiasaannya. Keluar dengan pakaian kaos polos dan celana panjang hitam dan rambutnyang masih basah. Bertan menunggunya di meja makan, dengan dua bungkusan yang belum terbuka di atas meja. Dekka mendekat, mendudukkan diri di samping Bertan dan memerhatikan bungkusan itu dengan seksama.
"Ini apa?" tanya Dekka penasaran. Bertan tersenyum, membuka bungkusan miliknya dan membuat aroma nikmat tersebar. Mata Dekka berbinar melihatnya, ternyata itu adalah nasi uduk salah satu makanan favoritnya. Segera dia buka bungkusan yang satunya, mengambil salah satu sendok dan garpu sebelum akhirnya berdoa dan mulai makan.
"Habis ini kita ke sungai, siapa tau dapet ikan buat makan malem. Gue udah gak tau lagi mau masak apa," ucap Bertan yang sedikit membuat Dekka kaget. Tumben sekali manusia di depan nya ini menggunakan bahasa informal kepadanya, biasanya dia akan bersikap sopan.
"iya, ngomong-ngomong tumben pake lo-gue? Biasanya juga formal banget ngomong sama gue, jadi agak aneh gue dengernya," ungkapnya. Bertan terkekeh mengangkay bahunya acuh lalu melanjutkan acara makannya. Dua bungkus nasibtelah ludes oleh keduanya, dan mereka sama-sama bangkit untuk mencuci piring dan sendok yang mereka gunakan.
"Enakan pakai tangan ternyata makan nasi uduk," ucap Bertan. Dekka terkekeh, benar katanya tadi dia malas mencuci tangan makanya dia memakai sendok. Padahal biasanya dia makan pakai tangan, kecuali makanan berkuah. Rasanya entah mengapa lebih nikmat jika menggunakan tangan sendiri sebagai sendok.
"Eh ngomong-ngomong, tetangga belum tau kalau gue mau pindah kesini terus tinggal sama lo ya? Kok kemarin ada yang liatin ya pas kita ngomong?" tanya Dekka sambil mengeringkan tangannya di lap bersih yang ada disana. Bertan mengerutkan keningnya, seingatnya tidak ada tetangga yang mengintip kemarin, lagipula mereka semua sudah tau bahwa Dekka akan pindah kesini sebelum Dekka datang.
"Gimana ciri-cirinya?" tanya Bertan.
"Gak inget, soalnya sebelum gue liat jelas orangnya udah ilang, seinget gue agak tua gitu."
Bertan mengangguk, sepertinya memang ada yang penasaran, dan mungkin saja itu adalah kakek di samping rumahnya. Tak ingin memikirkn itu lebih lanjut Bertan lebih memilih untuk mengedikkan bahu acuh membuat Dekka membuang napas kesal. Langkahnya dia bawa mengikuti langkah Bertan yang berjalan keluar rumah dan mulai memasuki bangunan lain yang lebih terlihat seperti gubuk. Disana mungkin dijadikan gudang, karena banyak sekali perkakas dan juga perlengkapan lainnya termasuk perlengkapan mancing.
__ADS_1
"Kita mancing sekarang? Yang udah mau tengah hari gini?" tanya Dekka pada Bertan yang dibalas anggukan oleh Bertan. Dekka kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal, namun kemudian dia tetap mengikuti apa yang Bertan lakukan mulai dari mengambil pancing hingga memakai topi yang sudah tergantung disana. Tak buruk, Dekka dan Bertan kemudian mulai melangkah menuju sungai. Banyak tetangga lain yang mereka lihat di perjalanan yang hanya disenyumi oleh Dekka sebagai bentuk sopan santun.
Brukk
Seseorang tak sengaja menabrak Dekka sehingga membuatnya oleng namun yang menabrak malahan yang terjatuh. Dekka mengulurkan tangan kanannya yang tak membawa pancingan ke arah anak laki-laki yang barusan menabraknya. Anak itu kelihatan bingung, namun setelah melihat Bertan yang berada bersama Dekka dia mulai menerima uluran tangan itu.
"Kak Bertan, kakak itu siapa?" tanya salah satu anak lainnya. Yang satu lagi mengangguk sedangkan yang tadi menabrak Dekka hanya diam sambil menepuk-nepuk bajunya yang sedikit kotor karena terkena debu di tanah. Bertan menatap Dekka, mengintrupsi sepupunya untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak itu.
"Nama kakak Dekka, saudaranya kak Bertan. Nama kalian siapa?" tanya Dekka ragu dengan senyuman canggung.. Yang menabraknya lebih dahulu menjawab, sembari langsung memperkenalkan kedua lainnya.
"Nama aku Tara, ini Langga dan yang itu namanya Demas," jawabnya dengan nada riang membuat senyum yang awalnya candu menjadi senyum tulus. Anak itu ternyata bisa bersikap ramah, bahkan mereka bertiga kini tersenyum lebar ke arahnya, berbeda dengan anak-anak yang ditemuinya di kota yang selalu melirik sinis ke arahnya tanpa sebab.
"Tadi kita main disana, tapi tadi disuruh pulang sama orang soalnya katanya disana ada hantu. Makanya kita lari, kalau kakak mau kemana?" tanya anak itu balik.
"Kakak mau mancing," Bertan menjawab.
"Ih jangan, disana itu banyak hantu tau kak. Nanti kakak liat, mukanya serem terus kata bapak hantunya juga suka ganggu," ucap Demas. Bertan terkekeh merasa lucu sedangkan Dekka agak menegang, tidak lucu jika dia melihat bangsa ,mereka, lagi. Tepukan pada bahunya membuatnya tersadar dari lamunan singkatnya, Dekka sedikit tersentak.
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa soalnya kakak dan kak Bertan berani. Kalian pulang mendingan ya, ini udah mau tengah hari nanti dicariin."
Ketiga anak itu mengangguk patuh atas omongan Dekka dan mulai pamit pergi ke mereka berdua. Sedangkan Bertan dan Dekka melanjutkan perjalanan mereka. Di jalan Dekka tak berhenti memikirkan omongan Demas tadi, kalimat itu terus terngiang di kepalanya bergantian dengan sosok yang kemarin dilihatnya memerhatikan mereka.
"Udah jangan dipikirin, mereka emang sering bilang gitu. Ibu sama bapak mereka emang sering nakutin anaknya biar enggak main di sungai, takutnya kebawa arus. Jadi lo gak perlu takut, masak udah dua puluhan masih kemakan omongan anak kecil," ucap Bertan sembari tertawa pelan. Sekali lagi Dekka hanya mengangguk, merutuki dirinya yang terlalu memikirkan ucapan anak-anak.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di pinggir sungai dan sekarang dekka tau alasan mengapa Bertan tetap memilih memancing di saat matahari bersinar terik di atas. Karena di sungai ini tumbuhan sangat rindah, bahkan di sepanjang perjalanan juga dipenuhi oleh tumbuhan yang menyejukkan. Udara di sungai sangatlah segar, dengan suara aliran air yang menenangkan dan suara-suara binatang yang saling bersahutan. Sungai itu terbilang cukup besar, namun saat ini aliran sungainya tak begitu deras sehingga cocok untuk memancing.
Mereka memulai memancing, dengan susu ayam yang sebelumnya sudah disediakan oleh Bertan. Satu pancingan milik Dekka berkedut, dengan senang hati sang empu menarik pancingnya, seekor ikan yang berukuran cukup besar ikut terbawa naik yang membuat Bertan dan Dekka dnegan kompak bersorak riang. Tak lama kemudian umpan dari Bertan juga ikut membawa naik ikan, membuat mereka semakin gencar untuk memancing. Sampai mereka tak menyadari matahari sudah benar-benar berada di atas mereka, tengah hari telah tiba suara binatang mulai semakin keras.
Dekka merasakan hal aneh, hawa disekitarnya dan Bertan tiba-tiba saja terasa mencekam membuatnya seakan merasakan sesak jika terus berada di sana. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres, sehingga Dekka akhirnya mengedarkan pandangannya kesekitar. Di kiri tidak ada yang aneh, dibelakang mereka pun hanya ada jalan dengan pepohonan rindang. Namun ketika Dekka mengedarkan pandangannya ke kanan, tubuhnya seketika menegang.
Disana, sesosok berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh berdiri menatap ke arah Dekka dan juga Bertan dengan mata merahnya. Lidah Dekka terasa kelu, bibirnya tak bisa terbuka dan tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan.
Matanya dan mata merah itu terus bertatapan, Dekka bisa melihat dengan jelas wajah menyeramkan itu. Dengan tubuh besar berbulu yang semakin membuat Dekka takut, ingin dia mengalihkan pandang dan segera berlari dari sana. Tapi bahkan untuk berkedippun Dekka tidak bisa, sampai akhirnya beruntung Bertan menepuk bahu menyadarkannya.
Dekka mulai bisa mengendalikan tubuhnya lagi, dia menoleh ke arah Bertan yang menatapnya bingung. Dekka menghiraukan tatapan itu dan memilih untuk kembali melihat ke arah tadi, sosok itu telah menghilang dari sana. Dan hawa di sekitar mulai kembali seperti biasa, menyadari ada yang tak beres Dekka segera berdiri, membereskan alat memancingnya.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang, Bertan."