DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 12 - Bahaya Mengintai


__ADS_3

Setelah semua usaha yang mereka lakukan untuk menemukan jejak kejanggalan dari kamar nenek, semua tetap saja menghasilkan sia-sia. Tak ada kejanggalan dari kamar nenek, hanya saja salah satu lemari tidak bisa dibuka dan katanya memang sedari dahulu karena kuncinya hilang. Dekka dan Bertan pun tak merasakan ada hawa aneh di sana, jadi dia hanya percaya bahwa tidak ada apa-apa disana.


Sudah lelah mencari mereka akhirnya membiarkan semuanya berjalan seperti biasanya, menganggap bahwa mereka tidak tau tentang hal sebelumnya. Hari berikutnya awalnya berjalan lancar, sampai akhirnya sebuah hal terlihat oleh mata Dekka. Disana, di rumah salah satu warga yang berada cukup jauh dengan rumah Dekka terlihat sesuatu yang aneh. Hawa rumah itu nampak lebih gelap, dan Dekka melihat ada sosok menyeramkan di sana.


Sosok besar tapi berbeda dengan yang dilihat Dekka di sungai. Sosok itu lebih menyeramkan menurut Dekka, seluruh tubuhnya tak ditutupi bulu, namun tubuh itu berwarna hitam pekat dengan mata merah. Tangannya besar, tapi hanya sebelah dengan kuku panjang yang selalu menyentuh atap rumah. Dekka tak berani berspekulasi pada awalnya, namun secara mengejutkan salah satu anggota keluarga di rumah itu meninggal.


Bu Darmi, sang pemilik rumah merasa heran pada awalnya karena saudara iparnya meninggal begitu saja tanpa kejelasan. Tapi Dekka tak juga memberitahukan kepada Bertan ataupun Kek Retno, sampai akhirnya Dekka melihat sesuatu yang lebih aneh dari sebelumnya. Sosok besar itu memang tak lagi menyentuh atap rumah seperti biasa Dekka lewat, hanya saja sosok itu kini menjilati atap rumah itu. Membuat lendir berwarna kehijauan menetes dari mulut besarnya.


Dan Dekka rasa semua itu sudah cukup jelas, ada bahaya yang mengintai rumah Bu Darmi, ada sesuatu yang dikirim oleh seseorang yang entah siapa. Dekka akhirnya mendiskusikan hal itu dengan Bertan nantinya, dan Bertan juga sama penasarannya. Tapi pesan Ayah dan Ibu masih menjadi larangan untuk mereka berbuat sesuatu, maka di malam itu juga mereka memutuskan untuk memberitahu Kek Retno pasal hal itu.


"Ya terus, kalian mau apa?" tanya Kek Retno saat mereka selesai menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang kesana. Dekka dan Bertan hanya saling pandang, benar juga memang apa yang akan mereka lalukan jika mereka tau? Tapi tetap saja entah mengapa mengganjal di hati mereka jika mereka hanya diam tanpa melakukan apapun.


"Ya tapi setidaknya bilang gitu kek, kasian yang gak tau apa-apa takut jadi korban."


Bertan menjawab dan Dekka mengangguk mendukung, sedangkan Kek Retno hanya tertawa mendengar kedua anak muda di depannya yang terlalu naif menurutnya. Apakah mereka ngira Bu Darmi akan percaya, tentu saja jawabannya adalah tidak. Itu tidak mungkin sepertinya, mengingat beliau adalah salah satu orang tersombong yang ada di Desa itu.

__ADS_1


"Terus kalau kalian sudah ngasih tau dia, dia bakalan percaya? Iya kalau mereka percaya, gimana kalau kalian yang kena pada akhirnya? Kakek sih gak mau ikut campur, sudah tua sudah mau mati. Lagipula kakek sudah tidak mampu," balas Kek Retno tak mau kalah.


Bertan dan Dekka hanya diam benar adanya dnegan apa yang Kek Retno katakan. Dekka kemudian hanya ,enghela napas, memutuskan untuk pamit bersam Bertan yang mengikuti dari belakang. Lampu jalan redup menerangi jalan sempit ke rumah, dan akhirnya pintu belakang itu ada di depan mereka. Kali ini mereka berhenti bersamaan, di depan pintu belakang menuju rumah ada sosok yang berdiri.


Sosok yang seharusnya mendiami rumah Bu Darmi kini berada di depan mereka, dan kali ini sebuah ke ajaiban bukan hanya Dekka yang melihat tapi Bertan juga melihatnya. Dekka terdiam, dan Bertan mematung dengan tatapan kosong. Dekka menyadarinya, dengan cepat memutar jalan menuju pintu utama rumah dengan menyeret Bertan yang masih termenung.


"Bertan, sadar!" Satu hentakan keras Dekka layangkan untuk menydarkan sang sepupu, Bertan langsung tersentak. Matanya mengerjap pelan, memastikan bahw yang tadi ia lihat bukan hanya khayalannya, dia menatap Dekka. Dekka menatap bingung, raut wajah Bertan bahkan tak menunjukkan ketakutan seperti dirinya saat pertama kali melihat mereka.


"Lo ngeliat?" tanya Dekka. Bertan mengangguk masih antara percaya dan tak percaya, Dekka langsung membulatkan mata lumayan aneh. Dia lalu tersenyum senang sedetik kemudian, berarti bukan hanya dia yang akan melihat bagaimana menyeramkannya sosok mereka.


Masih ada sosok itu disana, menatap juga ke arah mereka yang sepertinya sudah diketahui akan kembali menemui. Tatapan menueramkan sosok itu layangkan, dan Dekka bisa mendengar teriakan menyakitkan telinga melengking dari sosok itu. Dia menutup telinganya dengan kedua tangan, melepaskan seretan pada tangan Bertan. Sakit menusuk kepalanya, mendengar teriakan melengking itu semakin keras terdengar dan anehnya Bertan tak merasakan hal yang sama.


"Jangan ikut campur!"


Sosok itu berkata dengan suara rendah menyeramkan, lalu menghilang dari harapan mereka setelah mengucapkan kalimat demikian. Dekka langsung berjongkok, kepalanya terasa sangat sakit setelah mendengar lengkingan sosok itu. Bertan mendekati Dekka, memapah sepupunya itu untuk masuk kembali ke dalam.

__ADS_1


"Kita belum bisa ikut campur, dia tau niat kita. Shh bangsat sakit banget kepala gue," ucap Dekka sembari meringis sambil menjambak rambutnya. Bertan ikut meringis melihatnya, padahal dia tak mendengar apapun dari sosok itu.


"Gue gak denger apapun," ucapnya.


"Beruntung, ini sakit banget."


"Tspi De, lo ngerasa ada yang aneh gak sih? Entah mengapa rasanya gue pernah merasakan aura sosok itu," ucap Bertan menjelaskan. Dekka menggeleng, dia tak pernah merasakannya, bahkan sosok Bu Darmi masih aing menurutnya. Hanya keluarga dari beliau yang tak pernah bertegur sapa dengannya selama dia tinggal disana.


"Lupain, gue mau tidur sakit kepala gue. Besok anterin gue ke kota, ada yang perlu gue urus," ucap Dekka.


Mereka yang tak menyadari, mereka yang terlalu naif dan penasaran membuat sosok yang awalnya tak menargetkan mereka mulai mengintai. Tanpa mereka sadari sosok itu mulai terus mengawasi sepanjang malam atas perintah dari sang tuan. Bahaya yang seharusnya tak pernah mereka dapatkan, akhirnya datang karena kenaifan mereka yang tak sengaja di dengar oleh sang tuan dari sosok itu.


Di rumahnya Kek Retno hanya menonton adegan tadi, melihat bagaimana dua pemuda itu akan bersikap. Helaan napas terdengar, sungguh sosok pemuda itu benar-benar mengingatkannya pada snag sahabat lama dulu.


"Mereka benar-benar keturunan kalian, semoga saja nasibnya tak sama apesnya."

__ADS_1


__ADS_2