
Shena berjalan keluar dari ruangan Romi. Dia merasa tidak puas dengan apa yang didapat. Tidak mau kalah dengan Romi dia berpikir untuk membalas mereka. Shena memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya menuju kantor lelaki itu.
Di dalam pikirannya hanya ada kebencian terhadap lelaki itu.
Kekacauan pertama dimulai dari tempat kerja lelaki itu. Dia tidak rela sedikitpun melihat lelaki itu tertawa di atas penderitaannya. Apalagi dia tidak bisa menemui anak-anaknya karena di bawah pengawasan lelaki itu.
Berjalan dengan penuh semangat diri meninggalkan kantor lagi itu setelah berhasil membuat lelaki itu syok. Walaupun belum bisa menemui anaknya akan tetapi ya cukup senang saat ini.
Shena berjanji kepada dirinya sendiri jika ia akan merebut hak asuh anak-anaknya bagaimanapun caranya.
Shena kaget ketika di lobi ia bertemu dengan tuan Randi. Begitu juga dengan lelaki itu yang juga nampak kaget melihat Shena.
"Tuan." Kemuning memberikan hormat kepada tuan Randi.
Randi hanya berjalan tanpa membalas dari wanita itu. Dia hanya berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah wanita itu.
"Dasar tuan tidak punya akhlak, belagu amat, untung saja kamu majikan aku, jika tidak aku jitak kamu." Gumamnya dengan kesal.
"Apa yang kamu cari ke sini? Apa dia lagi?" bathin Randi.
"Tuan, wanita adalah istri dari pak Romi, manager umum kita, sepertinya dia menegur kamu." ucap sang sekertaris.
"Lalu saya harus seperti apa yang kamu harapkan?"
"Saya kira tadi tidak tidak mendengar sapaan istri pak Romi?."
"Dia mau bercerai dengan lelaki itu." jawab Randi.
"Berarti banar pak Romi mendua?" Tanya sekretaris Randi.
"Lalu bagaimana hubungan mereka?" Tanya sekretarisnya ingin tau dari mulut bosnya.
"Tanya aja lansung sama orangnya." jawab Randi membuat kesal sekretaris, namun ia masih tidak memperlihatkan kekesa-.
"Yang kami liat mereka cukup ideal, pak Romi sangat mencintai istrinya, dia selalu menomor satukan sang istri, masa iya pak Romi menduakan istrinya pak."
"Jika Romi selalu menomor satukan istrinya,mana mungkin Romi teepikat adik iparnya yang tidak seberapa itu." bathin Randi.
Randi berjalan menuju ruangan Romi. Entah kenapa dia sangat ingin mendengar dari mulut lelaki itu secara lansung mengenai perkembangan perceraian lelaki utu. Dia tidak ingin mendengar hanya dari salah satu pihak saja.
"Tuan mau kemana?" Tanya sekretarisnya.
__ADS_1
"Kamu ke meja kamu aja, aku ada urusan kerja dengan pak Romi." Jawab Randi.
Sekretaris hanya menggelengkan kepalanya. Karena ia merasa heran saja bisa - bisanya tuan Randi menghampiri pegawainya. Biasanya tuan Randi selalu memanggil karyawannya ke ruangannya.
Randi mengetok pintu ruangan Romi. Dia bisa saja lansung masuk ke ruangan itu. Namun dia masih mengutamakan etika dan adab.
"Masuk."
Randi membuka pintu ruangan Romi dengan perlahan. Romi tampak kaget melihat atasannya masuk ke ruangannya. Tidak biasanya atasannya menghampirinya lansung.
"Duduk tuan, ada apa tuan masuk keruangan saya? Apa yang perlu tuan butuhkan dari saya?" Tanya Romi dengan sangat ramah.
"Tidak ada, saya hanya ingin bertanya aja ke sini.' jawab Randi lansung duduk di kursi yang kosong di hadapan Romi.
"Ada apa tuan?"
"Siapa wanita yang dari ruangan ini?" tanya Randi serius.
Romi kaget ketika atasannya bertanya tentang Shena. Dia bingung mau jawab apa. Karena di kantor belum ada yang tau tentang kasus poligami dirinya.
"Dia istri saya tuan."
Romi tampak kaget ketika atasan yang menyebutkan mantan istri
Dia curiga jangan - jangan Shena telah mengambil langkah untuk melaporkannya kepada atasannya. Untuk itu dia tidak akan diam jika wanita sudah berani berbuat tindakan yang merugikan kariernya.
"Siapa dia pak Romi? Tampaknya anda kaget."
"Saya hanya kaget tuan bagaimana tuan bisa tau tentang rumah tangga saya? "
"Cukup kamu jawab pertanyaan saya." Ucap Randi dengan tegas.
Romi memutar otaknya agar kariernya tidak hancur. Dia tidak ingin namanya jelek di kantor. Selama ini dia di anggap lelaki yang bucin sama istri.
" Sebenarnya kami memang dalam proses perceraian, awalnya saya menolak bercerai dengan istri saya, namun istri saya tetap memaksa saya untuk menceraikannya, jika tidak maka dia akan nekad melakukan bunuh diri."
Randi cukup terkejut mendengar cerita dari Romi. Dia tidak menyangka bahwa Romi akan mengarang cerita seperti itu. Akan tetap Randi berpura-pura begitu percaya dengan Romi.
"Kenapa dia meminta cerai dari anda?"
"Karena dia bilang dia bosan dengan saya, dia sempat mengancam saya bahwa akan mendekati tuan, agar tuan bisa memecat saya setelah kami berpisah, istri saya tidak tau bersyukur tuan, dia hanya ingin Hura - Hura."
__ADS_1
"Betulkah?"
"Iya tuan, tuan harus berhati-hati dengan dia karena dia dengan gampang bisa memanipulasi cerita, dia bisa menjadi wanita yang sederhana agar gampang di kasihani tuan, selama menjadi istrinya saya, dia selalu menelantarkan saya dan anak - anak, sampai akhirnya keluarganya juga memarahi dia, namun dia membangkang dan pergi meninggalkan rumah kami, dia nekad tuan untuk menggapai mimpinya, dia juga sering kabur di malam hari, saya dan keluarga sudah tidak sanggup tuan, jadi saya lebih memilih bercerai dengannya." Randi hanya fokus mendengarkan cerita Romi sambil tersenyum mengejek.
Selama Romi bekerja dengannya, dia sudah tau bahwa lelaki itu sering membohonginya termasuk uang perusahaan. Randi hanya membiarkannya terlebih dahulu agar bisa terjebak terlalu jauh.
"Akan tetapi dia mengancam saya dengan mengambil hak asu anak saya." Ucap Romi dengan lesu.
"Alasannya?"
"Karena di hukum Islam bahwa anak di bawah umur akan di asuh oleh ibunya, dan dia yakin bahwa pengadilan akan mengabulkan permintaannya, namun saya sangat tidak ingin anak saya jatuh ke tangan ibunya, bisa hancur masa depan anak saya."
"Hebat juga akting kamu, tapi kamu begitu bodoh." bathin Randi.
Setelah pekerjaannya selesai, Randi langsung pulang menuju rumahnya. Dia yang biasa pulang setelah magrib, sekarang pulang jam tiga sore.
Randi tidak sabar ingin bertemu dengan wanita itu yang ada di rumahnya. Dia bergegas masuk kedalam rumah. Rencananya jauh lebih matang dari segalanya.
Saat masuk ke dalam rumah dia menemui siapapun. Randi lanjut berjalan menuju dapur. Dia sangat yakin bahwa wanita itu ada di sana. Namun juga nihil.
"Kemana wanita itu?" Tannyanya berjalan menuju lantai dua.
Randi kaget saat melihat Shena keluar dari kamarnya. Dia langsung emosi melihat wanita itu keluar dari kamarnya. Dia yakin bahwa wanita itu telah berniat jelek terhadap dirinya.
"Ngapain kamu di kamar saya? Apa kamu mau maling sesuatu?" Tanya Randi membuat Shena kaget dan sakit hati.
"Walaupun saya miskin tapi saya tidak akan mencuri tuan."
"Lalu ngapain kamu masuk ke kamar saya jika tidak mencuri? Atau kamu memang sengaja menggoda saya ke sini?"
"Anda memang tuan saya, tapi tolong jaga bicara tuan karena saya tidak semurahan itu." Jawab Shena dengan menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia sangat skait hati mendengar ucapan lelaki itu.
"Kamu di larang masuk ke kamar saya, tapi kamu melakukannya, artinya kamu punya niat jelek, jika saya kehilangan barang - barang saya atau uang, maka saya yang akan membawa kamu ke penjara." Ancam Randi.
"Baik tuan, saya hanya....."
"Dan kamu tidak akan pernah mendapatkan hati saya, jadi gak usah mencari perhatian saya, lagian janda bukan tipe saya juga."
"Terima kasih tuan atas kata - kata indahnya, akan saya ingat sepanjang masa, saya pamit tuan."
"Kamu tidak bisa pergi dari rumah ini jika ada barang saya yang hilang." Ucap Randi mengingatkan wanita yang berjalan meninggalkannya.
__ADS_1