DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 20 - Mbak Rondo


__ADS_3

Di Desa seberang ada sebuah rumah gubuk yang jarang kelihatan penghuninya. Rumah gubuh itu milik Mbak Rondo, seorang janda yang baru saja kehilangan suaminya dua tahun yang lalu akibat dari kecelakaan. Hari itu, Mbak Rondo yang sedang membantu memanen hasil kebun dari Kepala Desa mendapat kabar bahwa sang suami kecelakaan. Mbak Rondo terpukul hatinya, suaminya meninggal dalam kecelakaan kerja saat menjadi buruh bangunan.


Mbak Rondo terpukul hatinya, di tambah dengan dia yang baru saja menikah 5 bulan sebelum tragedi itu. Dia belum memiliki anak, jadi tidak ada yang membantunya untuk mencari nafkah. Mengandalkan bekerja di kebun orang, Mbak Rondo menafkahi dirinya sendiri untuk terus hidup. Wanita 30 tahun itu sebenarnya mendapat ajakan untuk kembali menikah, namun dia selalu menolak ajakan itu dengan alasan menghormati keluarga suaminya dan juga suaminya yang telah meninggal.


Namun beberapa jam yang lalu, Mbak Rondo menemui Dekka. Beliau tiba-tiba saja mengajak Dekka mengobrol dengan gaya santai, keduanya seakan telah dekat lama sehingga mereka akhirnya menjadi gunjingan di hari itu. Keduanya di panggil Pak Kepala Desa, diajak mengobrol karena ketahuan salah satu warga mengobrol berdua di depan rumah Dekka saat Bertan sedang ada urusan.


"Saya mengerti mungkin bukan itu maksud kalian, tapi usahakan jangan seperti itu. Nanti ada omongan yang tak mengenakkan," ucap Pak Kepala Desa kepada mereka. Dekka mengangguk, dan Mbak Rondo hanya tersenyum malu-malu sambil melirik-lirik ke arah Dekka. Dekka sebenarnya agak risih, jadi dia memutuskan untuk pergi dari rumah sang Kepala Desa dan langsung mencari keberadaan Bertan yang katanya ingin ke kebun.


Ditemuinya sosok itu dengan perasaan dongkol, sungguh Dekka ingin rasanya membanting seseornag karena dia mendapat peringatan dari Kepala Desa nanti. Bertan sepertinya menyadari, dia yang awalnya memegang cangkul akhirnya menoleh ke arah Dekka. Tawanya pecah saat melihat ekspresi wajah Dekka yang sedang kesal seperti itu.


"Lo tau, masak gue kena peringatan gara-gara janda," ucap Dekka kesal. Bertan terdiam kemudian, mengingat siapa yang sekiranya menggoda Dekka. Tak ada yang terlintas dalam pikirannya, mengedikkan bahu dan akhirnya mengangkat alisnya untuk bertanya siapa yang Dekka maksudkan.


"Mbak Rondo."

__ADS_1


"HAH?" Bertan membulatkan mata, dia berjalan ke arah Dekka membiarkan cangkul itu terbebas begitu saja terbuang. Dia mendekati saudaranya, memegang pundak Dekka dan mengguncang pelan bahu Dekka. Yang di gitukan berdecak kesal, kepalanya pusing akibat kocokan yang Bertan berikan pada tubuhnya. Dia menghempaskan tangan milik Bertan, menatap tajam sepupunya itu.


"Kenapa emangnya?" tanya Dekka.


"Astaga Dekka, lo gak tau ya. Mbak Rondo itu incaran di kampung ini, dia janda kembang disini. Udah banyak lelaki kaya dan tampan yang deketin dia, bahkan sampai mngelamar. Tapi tak satupun yang diterima, alasannya ya karena ngehormatin suami dan keluarganya. Tapi sekarang dia ngedeketin lo, astaga Dekka apa lo gak kebalik?" tanya Bertan tak percaya.


"Tunggu, beliau sempat di lamar berulang kali tapi gak pernah nerima?" tanya Dekka balik yang diangguki oleh Bertan. Oke Dekka merasa ada yang aneh sekarang, mengapa dirinya yang sebelumnya hanya bertemu sekali tiba-tiba saja di dekati oleh janda satu itu? Dekka akui Mbak Rondo cantik, tapi tetap saja umur mereka terpaut cukup jauh dan Dekka sedang tidak tertarik untuk menikah sekarang.


"Udahlah kita pulang aja, gue mau mandi sumpek gue."


"Dia beneran deketin lo," ucap Bertan. Dekka memutar mata malas, tak ingin menanggapi apa yang Bertan tanyakan. Sebaliknya dia berjalan ke arah Mbak Rondo yang langsung membuat wanita itu berdiri dan bersikap malu-malu.


"Mbak, ada apa kemari lagi?" tanya Dekka.

__ADS_1


"Tidak, hanya ingin bertemu dengan mu. Kita belum mengobrol banyak," jawab Mbak Rondo.


"Maaf mbak, tapi lebih baik mbak pulang. Saya takut ada yang melihat dan kembali menimbulkan masalah, saya masuk dahulu. permisi," ucap Dekka. Langsung saja dia meninggalkan Mbak Rondo yang menatap kecewa, Bertan yang merasa tak enak dengan sikap sepupunya pun berniat untuk meminta maaf. Namun belum sempat satu katapun terucap dia langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Mbak Rondo yang melewatinya begitu saja.


Bertan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, memilih mengikuti Dekka untuk masuk ke rumah. Di bukaknya baju atasannya, mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi. Dekka sedang di dapur, bergulat dengan alat masak untuk makan malam mereka nantinya. Hanya tempe goreng seperti kemarin, dengan terong balado sebagai pelengkap.


Bertan selsai mandi, kini giliran dia dan meneyrahkan semua masakan yang tinggal ditata kepada Bertan. Bertan menata di atas meja menunggu Dekka selesai mandi untuk makan bersama. Selesainya yang lebih tua mandi, mereka langsung makan. Nikmat makanan sederhana dikunyah lahap oleh mereka yang memang kelaparan, ditambah dengan semua masakan masih hangat.


Menyelesaikan acara makan malam, keduanya kembali ke rutinitas biasa. Duduk di ruang tamu dengan kegiatan berbeda, Dekka dengan laptopnya dan juga Bertan yang sedang mendapatkan kerjaan untuk melukis di pos polos yang lumayan banyak, untuk dijual nantinya. Lumayan juga dia mendapatkan upah selain mengandalkan uang dari orangtua Dekka selama ini.


Tenang keduanya tak berlangsung lama, tampak seorang perempuan berambut panjang yang mengintip dari kejauhan ke arah mereka. Bertan yang pertama kali menyadari sehingga dia memerhatikan lekat perempuan itu yang sedang berdiri di remang-remang cahaya. Rambut panjangnya itu menutupi wajahnya sehingga Bertan tidak bisa memastikan sosoknya manusia atau bukan.


Namun ketika angin berhembus, membuat lampu jalan bergoyang dan menampilkan sosok itu lebih jelas yang juga sudah tak terhalangi rambut betapa terkejutnya Bertan. Astaga ternyata itu adalah Mbak Rondo yang sedang tersenyum ke arahnya, atau mungkin ke arah Dekka?

__ADS_1


"De, kayaknya emang ada yang aneh sama Mbok Rondo deh."


__ADS_2