DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 14 - Cerita Tentang Mundo


__ADS_3

Keesokan harinya, sebuah proses pemakaman kembali di lakukan di rumah Bu Darmi. Benar apa yang Dekka katakan semalam, anak bungsu bu Darmilah yang meninggal dunia. Bertan mengingat, sepertinya dia pernah melihat anak itu entah kapan dia tidak ingat.


"Kalian temenan sama dia ya?" tanya Bertan pada akhirnya kepada Tara. Tara, Lingga dan Demas tiga sekawan itu kompak mengangguk sebagai jawaban. Ah sepertinya Bertan ingat sekarang, anak kecil itu adalah anak pendiam yang dulu sering bermain dengan tiga anak lainnya. Pantas saja Bertan merasa tidak asing, ternyata itu alasannya. Namun beberapa minggu tetakhir dia memang jarang melihat anak itu, bahkan lebih jarang dari sebelumnya.


Pemakaman usai dilakukan, para warga pun mulai kembali ke rumah masing-masing. Dekka membondong tiga anak lainnya ke rumah, mengiming-iming akan dapat jajan gratis jika mereka mau bertamu. Ketiganya tentu saja tidak akan menolak, mereka masih anak kecil yang sangat menyukai jajanan.


Boku kukus yang baru saja Ibu buat kemarin untuknya Dekka hidangkan pada tiga anak kecil itu, ditemani dengan susu kotak yang mereka beli. Ketiganya dengan lahap memakan, sambil sesekali bercanda ria dengan dua orang dewasa di depan mereka. Dekka dan Bertan juga ikut tertawa lepas, candaan anak kecil memang yang paling bisa menghibur mereka yang merindukan masa kecil. Terlebih mereka berdua tak bisa menghabiskan masa kecil seperti kebanyakan anak dulunya, Dekka dengan kelebihannya dan juga Bertan dengan kekangan neneknya.


"Eh, ngomong-ngomong kakak pengen tau, kalian pada tau gak anak Bu Darmi kenapa?" tanya Dekka. Dia tak mengingat nama anak itu, padahak sudah diberi tahu oleh Lingga sebelumnya. Demas yang mengangguk, sedangkan dua lainnya memandang Demas seolah memang dialah yang paling tau tentang hal itu. Dekka mengangguk, membenarkan posisi duduknya untuk bersiap mendengarkan.


"Katanya Mundo sakit," jawabnya singkat. Bertan menepuk kening pelan, astaga kenapa dia merasa dibodohi oleh Demas sekarang. Kalau tentang itu Bertan juga tau, bahkan seluruh Desa Seberang juga tau kalau Mundo sakit. Tapi maksudnya adalah sakit apa dan sejak kapan, bukan jawaban singkat macam tadi yang dia inginkan. Sedangkan Dekka hanya tertawa canggung sambil menganggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


"is Demas, benerin ceritanya. Udah di kasih kue sama susu, malah gitu sama kak Dekka." Lingga kesal berucap, sedangkan Demas tertawa polos sambil menelan bolu terakhir di mulutnya. Menyeruput susu dahulu agar tidak seret, dia akhirnya memulai penjelasan. Yang dia tak tau benar atau tidak yang jelas itu adalah dari cerita sang ibu yang memberitahukan ayah saat itu.


"Kalau yang Demas denger dari cerita ibu, Mundo tuh sakitnya aneh. Sudah di bawa ke bidan tetep enggak sembuh-sembuh, padahal sudah bolak balik tapi tetep aja. Terus kata ibu mah, dia kemungkinan kena guna-guna, sebenernya Demas enggak terlalu ngerti tapi Demas tau itu ilmu hitam. Soalnya kata ibu, waktu dia sama ayah jengukin kulit Demas itu keriput kayak orang tua, terus kurus banget juga."


"Terus kemarin katanya sebelum meninggal dia sempet kesurupan," Tara menambahkan heboh. Ketiganya saling pandang, lalu bergidik nyeri begitu saja membayangkan bagaimana Mundo kesurupan dengan tubuh kurus kering itu. Dekka membulatkan mulutnya, mengangguk mengerti sebagai jawaban.


"Eh tunggu! Katanya dia meninggal di sungai? Kenapa malah jadi sakit?" tanya Bertan yang baru saja mengingat apa yang dia dengar tadi. Lagipula hantu Mundo memang kelihatan seperti seseorang yang tenggelam. Tapi kenapa berita yang dia dapat dari mereka malah lain adanya, sangat jauh bahkan dari keadaan Mundo.


"Oh, kalau itu Lingga yang tau ceritanya." Tara mengoper pada Tara yang masih meminun susunya. Anak iru dengan anteng mengangguk, seolah sudah atau akan menjadi gilirannya untuk bercerita pasal kematian Mundo yang ia ketahui. Susu kotak yang telah habis itu ditaruh kembali, di lap bibirnya pelan dengan tangan karena masih ada rasa lengket.


Kali ini sudah jelas, cerita sudah mereka dapatkan. Ketiganya lalu pamit pulang, dan dua pria lainnya mengijinkan. Ceritanya terhubung, sakit, ilmu santet dan juga kesurupan bukankah sudah jelas jawabannya jika ada yang melakukan hal yang tidak-tidak kepada keluarga Bu Darmi? Tapi mengapa sepertinya sang pemilik rumah tak menyadari? Bahkan setelah semua keanehan yang terjadi di sekitarnya.

__ADS_1


"Aneh gak sih Ber? Kenapa Bu Darmi masih belum juga sadar?" tanya Dekka yang diangguki Bertan. Aneh memang, karena normalnya pasti ada kecurigaan dari sang pemilik rumah tentang kejadian itu.


"Gue juga heran si De, jujur anehnya keluarga Bu Darmi itu dua bulan yang lalu sebelum lo dateng. Udah banyak kejanggalan sebenernya, mulai dari mereka yang jarang bersosialisasi, ada aja anggota yang sakit bahkan meninggal. Tapi gak pernah ada yang bisa masuk logika kenapa, padahal warga kampung udah curiga ada yang aneh. Sempet tuh dia didatengin semua warga, diajak buat nemuin orang pinter biar kelar. Dia malahan gak percaya gituan katanya, makanya sampai sekarang warga kampung biasa aja."


Dekka mengangguk, masih ada kejanggalan di otaknya. Bagaimanapun orang tidak percaya, jika sudah menunjukkan keanehan seperti itu normalnya mereka akan menurut. Peduli setan dengan bagaimana nanti nya, yang terpentinh adalah keselamatan dan kesejahteraan keluarga mereka. Tapi Bu Darmi berbeda, bahkan jika itu sedari dulu masih ada korban lain berarti yang belum Dekka ketahui.


"Berarti ada korban lain sebelum mereka?"


"Iya, anak dari adil Bu Darmi meninggal karena sakit juga. Katanya sih mirip sama Mundo gitu, yapi gue gak terlalu sadar juga gimana sebenernya. Soalnya itu korban pertama, jadi gue kira memang bukan hal mistis gini. Lagian sebelum ada lo disini gue kan gak bisa ngeliat mereka, apalagi tau kalau mereka ada banyak di sekitar Desa."


"Ber, lo pernh mikir gak sih? Keanehan ini tuh janggal banget, janggal yang bener-bener janggal menurut gue. Kalau pelakunya bukan dari orang luar, pasti orang dalem pelakunya. Apalagi kalau keluarga uang lain gak ada yang curiga, bisa jadi kan? Lagian aneh, Bu Darmi gak pernah sekalipun senyum ke gue. Selalu aja sinis seolah gue buat salah sama dia." Dekka menjelaskan.

__ADS_1


"Berarti maksud lo pelakunya Bu Darmi?" tanya Bertan.


"Masih belum bisa gue pastiin, tapi Mundo pasti tau gimana kejadian sebenernya."


__ADS_2