DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 24 - Santet Kutukan


__ADS_3

Mbak Rondo, perempuan itu kini tengah kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Jujur saja, dia tau apa yang telah dilakukan oleh sosok yang berada di tubuhnya selama ini, namun dia tidak bisa berbuat apapun untuk melawan sosok itu. Hal itulah yang menyebabkan dia kabur saat melihat Dekka dan Bertan di depannya, dia tidak punya muka untuk bertemu dengan mereka.


Namun kini dia rasa dia perlu untuk menjelaskan semuanya, terutama dengan warga yang semakin bertanya-tanya akan perubahan sikapnya. Kuntilanak yang sebelumnya menguasai tubuhnya masih sesekali menampakkan sosok padanya. Terlihat kesal, tapi tidak mendekat ataupun berusaha untuk menyakitinya. Mbak Rondo senang, karena setelah peristiwa itu tidak banyak sosok yang menganggunya, jadi dia tidak tau harus berterima kasih atau kesal dengan sosok kuntilanak merah itu.


Tak lama kemudian ketukan di pintu rumahnya menyadarkannya. Dia tidak langsung membuka, tapi mengintip dari jendela. Betapa kagetnya dia saat melihat Kek Retno juga mengintip kedalam dari luar. Langsung dia menuju pintu, membukakan dan mempersilahkan Kek Retno yang juga bersama Dekka dan Bertan untuk masuk. Mereka dipersilahkan duduk, dan dia meninggalkan mereka untuk menyiapkan minuman terlebih dahulu.


Teh manis hangat disuguhkan, dengan beberapa biskuit kering yang sisa setengah dari bungkusnya. Dengan malu-malu Mbak Rondo duduk di depan mereka yang duduk berdempetan bertiga. Kek Retno ditengah, Dekka di sebelah kanan dan Bertan di sebelah kiri jika dilihat dari sisi Mbak Rondo.


"Gimana perasaannya, Rondo?" tanya Kek Retno pada Mbak Rondo. Mbak Rondo tersenyum simpul, menunduk sambil tersenyum lalu kemudian mengangkat kepala untuk melihat mereka. Dia mengangguk, mengisyaratkan baik kabarnya saat ini, setidaknya jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.


Tak lama kemudian Kek Retno kembali berbicara. Kali ini lebih menjelaskan kedatangan mereka kemari, Mbak Rondo mendengarkan dengan tenang. Membiarkan Kek Retno menjelaskan maksudnya hingga akhir mengapa menemui dirinya.

__ADS_1


"Kakek sering liat sosok-sosok itu berusaha untuk ganggu kamu. Tapi kakek gak mau ikut campur, tapi kedua remaja ini sangat ingin menjelaskan sesuatu sama kamu. Waktu itu katanya mereka enggak ada ngapa-"


"Saya tau, saya tau apa yang sosok itu lakukan ketika memasuki tubuh saya." Mbak Rondo memotong cepat. Dekka dan Bertan tentu saja terkejut dengan hal itu, padahal mereka mengira bahwa Mbak Rondo kabur karena mengira mereka akan melakukan perbuatan jahat. Kek Retno menatap mereka sambil tersenym, seolah mengatakan bahwa apa yang sudah dia jelaskan pada mereka adalah sebuah kenyataan.


"Dia selalu ada di dekat mu sebelum suamimu meninggal. Siapa dia Rondo?" tanya Kek Retno. Bertan dan Dekka tak mengerti, karena mereka tentu saja belum pernah melihat sosok yang Kek Retno katakan. Binar mata Mbak Rondo meredup, sudah lama dia menyimpan semuanya. Tentang keirian seseorang yang membawanya pada sosoknya yang sekarang. Keirian itu membuat hidupnya hancur, memberi kutukan padanya.


"Saya malu kalau cerita, ini semua karena salah saya juga. Semua yang terjadi karena keegoisan saya di masa lalu." Mata Mbak Rondo memejam, mengingat kembali masa-masa dulu saat semua ini berawal.


Di tengah sungai, dua remaja lelaki lain mencoba menangkap ikan. Hanya berbekalkan jaring dan tangan mereka sendiri. Pakaian bawah mereka sudah basah karena air yang lumayan deras. Satu dari mereka melihat ke arah dua remaja perempuan lainnya, memastikan bahwa keduanya masih berada disana.


"Tirta, sini dulu makan siang. Udah laper nih," teriak Nora pada salah satu dari mereka. Tirta dan Bayu berjalan ke pinggir sungai, ikut duduk di samping Nora dan Rondo yang sudah membuka bungkusan nasi mereka. Nasi itu dibawa dari rumah, sengaja dinikmati sambil bermain di pinggir sungai. Tirta duduk di samping Rondo dan Bayu duduk di samping Nora.

__ADS_1


"Gimana mau gemuk kalau makannya sesedikit itu Rondo," ucap Bayu saat melihat porsi makan dari Rondo yang memang sedikit. Rondo hanya terenyum, namun di sisi lain Nora menunduk mengeratkan tangan pada nasinya. Porsinya lebih besar dari Rondo, dia seharusnya makan dengan porsi yang sama dengan Rondo agar berat badannya tak melulu naik.


"Biarin biar bagus terus badannya, ya gak Ron? Lagian kalau kayak Nora itu porsinya nanti malah makin gendut," balas Tirta sembari tertawa yang langsung disusul oleh tawa Rondo. Bayu berdecak tak suka, mereka sering bercanda kelewatan seperti itu dengan membawa-bawa fisik dari Nora. Dan itu sama sekali tidak lucu menurutnya jika bercanda dengan membawa fisik-fisik seseorang.


"Jangan gitu lah, kalian kelewatan tau gak," ucap Bayu tak senang. Rondo dan Tirta berhenti tertawa. Rondo memasang senyuman canggung, sedangkan Tirta memasang wajah kesal. Padahal dirinya hanya bercanda tapi Bayu malah menganggapnya serius. Dasar baperan, itu yang ada dalam pikirannya.


"Cuman bercanda, lagian Nora enggak marah kan?" tanya Tirta yang diangguki oleh Nora. Suasana hening setelahnya, hanya suara sungai yang mengalir masih terdengar. Nora memakan makanannya dengan pelan, masih memikirkan apa yang barusan Tirta lontarkan, tawa keduanya pun masih terngiang dalam benaknya.


"Jangan dipikirin, habisin makanannya. Gak baik buang-buang makanan tau," ucap Bayu pelan kepada Nora. Nora terkejut, dia menoleh ke arah Bayu yang sudah menghabiskan setengah makanannya. Selanjutnya dia tersenyum, mengangguk mengerti lalu melanjutkan makanannya dengan tersibu. Telinganya memerah malu, dekat dengan Bayu selalu berhasil membuatnya salah tingkah.


Jika bisa Nora jujur, dia sudah ingin dekat sejak lama dengan Bayu. Dia suka dengan sahabatnya itu, perhatian yang Bayu tunjukkan dengan hal-hal kecil yang dilakukan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta. Dan dibenaknya, ia berpikir bahwa Bayu juga merasakan hal yang sama karena sikapnya selama ini. Namun nyatanya semua hanyalah angannya, karena nyatanya Bayu tidak akan pernah menyukai balik sosoknya.

__ADS_1


__ADS_2