
Shena membuka pintu saat ada yang menekan bel rumah. Dia nampak bergegas untuk membuka pintu. Setelah di buka pintu, nampak seorang wanita paruh baya namun masih cantik dan wanita muda cantik. Shena tidak tau siapa mereka.
Kedua wanita itu menatap Shena dengan tatapan menyelidik. Shena melihat ada dua buah koper yang terletak di lantai.
"Maaf Bu cari siapa?" Tanya Shena dengan sopan.
"Kamu siapa? Kamu tidak tau siapa saya?"
"Maaf emang ibu siapa?"
"Awas kamu, minggir, menghalang jalan aja." Ucap ibu itu mendorong Shena sehingga tubuhnya mundur beberapa langkah.
"Buk, saya panggil secutiry jika tidak sopan begini." Teriak Shena sehingga membuat kedua wanita itu tersenyum mengejek.
"Silahkan, yang ada kamu yang saya usir dari rumah ini, Randi, Randi." Teriak wanita paruh baya itu.
"Tuan Randi sedang keluar kota Bu, tidak ada di rumah."
"Kamu pembantu? Pembantu aja songong." Kali ini wanita muda yang berbicara dengan judes.
Bi Neli yang mendengar ribut - ribut itu keluar dalam rumah. Dia kaget ketika menemukan nyonya besar pulang ke rumah tuan mudanya.
"Nyonya? Nyonya kapan pulang ke sini?" Tanya Bi Neli memberikan hormat.
"Kamu didik pembantu baru itu, dia tidak membolehkan aku masuk."
"Maaf saya tidak tau." Jawab Shena lansung menundukkan kepalanya pertanda yang memberi hormat kepada ibu dari suaminya.
"Ayo bawakan koper saya ke kamar tamu yang di bawah." Ucap nyoya besar.
Shena dan bi Neli nampak sama - sama bingung. Melihat kedua pembantunya bengong membuat mama Randi semakin kesal.
"Kalian ini kenapa pada bengong, ayo siapkan kamar yang bawah untuk saya, lalu siapkan kamar sebelah Randi untuk Naila." Perintah nyonya besar.
"Maaf nyonya, untuk kamar di bawah...."
"Mama......."
Mama Randi terlihat kaget melihat seorang anak kecil keluar dari kamar yang dia maksud.
"Siapa itu? Anak siapa itu?"
"Maaf ma,itu anak aku." Jawab Shena.
"Ma? Sejak kapan saya jadi mama kamu?" ucap wanita itu dengan tatapan jijik. Shena bingung harus memanggil apa kepada wanita itu.
"Dan apa ini? Anak kamu? Kenapa anak kamu ikut bekerja, lalu apakah kamu tidur di kamar itu?" tanya wanita itu lagi.
Shena menganggukkan kepalanya sehingga membuat mama Randi semakin marah. Dia bingung bagaimana cara menghadapi mama mertuanya. Lidahnya terasa keluh saat ini.
"Bi Neli sebenarnya siapa wanita ini? Kenapa dia bisa tinggal di kamar kamu bukan di kamar pembantu?"
"Dia Shena nyonya, dia...dia...."
"Saya tidak menanyakan nama dia."
Naila mendekati mama Randi lalu membisikkan sesuatu. Naila merasa ada yang di sembunyikan di dalam rumah ini karena pembantu rumah tangga yang tidur di kamar khusus tamu.
__ADS_1
"Apa dia istri mas Randi Tante?" bisik Naila.
Mama Randi semakin marah karena takut apa yang di bisikkan oleh Naila apa adanya. Dia bisa mati muda jika apa yang di ucapan wanita itu betul adanya.
"Bi Meli apa dia istri Randi?"
Bi Neli dengan ragu menganggukkan kepalanya. Melihat jawaban bi Neli membuat kedua wanita itu menegang.
"Kamu benar istri Randi? Kamu apakan anak saya sehingga mau menerima wanita sejelek ini." ucap mama Randi histeris.
"Saya tidak terima kamu sebagai menantu saya, silahkan kamu pindah ke kamar belakang, kamu itu cocoknya jadi pembantu harusnya sadar diri."
Shena lansung mengemas barang - barangnya untuk pindah ke kamar pembantu. Apa yang di bilang oleh mama mertuanya ada benarnya. Dia memang tidak sebanding dengan sang suami.
Setelah mengemas barangnya, dia lansung membersihkan kamar itu. Lalu setelah itu dia mengganti alas sprei di kamar itu.
Setelah kedatangan mama Randi di rumah itu, semua berubah 180 derajat. Shena mulai merasa tidak nyaman. Apalagi mama Randi selalu menyuruh - nyuruhnya sampai ia merasa lelah sekali.
Shena juga tidak berani lagi duduk di meja makan. Dia makan di dapur bersama anaknya.
Yang membuat hati Shena sakit adalah ketika Naila atau mama mertuanya membentak Aiman yang masih kecil. Aiman yang terbiasa bermain di rumah tengah, tidak di perbolehkan lagi.
Sudah beberapa hari mama Randi di rumah. Randi juga masih belum kembali ke rumah karena banyaknya pekerjaannya.
Shena selalu melihat bagaimana keakraban mama Randi bersama Naila. Mereka seperti ibu dan anak. Dia iri melihat kedekatan mereka, padahal yang Shena tau dari bi Neli bahwa mereka tidak ada hubungan apa-apa.
"Tante, kapan ya mas Randi pulang?"
"Paling besok atau lusa, kamu tunggu aja."
"kenapa kamu berpikiran begitu?mereka itu aja pisah kamar artinya hubungan mereka tidak bagus, kamu tenang aja, Tante akan urus semuanya untuk kamu."
"Kita harus singkirkan wanita dan anaknya itu dari rumah ini."
"Saya setuju Tan, biar saya pikirkan caranya."
Setelah bekerja sama,mereka mencari waktu yang tepat. Mereka sengaja mengundur rencana agar berjalan dengan lancar.
Pagi ini mama Randi mendapat informasi bahwa anaknya akan kembali. Rita berpikir bahwa anaknya harus jauh dari pengaruh buruk dari wanita itu.
Setelah membisikkan sesuatu kepada Naila, akhirnya Naila mengangkat jempolnya. Dia harus mengusir Wanita itu sebelum anaknya pulang.
"Tante...., bantu aku." Terdengar teriakan dari kamar Naila.
"Ada apa ini Naila, sampai harus teriak - teriak segala."
"Ini pasti ada yang maling di rumah ini Tante."
"ada apa?"
"Kalung sama uangku hilang tante, padahal tadi pagi masih ada, tadi cuma Shena yang masuk membersihkan kamar aku Tan."
"Benar Shena?"
"Aku tidak mengambil apa - apa nyonya."
"Mana ada maling mengaku."
__ADS_1
"Tapi itu nggak mungkin nya." Ucap bi Neli.
"Kamu jangan ikut campur, atau kamu yang mencurinya?" Tanya Naila menghardik bi Neli.
"Neli, kamu pergi periksa dan geledah kamarnya dia." Ucap Rita mamanya Randi.
Bi Neli memeriksa dengan teliti apa yang ada di kamar Shena . Dia senang karena tidak menemukan apa-apa. Namun senyum itu hilang setelah melihat kalung dan uang segepok terletak di bawah kasur.
"Kan benarkan, mana ada maling mengaku." Ucap Naila berjalan mengambil kalung dan duit miliknya.
"Aku tidak terima ada maling di rumah ini, silahkan kamu angkat kaki dari sini, pergi kamu hari ini juga." Usir mama Rita.
"Tapi Nyonya...."
"Kamu tidak saya ajak bicara Neli, kamu cepat beresin barang - barang kamu, dan menjauh dari rumah ini." Ucap Rita melihat ke arah Shena.
Shena berkemas dengan cepat. Dia tau bahwa ia tidak bisa membantah mamamertuanya . Apalagi suaminya tidak berada di rumah. Hatinya sangat sedih di tuduh seperti ini. Dia merasa sangat hina sekali di tuduh seperti itu.
"Apa yang akan aku lakukan ya Allah?" bathin Shena.
Shena menggendong anaknya untuk pergi dari rumah itu. Bibi Neli merasa tidak bisa membantu Shena saat ini.
Shena beranjak pergi meninggalkan rumah itu. Baru beberapa langkah, tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan Randi.
"Mama, apa kabar?" Tanya Randi baru sampai di rumah.
"Anak mama udah pulang, liat mama bawa siapa?"
"Masssss." Ucap Naila agak malu.
"Kamu, kapan kamu pulang?"
"Aku udah kangen sama kamu sih." Jawab Naila tanpa malu. Shena merasa hatinya sakit sekali melihat suaminya di peluk oleh wanita lain. Sementara dirinya yang sudah menikah dengan Lelaki itu belum pernah di peluk oleh lelaki itu.
Randi baru menyadari bahwa dia melihat Aiman dan Shena menatapnya dengan tatapan terluka.
"Ma, apa yang mama lakukan terhadap Shena?" tanya Randi melihat Shena mendorong koper.
"Dia mama udah usir."
"Kenapa di usir ma?"
"Dia maling uang dan Kalung Naila" Jawab Mamanya.
Randi tidak percaya dengan ucapan mamanya.
"Ma dia istri aku, tolong hormati dia, dia tidak akan mencuri uang di rumah ini karena aku telah memberikan uang yang cukup."
"Kamu tertipu dengan wanita kampungan itu."
"Aku tidak mau berdebat ma, tolong hargai keputusan aku."
Randi berjalan meninggalkan ruang tamu. Dia lansung membawa Aiman ke dalam gendongannya.
"Ayo ikut aku." ucapnya.
Melihat Randi membawa Shena ke lantai dua membuat Naila semakin meradang. Dia tidak terima jika wanita itu satu kamar dengan Randi.
__ADS_1