
Pagi tiba, entah ada angin hujan apa sosok Bu Darmi tiba-tiba mendatangi Dekka dan Bertan untuk meminta pertolongan. Dekka juga bingung, tapi tak ayal dia menyanggupi, toh lagipula hanya sekedar melihat ada apa di atap rumah mereka. Jujur Dekka tidak mengerti begituan, tapi sepertinya Bertan sangat tertarik dan langsung saja mengiyakan.
Disini akhirnya mereka berada, di rumah Bu Darmi yang baru saja menjadi rumah duka kemarin dan kini suasana tak seperti dalam masa berkabung. Bahkan semua keluarga Bu Darmi bersikap seperti tidak ada apa-apa yang terjadi setelah kemarin baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga. Bertan memasuki rumah yang langsung disambut dengn Bu Darmi yang sudah menunggu, mereka disuruh untuk naik kelantai platform, memeriksa apakah ada yang salah sehingga terjadi kebocoran.
Bertan yang naik pertama, dibelakangnya Dekka yang menyerahkan segala peralatan dengan membawa senter dari ponselnya. Suasana di atas agak pengap dengan ruangan yang lumayan sempit, hanya bisa Bertan yang masuk memeriksa dan Dekka masih diam di tangga dengan senter. Diarahkannya senter itu kesegala penjuru rumah, sampai Bertan menemukan sebuah kejanggalan disana. Benar saja, memang sepertinya masalah di sebuah genteng yang perlu diganti.
Berniat dia turun, karena dia tidak bisa memperbaiki genteng, dia hanya bisa melihat adanya kerusakan atau tidak. Lagipula rumah Bu Darmi itu tinggi, sulit untuk naik ke atas genteng untuk memperbaiki. Namun pijakan kakinya di tangga terhenti karena di ujung platform seperti ada sesuatu yang aneh yang membuat rasa penasarannya mencuat begitu saja.
"De, siniin senternya coba," ucapnya, Dekka yang bingung hanya menuruti yang Bertan katakan, diserahkannya senter itu pada Bertan. Senter itu langsung diarahkan ke sesuatu itu yang ternyata sebuah kotak kecil, dengan rasa penasaran Bertan melihat ke arah Dekka yang mengangkat salah satu alisnya. Bertan terdiam sebentar, lalu dia mengode dengan tatapan mata bahwa ada sesuatu yang aneh disana.
"Gue penasaran sama isinya, ambil gak?" tanya Bertan. Dekka tampak berpikir sebentar, lalu dia mengangguk sebagai ajwaban. Biarlah mereka dicap tidak sopan, mereka sangat penasaran dengan hal itu. Siapa tau itu ada hubungannya dengan kejadian yang selama ini terjadi di rumah Bu Darmi. Kotak kecil itu diambil, langsung dibuka oleh Bertan yang langsung memperlihatkan sebuah kain hitam yang membungkus sesuatu.
Dikantonginya kain itu, dia segera turun dari sana dengan Dekka yang memberesi semua barang yang tadi mereka bawa. Bertan terlebih dahulu berjalan dengan tangga di tangannya, menuju Bu Darmi yang ada di ruang tamu dengan teh dan jajanan yang tersaji. Bu Darmi mendekati mereka, membantu Bertan dengan tangganya dan langsung menyuruh anaknya untuk membantu Dekka mengambil alatnya.
"Ayo diminum dulu ini teh nya."
__ADS_1
Bu Darmi menyujuhkan mereka, namun Dekka langsung menggeleng menggenggam erat baju bawahnya dan dengan sopan pamit kepada Bu Darmi. Di sana, tepat di belakang Bu Darmi sosok menyeramkan berdiri. Sosok seorang anak kecil yang menggelantung disana dengan wajah menyeramkan. Matanya mengeluarkan darah, tubuhnya penuh luka bernanah, mulutnya terbuka membuat belatung turun satu persatu menyentuh lantai.
"Maaf bu, tapi saya perlu pergi sekarang ada pekerjaan yang harus saya lakukan. Tadi sudah sempat ditelepon soalnya," ucap Dekka sopan.
"Aduh saya pasti buat kalian repot ya, maaf ya. Boleh deh pulang, tapi ini jajannya dibawa ya," ucap Bu Darmi sambil menyodorkan tas kresek yang sepertinya sudah disiapkan. Dengan canggung Dekka menerima tas itu lalu langsung berpamitan dan berlalu dari sana. Bertan mengikuti, dia juga melihat anak kecil itu, jadi dia hanya diam tadi membiarkan Dekka mengambil keputusan.
"Kita harus cari tau."
Sampai di rumah, Dekka mencoba menghiraukan hal tadi dan mulai fokus dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya senja tiba, Bertan yang sedari tadi bermalas-malasanpun bangun dari tidurnya untuk madi. Namun lagi dan lagi, sosok Mundo muncul di hadapannya. Kali ini tetepan sosok itu berbeda, seperti menyiratkan sesuatu yang janggal dan ketidaksetujuan. Bertan diamkan, mungkin Mundo marah karena terus dikacangi.
"LEPASIN SAUDARA GUE BRENGSEK! DAN PERGI LO DARI SINI" Beran berucap keras sambil membaca doa setelahnya. Perhalan suara kesakitan Dekka mulai tergantikan dengan suara batuk. Sosok anka kecil itu menghilang, namun sosok besar itu masih disana. Dekka mulai seperti sebelumnya, dengan napas yang masih tak beraturan dia menurup telinganya sambil meringis kesakitan. Bertan panik, mendekati sepupunya dengan langkah cepat, kedua bahu Dekka di pegang olehnya.
"Dekka!" panggilnya.
Dekka tak merespon, masih menutup telinganya yang terada berdengung. Ayolah, suara anak kecil itu sudah cukup memuakkan di telinganya dan cekikan tadi juga sudah cukup membuatnya tersiksa. Ditambah sosok besar itu ikut-ikutan berteriak dari luar rumah membuat Dekka semakin kesakitan. Tak lama setelahnya dia mendengar Bertan kembali memanggil namanya bersamaan dengan suara pintu yang dibuka. Setelahnya kesadaran Dekka menghilang, tubuhnya melemas di pegangan Bertan.
__ADS_1
Di tengah kepanikannya, Bertan mulai melihat sosok besar itu menghilang dan dibelakangnya kek Retno datang dengan wajah panik. Bertan hendak berucap, tapi Kek Retno yang terlebih dahulu membacakan doa untuk Dekka yang tak asadarkan diri. Wajahnya kertera sanagat panik, seolah kejadian tadi merupakan sebuah kegawatan yang seharusnya segera ditangani.
"Baringkan Dekka, dia dalam bahaya," ucap Kek Retno. Tubuh Dekka dibaringkan di dinginnya lantai dengan Kek Retno yang masih membacakan doa dbantu oleh Bertan. Lama, tak ada pergerakan apapun dari Dekka, membuat Kek Retno menghela napas gusar. Dia menatap tajam ke arah Bertan.
"Mana kresek tadi?" tanya nya. Seolah mengerti Bertan langsung berdiri dan menyerahkan kresek yang diberikan Bu Darmi. Kresek itu dibuka, langsung di buang ke lantai isinya. Betapa kagetnya Bertan setelah melihat isi kresek itu hanyalah belatung dan beberapa gumpalan rambut. Perutnya mual mendadak, peluh dingin muncul sebedar biji jagung di dahinya. Isi perutnya ingin dikeluarkan namun di tahan oleh Kek Retno.
"Bersihkan semuanya, bakar mereka. Kalian membuat kesalahan besar, sekarang Dekka dalam bahaya."
Bertan mulai menelan ludah paksa, dia yang salah disini. Jika sesuatu yang salah terjadi pada Dekka itu merupakan kesalahannya. Jika seuatu terjadi pada Dekka dia tidak akan tinggal diam, semua hal akan dia lakukan.
"CEPAT BERESKAN, BERTAN!"
Bertan kembali tersentak, dengan cepat dia langsung mengambil sapu dengan jijik membersihkan gumpalan rambut dan belatung tadi. Dibawanya langsung ke halaman rumah, korek api langsung dia nyalakan, dengan sebotoh minyak yang dia ambil tadi. Minyak dituang dan dengan sekali gerakan korek api itu dibuang, menghasilkan kobaran api besar.
"Tenang Bertan, doakan Dekka bisa melawan mereka."
__ADS_1