
"Gue yakin pasti ada sesuatu di sini," ucap Dekka sambil membongkar kembali barang-barang kakek yang baru saja mereka bereskan beberapa hari yang lalu. Bertan ikut membantu, dia juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Tentang siapa sosok itu dan mengapa sosok itu mengincar mereka.
Kamar milik kakek sudah berantakan, dengan barang-barang berserakan dimana-mana. Bertan dan Dekka membongkar semuanya, namun tetap tidak menemukan apapun kecuali buku yang mereka temukan waktu ini. Selain itu, Dekka juga tidak melihat kakek akhir-akhir ini. Hanya sosok-sosok lain yang kadang ia lihat keberadaannya, itu semakin membuatnya heran.
Kemudian keheranan itu berhenti, tergantikan rasa kesal saat pintu rumahnya diketut dengan brutal oleh seseorang. Bertan yang bangkit untuk membuka, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Mbak Rondo lah yang mengetuk pintu tadi. Dia menatap malas ke arah Bertan sambil sesekali melirik-lirik ke dalam rumah mencari keberadaan Dekka.
"Tunggu sebentar di luar ya Mbak, biar Dekka saya yang panggilin."
Bertan menghalangi pandangan Mbak Rondo, merasa ada yang semakin aneh dengan wanita di depannya. Ini benar-benar bukan seperti Mbak Rondo yang dia kenal, sangat berbeda. Dari tatap mata, gaya bicara, gaya berjalan semua nya berbeda. Dia masuk ke dalam, menyeret Dekka untuk keluar dan berbicara dengan Mbak Rondo agar wanita itu segera pergi dari rumah mereka.
"Ajak ngomong gih, De. Dia natep gue nya gak banget tadi," ucap Bertan. Dekka kesal mengangguk, menemui Mbak Rondo dengan langkah kesal. Ayolah ini masih terlalu pagi untuk membuatnya kesal, apalagi mereka sudah mendapat peringatan dari Kepala Desa. Dia tidak ingin diberi peringatan lagi, bisa-bisa rusak reputasinya nanti.
"Ada apa, Mbak?"
Panggil Dekka yang membuat wanita itu menoleh, menatap ke arahnya dengan senyuman manis. Namun ada yang aneh, sepersekian detik saat wanita itu menoleh Dekka merasa ada yang berbeda. Seperti ada dua orang yang sekarang di hadapannya, setidaknya Dekka yakin akan hal itu. Kembali dengan Mbak Rondo, dia menatap Dekka dengan tatapan penuh pikat dengan gerak-gerik manja dan malu-malu saat bertemu dengan Dekka.
__ADS_1
"Cuman mau ngobrol saja dengan kamu," jawabnya. Dekka hanya mengangguk, mempersilahkan wanita itu duduk di teras rumah lalu memanggil Bertan untuk menemaninya. Mbak Rondo tampak kesal saat melihat kehadiran Bertan disana, itu menganggu pembicaraan yang akan dia dan Dekka lakukan.
"Gapapa kan Mbak sama Bertan? Saya takut ada berita aneh lagi," ucap Dekka dengan senyum manis menyimpan sejuta ejekan. Mbak Rondo terpaksa menganguk karena kali ini Dekka yang meminta, susah untuknya menolak permintaan pemuda itu. Dia berusaha mencari tempat duduk yang pas, sengaja memakai rok yang agak ketat dan baju yang juga membentuk tubuhnya.
"Bisa langsung bicara ke point nya saja mbak? Saya masih ada kerjaan yang belum bisa say tinggalkan," ucap Dekka.
"Kalau begitu aku pasti menganggu ya."
Bukannya menyebutkan point pembicaraan Mbak Rondo malah berbicara dengan nada manja yang dibuat sesedih mungkin. Dekka dan Bertan sampai mual dibuatnya, dengan kompak mereka mengangguk yang membuat Mbak Rondo memasang wajah sedih terpaksa. Sungguh jika yang ada di hadapannya lelaki maka Bertan akan menonjok wajahnya sekarang juga, wajah Mbak Rondo memang terlihat cantik, sangat namun sikapnya membuat Bertan merasa jijik.
"Bisa tolong to the point?" Kesal Bertan berucap. Mbak Rondo malah menatap tajam ke arahnya, tidak ada lagi raut sedih sebelumnya. Bertan langsung dibuat bergidik, tatapan tajam itu seakan mengancamnya, aura di sekitar berubah seiring perubahan raut wajah Mbak Rondo. Dekka sangat merasakannya, dan sekarang dia semakin yakin ada sosok lain yang ada di sekitaran Mbak Rondo yang tak bisa dia lihat wujudnya untuk saat ini.
Wanita itu berdiri setelahnya, berjalan mendekat ke arah Dekka yang reflek menjauh. Senyuman semakin mengembang di bibir Mbak Rondo, lelaki yang lebih muda darinya ini sungguh sangat menarik untuk digoda. Mbak Rondo akhirnya pergi berlalu dari sana, membuat Bertan dan Dekka langsung menghela napas nya dengan lega. Pengganggu mereka akhirnya pergi, jadi mereka bisa melanjutkan kegiatan mereka yang belum selesai nantinya.
"Gimana rasanya bicara sama dia?"
__ADS_1
Seseorang tiba-tiba muncul dari balik tembok, mengagetkan Bertan dan Dekka yang masih menatap kepergian Mbak Rondo. Oknum yang mengangetkan alisas Kek Retno berjalan ke arah mereka, mencari tempat duduk di samping Dekka dan Bertan. Mereka sama-sama menatap Kek Retno, sepertinya lelaki tua itu mendengar semua perkataan yang dilontarkan oleh mereka dan Mbak Rondo tadi.
"Jangan dibahas kek, bikin kesel aja." Dekka berucap. Kek Retno tersenyum, sepertinya Dekka belum mengerti dengan apa yang dia maksudkan. Sehingga akhirnya dia menjelaskan, bahwa sosok tadi yang mereka ajak bicara dan juga sosok-sosok sebelumnya bukanlah jiwa Mbak Rondo. Jiwanya direbut oleh sosok lain, sosok yang juga sudah ada bersama Mbak Rondo sejak dulu.
Sosok itu seorang kuntilanak, menempel pada Mbak Rondo sejak suami wanita itu meninggal dunia. Dan yang menyukai Dekka juga bukan Mbak Rondo, namun sosok kuntilanak itu. Sepertinya dia melihat Dekka saat pemakam Bu Darmi tempo lalu. Dan mereka berdua kaget untuk yang kedua kalinya, sepertinya keanehan yang Dekka rasakan sudah terjawab hari ini. Bertan mengangguk mengerti, itu ternyata alasan mengapa Mbak Rondo yang terkenal pendiam tiba-tiba menggoda seseorang yang bahkan datang ke desa mereka.
"Tapi kenapa gak dia langsung yang deketin Dekka, dia kan pasti tau kalau Dekka bisa liat dia." Bertan bertanya heran, kek Retno tersenyum menanggapi, sebenarnya pertanyaan itu tak perlu dipertanyakan lagi.
"Karena dia mungkin ngira gue bakalan takut kali."
Kek Retno mengangguk, lagipula lebih mudah mendekati seseorang dengan meminjam tubuh orang lain ketimbang langsung menampakkan wujudnya. Mereka akan lebih mudah berkomunikasi tanpa mengeluarkan tenaga yang besar, terutama saat yang mereka rasuki memiliki ketahanan tubuh yang lemah. Mereka akan berkuasa penuh atas tubuh itu semau mereka.
"Jadi tawaran nanti akan kamu terima?" tanya Kek Retno pada Dekka.
"Saya akan menerimanya kek, siapa tau bisa membantu Mbak Rondo. Lagipula saya tidak berencana pergi sendirian, akan saya ajak Bertan bersama saya nanti biar tidak ada berita simpang siur," ucap Dekka seenaknya yang langsung membuat Bertan menampolnya.
__ADS_1
"Gue gak setuju," bantahnya.
"Kalau gue kenapa-napa?" tanya Dekka mengeluarkan jurusnya. Jika sudah seperti ini maka Bertan tidak akan bisa membantah, hanya bisa mengangguk mengiyakan paksaan Dekka padanya. Lagipula sepertinya mudah untuk menghadapi sesosok kuntilanak yang sedang jatuh cinta pada manusia.