DESA SEBERANG

DESA SEBERANG
Bab 11 - Takdir yang Terikat


__ADS_3

Dengan rasa penasaran yang tinggi, setelah menyelesaikan satu lagi cerita horor miliknya berdasarkan kisahnya sendiri Dekka langsung menelepon ayahnya. Ponsel itu menampilkan layar sang ayah dan sang ibu yang sedang duduk di sofa ruang tamu, entah dimana saudara nya yang lain Dekka tak peduli. Di samping Dekka ada Bertan yang juga ingin mendengar penjelasan lebih lanjut tentang nenek, tentang hal yang mungkin tak mereka ketahui.


"Bu, yah ayolah. Masak Dekka sama Bertan gak boleh tau tentang keluarga sendiri," ucap Dekka tatkala Ibu dan Ayah menolak untuk berbicara. Bertan hanya menyimak, sedangkan di sisi lain ayah dan ibu secara kompak menghela napas mereka. Bukan ingin merahasiakan namun sepertinya memang lebih baik untuk melupakan masalalu yang cukup kelam itu ketimbang dengan mengungkapnya kembali hanya karena sebuah rasa penasaran.


"Bukan ayah sama ibu mau ngerahasiain ini dari kalian, tapi memang ini lebih baik dilupakan. Lagipula sekarang ibu tanya, kenapa Dekka tiba-tiba nanya hal ini" tanya Ibu balik. Dia juga butuh penjelasan tentang anaknya yang tiba-tiba menanyakan tentang silsilah keluarga mereka dan juga Bertan ikut-ikutan. Helaan napas Dekka lakukan, sebenarnya ragu ia ungkapkan namun apa boleh buat.


"Dekka bisa melihat mereka lagi yah, bu. Sejak kepindahan Dekka kesini, Dekka jadi bisa lihat mereka dan itu juga buat Dekka bingung. Karena ibu dan ayah sempert bilang kan kalau Dekka gak bakal melihat mereka lagi, tapi sekarang Dekka malah liat lagi."


Ayah dan ibu tersentak di seberang vidio, memang benar mereka sempat diberitahu dulu bahwa Dekka tidak akan bisa melihat 'mereka' tapi itu tak bisa bertahan lama. Terutana sekarang Dekka memasuki kawasan yang memang 'mereka' huni sedari dulu. Tempat yang memiliki banyak cerita kelam, yang menjadi alasan mengapa Ayah dan Ibu memutuskan untuk membawa keluarganya pergi dari sana.


"Dekka gak berhubungan kan dengan mereka, gak ikut campur dengan urusan mereka kan, nak?" tanya Ayah. Nadanya terdengar khawatir, menatap dalam dari sebelang telepon pada anak sulungnya itu. Dekka hanya tersenyum, tak tau menjawab apa karena ia tak mungkin berbohong tak juga ingin menjawab jujur. Jadi dia hanya bisa tersenyum, membiarkan kedua orang tuanya mengartikan senyum nya itu.

__ADS_1


"Berhenti ya nak, jangan urus urusan mereka. Bertan juga, jangan ya nak, jangan sampai ikut seperti Dekka nanti. Atau kalian pulang kesini saj aya, pergi dari sana?" bujuk Ibu. Sangat jelas dalam nadanya terbesit rasa khawatir pada dua sosok di seberang telepon. Ayah juga mengangguk, menyetujui semua ucapan ibu.


"Bu, kalau Ibu nyuruh Dekka pulang sekarang pun rasanya percuma. Dekka sudah terlanjur masuk ke desa ini, lagipula Dekka gak bakal lewat batasan, akan aneh kalau Dekka tiba-tiba pindah lagi apalagi dengan Bertan. Itu sebab Dekka mohon sama Ibu dan Ayah, mohon ceritakan tentang keluarga kita, Bu. Hanya yang perlu Dekka ketahui, hanya sedikit tak perlu ceritakan semuanya."


Panggilan vidio dimatikan, dan Dekka bisa melihat sang ayah yang berdebat dengan ibunya. Hingga akhirnya sang ibu terlihat mengangguk, dan Ayah kembali menghidupkan suara untuk mengatakan sesuatu pada Dekka dan Bertan. Ayah membenarkan posisi, membuat Dekka dan Bertan ikut menegang karenanya.


"Ayah ceritakan sesuatu, tapi kalian selepas ini tolong jangan ikut campur dengan masalalu ya?" Ayah menarik napas, sebelum melanjutkan menceritakan kisah kelam yang membuat takdir putra sulung dari nya dan sang kakak terseret.


"Dulu, saat Kakek kalian masih hidup. Di Desa ada banyak sekali bencana, satu sama lain saling bermusuhan sehingga menyebatkan petaka datang. Banyak nyawa warga terisa-siakan karena pertikaian dengan ilmu hitam, Kakek saat itu ingin menengahi. Tapi seperti yang kalian tau, Kakek meninggal jauh sebelum kalian lahir. Tapi saudara Kakek tidak terima, dia membalas yang melakukan hal itu pada kakek."


"Jadi, nenek tau kalau Dekka bakalan dalam bahaya kalau Dekka dateng berarti. Tapi Dekka rasa gak ada yang aneh sama Desa ini sekarang, dan itu cuman cerita masalalu kan yah. Lagipula jaman sekarang pasti udah gak ada yang begituan lagi," balas Dekka.

__ADS_1


"Ayah cuman mau meringatin kamu, jangan terlalu ikut campur. Kamu gak bakal tau yang mana musuh dan yang mana keluarga disana Dekka, ayah juga tidak bisa datang kesana sebenarnya. Tanah itu terkutuk untuk ayah dan ibu, juga untuk adik-adik kamu. Sudah, hanya itu yang bisa ayah sampaikan, ayah gak bisa menceritakan terlalu banyak Dekka," ucap Ayah. Ibu mengangguk, berharap dua pemuda itu mengerti dengan apa yang mereka katakan.


"Tapi om, kalau saya sama seperti Dekka itu berarti saya juga bisa melihat mereka?" tanya Bertan. Ayah hanya mengedikkan bahu, sejujurnya dia juga tak tau pasal itu. Yang dia ingat ibunya pernah berkata bahwa dua anak sulung yang lahir di dua mantunya yang akan meneruskan semua pertikaian masalalu itu. Dan jika mereka gagal, keturunan berikutnya yang akan kena masalahnya.


"Tapi om harap jangan terlalu dipikirkan, lupakan saja. Seperti yang Dekka katakan, mungkin sekarang sudah aman."


"Tapi beneran gak mau pulang saja, Dekka?" tanya Ibu. Dekka ersenyum, menggeleng dan mengatakan tak apa. Dia masih punya pekerjaan yang membutuhkan ketenangan, begitu alasan pada ibunya. Padahal jauh dalam benaknya dia ingin tau kebenaran tentang segala kejanggalan keluarganya. Kematian Kakek, kematian orang tua Bertan, kematian Nenek. Dan ternyata bukan hanya dia yang berpikir begitu, karena kini Bertan menatapnya dengan tatapan serius.


"Denger kata om tadi kan? Kita terikat takdir Dekka dan kalau kita gagal keturunan selanjutnya yang akan kena. Lo ngerti maksud gue kan?" tanya Bertan. Dekka mengangguk, mereka berdua lalu sama-sama melontarkan senyum satu sama lain.


"Tapi lo yakin kita bakalan berhasil Dekka?"

__ADS_1


"Jangan pernah ragu, lo cukup percaya sama diri lo sendiri dan perlindungan Tuhan."


Lagi dan lagi Bertan tersenyum, dia merasa kagum dengan Dekka yang lumayan cepat beradaptasi dengan hal mistis yang baru dia alami akhir-akhir ini. Jadi mulai hari itu, setelah mereka mengetahui takdir yang mengikat mereka, mereka mulai selalu bersama. Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka yang selalu memasuki kamar nenek untuk mencari kejanggalan membuat sensitivitas Bertan terhadap kehadiran 'mereka' meningkat.


__ADS_2