
Seperti yang mereka katakan semalam, mereka memutuskan untuk ke kota hari ini. Sedari pagi mereka berada di kota, singgah ke tempat tinggal orangtua Dekka untuk menerima siraman rohani dan senja barulah mereka kembali. Dengan hari yang mulai menggelap mereka menyusuri jalanan raya kota untuk kembali ke desa. Dekka yang dibonceng dan Bertan yang membonceng.
Sial segala sial, ban motor itu malah bocor di pertengahan jalan sehingga mereka harus menuntun dahulu kendaraan roda dua itu menuju bengkel terdekat. Kondisi bengkel lumayan sepi, hanya ada dia dan dua orang lainnya yang sepertinya sepasang kekasih. Untungnya montir disana ada lebih dari satu, jadi kendaraan mereka bisa langsung dikerjakan saat itu juga.
Dekka menoleh ke sekeliling, jalanan kpota begitu indah setelah dilihat-lihat. Memanjakan mata dengan lampu jalan dengan berbagai warna dan pasangan kekasih yang bermesraan kecil di bawahnya. Banyak penjual jajanan juga di sekitarnya, memang sepantasnya karena di seberang jalan adalah taman kota. Dekka tersenyum simpul, lupa kapan terakhir kali dia kesana, seingatnya dulu saat sebelum dia berumur 17 tahun.
"Ber, keseberang yuk. Gue mau beli cilok, sempol sama lainnya, udah lama gue gak makan."
Dekka berucap, matanya penuh harap meminta. Bertan mengangguk, dia juga sudah lama tak merasakan sensasi makan jajanan seperti yang Dekka ucapkan. Mereka berdua akhirnya berjalan ke seberang, lumayan sembari menunggu motor mereka siap untuk kembali dibawa melanjutkan perjalanan. Antrian lumayan banyak, karena ada beberapa anak kecil juga yang ingin membeli cilok disana.
Dan setelahnya mereka kembali berjalan ke seberang, menghampiri bengkel itu. Namun belum juga mereka melangkah untuk menyeberang, langkah keduanya kompak berhenti. Di depan mereka, ada sebuah sosok anak kecil dengan wajah begitu pucat. Tampak terdapat luka sobekan di area pipinya, matanya hitam pekat menatap kosong ke arah mereka. Rambut dan tubuhnya terlihat begitu basah, percis seperti kuntilanak basah alias mbak Endah yang dilihat oleh Dekka beberapa hari lalu.
__ADS_1
Dekka manatap sosok itu datar, begitu juga dengan Bertan yang malah dengan santai melanjutkan langkah kembali ke seberang dengan satu sempol di mulutnya. Dekka mengikuti langkah kaki Bertan, duduk di tempat mereka semula sambil terus bersitatap dengan sosok di depan mereka. Dekka fokus, mencoba mendengarkan seandainya sosok itu mengucapkan satu dua patah kata. Namun nihil, sampai mereka membayarpun sosok itu tak mengucapkan apa-apa hanya menatap mereka.
Kali ini Dekka yang mengendarai dan Bertan yang dibonceng, suasana Desa Seberang masih cukup ramai kala itu. Berkumpul di rumah Bu Darmi yang Dekka langsung bisa menebak pasti ada sesuatu yang aneh disana. Keduanya tak perduli, cukup dengan peringatan kemarin dari sosok itu membuat mereka memutuskan untuk tak ikut campur. Ditambah siraman rohani Ayah dan jeweran telingan Ibu sudah cukup membuat keputusan mereka bulat.
Kendaraan roda dua itu terparkir di depan rumah dengan apik seperti sebelumnya. Memang jarang Bertan gunakan, sehingga sepeda motor itu tak jarang dia bawa ke belakang rumah. Saat itu riuh suara warga masih terdengar ke telinga mereka dari rumah. Lalu mereka memutuskan untuk menguping sedikit banyak yang terdengar sambil memakan sempol dan cilok yang sebelumnya mereka beli.
Bertan mendesah, hanya beberapa kata yang dia dnegar dnegan jelas. sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menyerah dan memakan sempolnya dengan anteng. membiarkan Dekka yang masih ingin menguping disana. Suasana Desa Seberang yang begitu sepi membuat suara-suara dari rumah Bu Darmi bahkan bisa terdengar sampai rumah mereka, ya tidak benar-benar dari rumah beliau. Hanya selat beberapa rumah dari rumah Dekka dan Bertan serta Bu Darmi ada sekumpulan ibu-ibu yang sedang merumpi.
Dekka mengumpat, tatkala sesuatu terdengar menarik di telinganya. Bertan menaruh tusukan sempol terakhir yang telah habis dan mendekatkan diri kembali kepada Dekka. Ikut dia menguping namun kali ini tidak ada pembicaraan apapun yang terdengar, Dekka juga sudah mulai selesai mendengarkan. Namun sekarang yang lebih tua membenarkan posisi, menegak air yang tersedia sebelum menatap seriud ke arah sang saudara.
"Apa?" tanya Bertan. Dia sudah pensaran saat ini, jadi dia akan memasang telinga dengan baik untuk mendengarkan setiap kata yang nanti akan terlontard ari mulut Dekka. Lama Dekka tak mengatakan apapun, hanya menghela napas dan menatap Bertan yang mulai kesal. Tak lagi bisa menahan dia akhirnya tertawa melihat wajah Bertan yang begitu kocak menurutnya.
__ADS_1
"Gak gue serius, kayaknya dari kesimpulan yang gue tangkep. Sosok anak kecil yang tadi kita lihat di bengkel kayaknya berhubungan deh sama Bu Darmi. Dari yang gue denger tadi, anak bungsu Bu Darmi meninggal barusan, katanya tenggelam di sungai." Dekka menjelaskan.
"Anjing, yakali dia ngikutin sampai kota De. Lo mikir aja yang bener astaga, nyesel gue dengerin." Bertan kesal dan beranjak pergi, berniat mengganti baju dan bersiap untuk tidur. Tapi saat dia masuk ke kamar, dari jendela kamar dia bisa melihat sosok anak kecil yang tadi dia lihat ada disana. Memantau dirinya dari jendela kamar dengan mulut terbuka dan tertutup. Rambut dan baju anak itu terlihat kotor, dengan beberapa bercak darah disana, jangan lupakan luka robekan di bibirnya yang menambah kadar keseraman sosoknya.
Bertan tak bisa mendengar apa yang rasanya ingin diucapkan oleh sosok itu, sehingga dengan terpaksa dia menyeret Dekka yang masih memakan ciloknya. Sialnya sampai di kamar sosok anak kecil itu malah menghilang, membuat Dekka memukul pelan kepalanya. Bertan hanya bisa tertawa pelan, lalu kembali ke kamar mandi untuk mengganti celana agar lebih nyaman. Sedangkan Dekka langsung merebahkan diri dan terlelap tak lama kemudian. Lelah dia di perjalanan dari kota menuju desa.
Keluar dari kamar mandi setelah menunaikan panggilan alam sejenak, Bertan kembali bertemu dengan sosok anak kecil itu yang berada di jendela kamarnya. Napas kesald ia hela, mengapa anak ini malah menampakkan diri padanya yang tak bisa berbuat apa-apa selain bertatapan.
"Kamu kalau mau ganggu, gangguin kakak ini aja besok. Kalau kamu ganggunya aku, gak bakal mempan. Aku gak takut sama kamu, besok kakak ini ajaj gangguin sekarang pergi aja."
Dengan santainya Bertan berucap sembari dia menunjuk-nunjuk Dekka yang tertidur. Dan ajaibnya sosok itu menurut padanya, dia menghilang setelah Bertan selesai berucap membuat Bertan langsung bangga pada dirinya sendiri. Astaga dia membuat seorang anak ralat seorang hantu anak kecil menurut padanya.
__ADS_1
"Lama-lama gue tundukin semua hantu kalau gini," monolog Bertan dalam keheningan. Suara binatang malam kemudian mulai memenuhi indra pendengaran. Bertan memejamkan mata, menjadian suara bising binatang sebagai musik pengantar tidur untuknya. Beberapa saat kemudian sosoknya terlelap, menyusul Dekka ke alam mimpi.