
Sejak kejadian itu, warga kampung sering membicarakan tentang bencana yang akan terjadi di kampung itu. Dekka dan Bertan juga kadang mendengar bahwa mereka mengatakan hal yang berhubungan dengan kutukan. Dua hari kondisi desa masih saja kacau, banyak warga yang kadang masih meminta pertanggung jawaban dari keluarga Bu Darmi.
Bahkan pemakaman Bu Darmi kemarin tak dihadiri oleh satupun warga disana, termasuk Bertan dan Dekka atas perintah dari Kek Retno. Beliau tak menjelaskan alasannya, hanya saja perintah itu mutlak tanpa tapi dia berikan pada mereka. Dekkapun bingung sebenarnya ada apa, karena seingatnya sejak kematian Bu Darmi tidak ada lagi sosok besar itu di penjuru kampung manapun. Hanya sesekali dia melihat Mundo yang kadang masih memantaunya. Dekka pun tak tau mengapa, namun Bertan mengatakan mungkin dia ingin menjaga mereka.
Saat malam hari, bahkan sebelum jam delapan malam kampung sudah akan sepi. Berbeda dari sebelumnya yang akan sepi setelah jam 10 malam. Warga banyak yang takut keluar dari rumah mereka, bahkan gosip tentang arwah Bu Darmi yang gentayangan mulai menyebar. Dekka dan Bertan tentu saja tidak percaya akan hal itu, karena mereka belum menemukan sosok Bu Darmi selama ini.
Tapi ada sosok lain yang muncul setelah peristiwa kematian Bu Darmi. Sesosok kakek-kakek kerap hadir di hadapan mereka. Namun akan hilang setelah mereka menyadarinya, selain itu juga ada beberapa sosok lain yang menurut Kek Retno sebelumnya tak pernah ada disana. Bertan melihat beberapa, tapi dia tidak bisa melihat kakek-kakek yang Dekka katakan. Hanya itu yang masih membuat dia penasaran karena semua sosok lainnya pernah dia lihat sebelumnya.
"Kek, saya masih penasaran kenapa warga begitu takut untuk keluar malam. Bahkan saya rasa aturan desa ini aneh sejak pertama kali saya kemari, tapi saya enggan bertanya."
Tak ingin mersakan rasa penasaran lebih lama Dekka bertanya, tak menjawab Kek Retno hanya menyeruput kopinya santai atas pertanyaan dari Dekka. Bertan juga ingin tau, karena dia juga tak pernah dijelaskan tentang semua aturan yang tak begitu masuk akal itu. Lama mereka terdiam, dilanda keheningan dan hanya binatang tengah hari yang mengeluarkan suara ribut.
"Ketimbang itu, kenapa kamu enggak nanya kenapa disini enggak ada sekolah?" Kek Retno balik bertanya. Oh ya, Dekka baru menyadari hal itu. Disini sama seklai tidak ada sekolah, hanya ada di luar pintu masuk desa dan itupun sekolah dasar. Dekka menoleh ke arah Bertan, pemuda itu tampak tenang diatas kebingungannya.
__ADS_1
"Lo sekolah dimana?" tanya Dekka.
"Di depan, gue selesai sekolah waktu SMP kalau lo lupa," jawab Bertan.
"Sebelum Desa ini aman, seperti yang sudah para warga bicarakan ada tragedi besar disini. Perang ilmu hitam sempat terjadi, dan jika kalian perhatikan tidak ada banguna ramai disni. Empat tempat terlarang itulah yang menyebabkan Desa yang semula sempat aman beberapa kali kembali menjadi bencana. Hari itu, bangunan balai Desa untuk acara sempat di bangun, awalnya tak ada masalah tapi akhirnya banyak yang kesurupan."
"Sekolah pun sempat di bangun, namun pekerja banyak yang meninggal dalam proses. Kalian tau, har pertama sekolah di operasikan bahkan sudah memakan korban." Kek Retno menjelaskan.
"Untuk Darmi, dia melakukan kesalahan fatal. Tak seharusnya dia mengundang makhluk lain yang membuat penghuni disini marah, jika kalian perhatikan makhluk-mahluk yang baru terlihat itu adalah undangan dari mereka yang punya rumah. Ingat kita hanya menumpang disini, itu yang menyebabkan mereka panik. Ini hanya sebuah peringatan, kalian jangan terlalu kaget jika suatu saat ada salah satu dari warga yang mendadak kesurupan atau berperilaku aneh." Kek Retno menjelaskan.
Lalu keesokan harinya susuatu itu terjadi. Salah satu warga tiba-tiba kesurupan, meraung menggali tanah kuburan dan memakannya. Dekka yang melihat hal itu dari kejauhan bergidik ngeri, tak ingin mendekat ke arahnya yang kesurupan. Selain itu ada hal lain yang membuat Dekka takut untuk mendekat, yaitu sosok kuntilanak merah yang selalu mengawasinya sejak senja tadi.
Doa bicakan, beberapa warga laki-laki yang bertubuh besar bersusah payah menenangkan satu wanita yang lebih kecil darinya. Keluarga dari perempuan itu pun tak berani mendekat, setelah kuku perempuan itu yang tak terlalu panjang mencakar wajah saudarnya sampai luka dan berdarah.
__ADS_1
"Mending masuk De, ketimbang nontonin itu. Nanti lo ikut kesurupan lagi, lo kan gampang ngeliat," ucap Bertan menepuk pundak saudaranya. Dekka mengangguk, mengikuti langkah kaki Bertan untuk masuk ke dalam rumah. Suasana yang riuh akhirnya perlahan tenang, sehingga Dekka yakin bahwa semua kondisi kembali kondusif seperti sebelumnya.
Dekka mengintip dari jendela, dan benar saja warga dengan cepat menghilang dari sana. Dekka menghela napas lega, setidaknya suasana kembali tenang. Namun itu hanya berlangsung sebentar, karena sosok kakek-kakek yang sebelumnya Dekka lihat sekarang ada di depannya. Melambaikan tangan untuk memanggil dirinya memberi perintah mendekat.
Tak ingin Dekka pedulikan, dia lebih memilih untuk mengalihkan pandang. Bertan yang ada di depannya mematung membuat Dekka menahan napas. Sosok Bertan di depannya memiliki wajah yang aneh, dari sorot matanya pun berbeda. Dalam hati Dekka mengumpat, sialan apakah sekarang Bertan juga ikut kesurupan?
"Kak, harusnya jangan datang ke rumah ibu. Kakak dalam bahaya," ucap Bertan dengan nada anak kecil. Dekka bergidik ngeri, oke sekarang ini terasa lebih menyeramkan. Dia berdiri dari duduknya, hendak keluar tapi tangan Bertan mencekal pergelangan tangannya erat. Tak membiarkannya untuk kabur dari sana.
"Jangan takut kak, aku gak bakal nyakitin kakak. Aku cuman mau bilang itu, kakak dan kakak ini dalam bahaya, kalian harus hati-hati."
Setelah mengatakan hal itu, tubuh Bertan langsung limbung dan untung Dekka dengan cepat bisa menangkapnya sebeum tubuh Dekka menyentuh lantai. Ditepuknya pelan pipi Bertan yang tak memberikan respon apapun padanya. Dia menghela napas, astaga kali ini giran Bertan yang pisang. Digotongnya tubuh Bertan kedalam kamar, menidurkannya di kasur dan dia ikut mendudukkan diri di kasur sebelahnya.
"Bahaya gimana?"
__ADS_1