DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 8 - Endah


__ADS_3

Redup samar lampu jalan menerangi rerindangan pohon di sekitar. Disana sosok itu berdiri, memandang ke arah Dekka masih dengan tatapan anehnya. Dekka hanya diam, ingin berkomunikasi namun ketakutan masih melanda dirinya. Di belakangnya Bertan hanya diam, memandangi punggung Dekka dan menatap sesekali lurus ke depan yang kosong menurutnya.


Hari sudah malam, namun Dekka dan Bertan kini bersama berada di luar rumah mereka. Pintu belakang itu menjadi tempat terbaik untuk melihat 'mereka' karena mengarah langsung ke kegelapan. Suasana di sekitar sudah sepi, sepertinya semua warga yang lain sudah tertidur. Wajar saja karena jam sudah menunjukkan pukul 23.54 saat ini.


"Dekka, dia disana?" tanya Bertan. Dekka mengangguk, dalam diam dia berusaha menenangkan dirinya. Bertan menyadari, kemudian dia maju selangkah menjajarkan posisi dengan yang lebih tua. Ditepuknya pelan bahu Dekka yang membuat Dekka langsung menoleh menatap ke arah Bertan. Diusapnya pelan bahu Dekka, memberi ketenangan dan keberanian pada Dekka.


"Lawan Dekka, kalau lo mau ngebuktiin ucapan Kek Retno salah lo harus hilangin ketakutan lo. Tarik napas lo, pelan-pelan dan lawan rasa takut lo," ucap Bertan.


"Gak semudah yang lo kira, Bertan."


Dekka terkekeh sambil menggeleng kan kepalanya. Namun tak ayah dia menuruti perintah Bertan. Dia menarik napas panjang, menahannya sebentar lalu membuangnya. Dia melakukan hal itu berulang kali sampai akhirnya pemuda itu merasa lebih tenang. Matanya yang sebelumnya terpejam mulai dia buka, menatap lurus kembali ke arah sosok di depannya.


Perlahan tapi pasti dia mulai kehilangan rasa takutnya, dan saat menatap kembali sosok di depannya sosok itu terlihat membuka mulutnya. Dekka menunggu sebuah suara mengalun ke telinganya, namun tak ada apapun yang dia dengar bahkan setelah berkali-kali sosok itu membuka dan menutup mulutnya. Merasa kesal, Dekka menatap sosok itu sembari mengacungkan jari tengahnya dan beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


"To long."


Suara lemah dan lirih itu terdengar di indra pendengarannya setelah Dekka melangkah dua langkah kedepan, setelah sekian lama akhirnya sosok itu berbicara. Dekka langsung membalikkan badannya lagi, membuat Bertan yang baru saja akan ikut masuk kaget. Dekka menatap lekat sosok itu, berusaha memastikan bahwa suara lirihan tadi berasal dari sosok itu.


"To long."


Lagi dan lagi hanya itu yang terlontar dari bibir sosok itu, Dekka menatap ke depan lurus menunggu sosok itu melanjutkan kata. Tapi tidak ada sesuatu yang terlontar, sedangkan Bertan dibelakang memegang bulu kuduknya yang berdiri. Hawa di sekitar menjadi jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya, terasa begitu mencekam dengan hembusan aingin malam yang dingin.


"Mau minta tolong apa?" tanya Dekka pada sosok itu. Sosok itu tak menjawab, dia hanya menatap Dekka dnegan tatapan anehnya. "Kalau kamu gak bilang, saya juga gak bakalan bisa nolonginnya. Lagian saya juga gak bisa nolongin kamu kalau itu diluar kuasa saya." Dekka melanjutkan.


"Jasad kamu harus saya temukan bukan?" Sosok itu mengangguk mengiyakan. "Kalau begitu tunjukkan dimana, biar besok saya cari sekarang sudah malam, saya juga perlu tidur," ungkap Dekka. Dan bukannya menjawab pertanyaan Dekka, sosok itu malah melayang ke arahnya dengan gerapan cepat dan tiba-tiba. Wajah menyeramkannya tepat berada di depan Dekka, dengan rambut yang berjatuhan ke wajah Dekka.


Detik selanjutnya Dekka kehilangan kesadaran, dan Bertan yang dibelakangnya menangkap tubuh Dekka yang limbung dengan gerakan reflek. Tubuh itu tidak demam, tapi Dekka tiba-tiba saja pingsan yang membuatnya kaget. Akhirnya dnegan kesuasahan Bertan membawa tubuh itu masuk dan langsung membawa tubuh Dekka ke kamar. Dia baringkan tubuh Dekka di kasur dan dia juga ikut berbaring di sebelahnya. Matanya ia ikut pejamkan, sampai akhirnya dia benar-benar masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Dekka mengerutkan kening karena dirinya berada di tempat yang tidak asing untuknya. Sebuah sungai yang baru saja dia datangi tadi pagi bersama Bertan untuk memancing. Di sana dia tidak melihat apapun, hanya pepohonan rindang di sekitar. Tubuhnya juga terasa aneh, terasa lebih ringan dari biasanya.


Setelah lama menengok kesana kemari Dekka akhirnya melihat seseorang datang. Seorang lelaki yang menyeret seorang perempuan yang wajahnya sudah babak belur. Perempuan itu terus mengaduh kesakitan tapi lelaki itu tampak seolah tidak peduli. Dekka merasa familiar dengan wajah perempuan itu, terutama tatap mata yang mengingatkannya pada sosok kuntilanak basah.


"Endah, kau benar-benar tidak tau malu. Apa kau masih tidak mengerti bahwa kita tidak pantas bersanding? Aku telah memberimu keputusan untuk menggugurkan anak itu tapi kau memilih mengumbar aibnya, maka maafkan aku jika aku melakukan hal ini."


Dekka tau beberapa hal sekarang, nama perempuan itu Endah dan dia sedang hamil. Kejadian berikutnya membuat Dekka terkejut sekaligus geram, lelaki itu mendorong Endah yang masih dalam kondisi lemah ke sungai. Lalu lelaki itu pergi begitu saja, meninggalkan Endah yang kesusahan untuk kembali ke pinggir sungai karena keadaan sungai yang memang sedang arus deras.


Kejadian berikutnya sungguh lebih mengenaskan, Endah yang fokus mencoba untuk kembali ke pinggiran sungai tak menyadari bahwa di belakangnya terdapat batu besar. Dia yang tubuhnya terbawa arus besar tidak bisa menghindari tabarakan yang membuatnya langsung kesakitan. Tubuhnya sudah remuk dan kini menjadi lebih remuk setelah menabrak batu itu.


Lalu tubuh Endah semakin melemah bersamaan dengan arus yang semakin besar, perlahan tubuh itu mulai kehilangan kemampuan menahan arus. Sehingga Endah memutuskan untuk membiarkan tubuhnya terbawa arus, membiarkan tubuhnya beberapa kali menabrak bebatuan sampai akhirnya kehilangan kesadaran.


Dekka disana, menjadi saksi dalam diam saat tubuh itu mulai terbawa arus sampai napas terakhir dari sosok itu terhembus. Dekka menahan napasnya, sungguh mengenaskan nasib dari Endah. Pantas saja sosok yang ia temui kemarin dan hari ini dalam keadaan basah, ternyata itu berhubungan dengan penyebab kematiannya. Dekka mengerti sekarang, mungkin jasad Endah sampai saat ini belum ditemukan dan dikebumikan dengan layak sehingga sosok itu mencarinya.

__ADS_1


Dekka menganggukkan kepala mengerti, setidaknya dia paham sedikit situasinya sekrang walaupun dia belum memastikan apakah yang dia lihat batusan benar atau tidak. Dan untuk sosok lelaki yang mendorong Endah, Dekka akan mengingat lelaki itu. Sekarang dia melupakan hal itu, karena otaknya tiba-tiba mengingat tentang bagaimana caranya dia kembali ke rumah karena semua hal disekelilingnya menjadi asing dan gelap. Samar di dalam kebingungannya, Dekka mulai mendengar suara seseorang.


"Dekka, bangun!"


__ADS_2