
Gelap gulita dengan ruangan pengap tak bercahaya. Disana Dekka berada, dengan sosok besar di depannya menatap tajam je arahnya. Dekka terduduk diam di pinggir ruangan, dengan tangan yang memeluk lutut dan wajah ketakutan. Sosok di depannya sungguh sangat menakutkan, dengan mata hitam pekat wajah dan badan hitam besar.
"Kau menganggu!"
Sosoknya berbicara keras, menggema dengan suara khas dan serak. Dekka menutup telinganya, tak ingin mendengarkan lagi hal apapun yang akan sosok itu katakan nantinya. Sosok itu masih gencar berbicara, terus mengatakan Dekka lancang kepadanya. Padahal Dekka tidak tau, apa hal yang salah yang telah dia perbuat sebelumnya.
"Kembalikan milik ku!" ucap sosok besar itu lagi. Dekka semakin mengeratkan tangannya untuk menutupi telinga, kepalanya terasa pusing sungguh. Bekas cekikan tadi pun masih terasa, itu yang membuay Dekka tidak yakin bahwa sekarang dia sedang bermimpi. Padahal sedari tadi dia berdoa kapada Tuhan agar semua yang dia alami hanyalah sebuah mimpi semata, bukan keadaan sebenar.
"Lawan, Dekka!"
Suara lain terdengar di suaranya, dengan suara halus lembut tak pernah didengarnya. Dekka memberanikan diri membuka telinga dan matanya yang tertutup, meyakinkan diri dia tidak sendiri disana. Namun tetap saja, iti hanya angan karena nyatanua yang ada di depannya hanya sosok besar itu saja, namun suara itu masih terus terngiang di kepalanya. Bagai sebuah perintah yang mengharuskannya untuk menuruti setiap apa yang sosok itu katakan padanya.
"Dekka, lawan dia nak. Kalau kau ingin kembali lawan sosok itu. Derajat mu lebih tinggi nak, lawab dia dengan segenap keberanian mu."
"Enggak, gak bisa," ucap Dekka lirih menyahuti. Entah bagaimana dia merasakan kehangatan dalam dingin suasana ruangan pengap itu. Rambutnya terasa ada yang mengelus, tubuhnya seakan di dekap hangat oleh seseorang yang tak nampak. Lagi Dekka menatap ke depan, sosok itu masih berucap mengatakan dia lancang dengan suara serak dan keras. Tatapan menghunus masih diberikan padanya yang masih ketakutan.
"LAWAN!"
__ADS_1
Itu adalah kata terakhir yang Dekka dengar sebelum rasa hangat itu menghilang dan yang ia dengar kembali hanya suara sosok besar itu. Dekka mendapatkan keberanian, entah darimana asalnya dia mulai mengangkat kepala. Beradu tatapan tajam dengan sosok di depannya, sosok itu tampak lebih marah mengeram keras yang tetap membuat Dekka menutup telinga kesakitan.
"Saya tidak pernah lancang," ucap Dekka walau masih ada getaran ketakutan dalam setiap kata yang terucap. Dia melangkah maju, mendekat ke arah sosok itu. Hatinya terus berdoa, agar dirinya bisa selamat dan hal ini akan segera terselesaikan nantinya.
"Kembalikan rambut ku!" ucap sosok itu. "KEMBALIKAN! KEMBALIKAN!"
Dekka menutup telinga lagi, sial itu terlalu menusuk ke indra pendengarannya. Dan saat itu dia baru mengingat apa yang ia lakukan dengan Bertan di rumah Bu Darmi tadi. Bungkusan dengan kain hitam, apakah itu yang sosok itu maksudkan dengan miliknya? Rambut dari sosok itu? Jika iya, maka itu pasti semua asal-usul masalah yang ada disana.
"Kau telah membuat derita keluarga Bu Darmi! Kau tidak seharusnya ada disana, kembali ke tuan mu!" Dekka berbicara memerintah, sosok itu tertawa menanggapi seolah apa hang Dekka katakan merupakan hal yang lucu. Dekka mengernyit heran, dia tidak sedang melawak sehingga ada yang bisa menjadi bawan tawaan.
"Aku sudah bersama tuan ku. Tuanku yang menempatkan diriku di sampingnya, tuanku yang begitu baik!" ucap sosok itu.
"Kau tak perlu tau, KEMBALIKAN CEPAT RAMBUT KU!"
"TIDAK! PERSETAN DENGAN SEMUANYA KAU TELAH MEMBUAT ORANG TAK BERSALAH MENINGGAL!" bantah Dekka. Dia berteriak marah, mendengar jawaban dari sosok itu Dekka yakin bahwa Bu Darmi adalah pelakunya. Beliau sendiri yang mengorbankan keluarganya kepada sosok itu. Mungkin untuk kekayaan, mungkin juga untuk kecantikan semua hal bisa menjadi alasan bahkan rasa iri dengki.
Sosok iru mulai menyerang, melayangkan tangannya kedepan dan membuat Dekka menghindar kaget. Kepalanya sedikit terbentuk tembok, dan sosok itu mengeram marah karena Dekka menghindar. Saat sosok itu akan menyerang lagi, Dekka mulai berdoa dalam hati.
__ADS_1
Bagai sebuah keajaiban, sosok itu berteriak kesakitan mengatakan kata panas. Dekka hanya melihat, menyaksikan bagaimana sosok besar itu perlahan menyusut dengan kondisi tubuh mengeluarkan asap berbau gosong tak bercampur bangkai. Rasanya semua isi perut Dekka ingin keluar mencium hal itu bersamaan.
Disisi lain, Bertan beramaa Kek Retno berusaha yang terbaik untuk melawan sosok itu bersama Dekka. Kain hitam yang tadi Bertan ambil dari rumah Bu Darmi dibakar bersamaan dengan semua barang yang tadi diberikan. Bau busuk bangkai memasuki hidung, kobaran api semakin besar dengan asap hitam yang mulai mengelul di depan rumah Bertan.
Kek Retno terus menyuruh Bertan membiarkan api hidup, setidaknya sampai Dekka akhirnya sadar dan membuka mata. Tak lama kemudian, teriakan keras Bertan dengar yang membuat dirinya tersentak. Di depannya sosok besar itu berada dengan asap yang keluar dari tubuhnya. Sama seperti apa yang Dekka lihat, sosok itu menyusur bersamaan dengan kobaran api yang semakin besar. Lama-kelamaan sosok itu menghilang, bersamaan dengan teriakan juga hilang.
Kini api sudah mengecil, dan saat Bertan hendak kembali menyiram dengan minyak suara batuk mengalihkan atensi. Dekka sepertinya telah sadar sehingga dirinya langsung berlari ke kamar mendapati Dekka yang sudah duduk dengan hidung mengeluarkan banyak darah. Bertan panik, dia meraih tisu di ruang tamu dengan berlari lalu langsung memberikannya pada Dekka.
Kek Retno hanya memerhatikan pada awalnya, sampai akhirnya dia mendekat dan menepuk pelan pundak Dekka yang sudah tak lagi mimisan. Tisu terakhir yang ia gunakan hanya berisi sedikit darah, sedangkan tiga tisu lainnya sudah berubah menjadi warna merah.
"Bagus Dekka, begitu caranya. Lawan mereka Dekka, jangan kalah dengan mereka yang derajatnya lebih rendah dari kita!"
Dekka tersenyum mengangguks sebagai jawaban, tubuhnya masib terasa lemas. Bertan dengan telaten membantunya kembali berbaring, Kek Retno kemudian pamit. Ini sudah sangat malam, Dekka tak sadarkan diri cukup lama.
"Jangan berurusan dengan mereka tanpa persiapan lain kali, kau beruntung bisa selamat sekarang, Dekka." Kata Kek Retno sebelum akhirnya pergi berlalu diantar oleh Bertan.
Dekka menghela napasnya, dia kembali lemah karena berurusan dengan mereka. Ini yang tak Dekka sukai, harusnya dia bisa lebih berani setidaknya seperti Bertan, bukan penakut seperti sekarang.
__ADS_1
"Gak usah mikirin macem-macem, mending tidur lagi."