Di Sebalik Duka

Di Sebalik Duka
Bab 7


__ADS_3

Randi baru saja pulang dari kantor. Dia tidak menemukan siapa-siapa ketika masuk ke dalam rumah. Setelah membersihkan tubuhnya, Randi turun ke bawah untuk makan malam.


Randi melihat wanita yang baru tinggal di rumahnya sedang menghidangkan makanan di meja makan. Wanita itu lansung menundukkan badannya ketika melihat Randi sudah di meja makan.


"Selamat malam tuan." Ucap Shena.


"hmmm"


"Malam tuan." Ucap bi Neli baru datang dari belakang membawa semangkok makanan.


"Silahkan di makan tuan." Ucap bi Neli lagi.


"Terima kasih bi."


Randi lansung mengambil nasi dan lauk. Dia melihat banyak lauk yang tersedia di meja makan.


"Dona mana bi?apa kabar dia?" Tanya Randi kepada Bu Neli.


"Dona ada di kamarnya tuan, mungkin sedang mengerjakan tugas."


"Sudah makan bi?"


"Kami nanti makannya tuan setelah tuan."


Bibi Neli memang tinggal di paviliun belakang bersama suami dan anaknya. Suami bi Neli bekerja sebagai tukang kebun di rumah ini. Sedangkan anaknya baru saja duduk di kelas satu SMP. Sedangkan untuk security, Randi punya dua orang pulang pergi.


Randi menyuap makanan dengan fokus. Dia tidak melihat ke arah Shena atau bi Neli yang masih setia menemani di meja makan.


"Kamu makan aja Shena, bi Neli biasa makan di belakang bersama keluarganya." Ucap Randi.


"Saya nanti saja tuan."


"Sekarang saja Shena biar ada temannya." Ucap bi Neli.


"Iya, duduklah temani saya makan." Ucap Randi.


Shena akhirnya duduk di kursi yang tidak jauh dari majikannya. Dia mengambil nasi sedikit saja karena ia sedang tidak mood untuk makan.


Memikirkan semua yang terjadi tadi pagi sudah membuat dirinya di lema. Dia masih ingat bagaimana ibunya mengusir dirinya. Hatinya sakit karena ibunya lebih peduli perasaan adiknya ketimbang dirinya sendiri.


Randi memperhatikan Shena yang tadi nampak mengaduk nasinya saja sambil melamun. Dia tau pikiran wanita itu sedang tidak di sana.


"Apa yang terjadi dengannya? apa dia kembali kerumahnya?"bathin Randi.

__ADS_1


Begitu juga bi Leli, dia merasa kasihan dengan wanita muda itu. Di umurnya yang masih muda tapi sudah di tinggalkan oleh suaminya.


"Di makan atuh Shena, jangan di aduk - aduk aja." Ucap bi Neli.


"Eh iya Bu." Jawab Shena sedikit kaget dan langsung mencoba tersenyum.


Randi memperhatikan bahwa mata wanita itu bengkak. Dia tau bahwa wanita itu habis menangis.


"Ini pasti ada hubungannya dengan anak dan suaminya?" bathin Randi.


Randi tidak terlalu tau masalah wanita itu secara detail tapi dia paham dengan perasaan wanita itu. Tapi dia masih enggan untuk bertanya lebih detail lagi.


"Nanti aku suruh anak buahku untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini?" bathinnya lagi.


Setelah selesai makan, Randi kembali ke ruang kerjanya. Dia nampak sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.


Sedangkan bi Neli lansung ke tempat tinggalnya yang ada di bagian belakang rumah mewah tersebut setelah membereskan meja makan.


Sedangkan Shena masuk kamarnya yang ada di lantai 1. Dia masih menempati salah satu kamar tamu.


Shena tentu saja tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan gugatan yang akan di berikan mantan suaminya. Apalagi sang suami melarangnya untuk bertemu dengan anak-anak.


"Mama kangen dengan kamu nak, tapi bahkan mama nggak punya foto - foto kalian." Ucapnya dengan sedih.


Randi yang baru saja keluar dari ruang kerja pukul 10 malam. Ketika melewati kamar yang di huni Shena, dia mendengar suara tangis.


Randi tau bahwa wanita itu sedang menangis. Tapi dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Mengingat Randi yang tidak pernah membujuk wanita manapun. Di dalam hidup Randi, hanya dia yang di bujuk para wanita.


Randi tidak ingin di anggap ikut campur. Randi akhirnya berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Saat menutup pintu kulkas, ia agak sedikit kaget ketika melihat Shena berdiri di balik pintu kulkas.


Wanita itu berdiri dengan wajah yang kusut. Rambut yang berantakan dan mata yang semakin membengkak.


"Kamu mengagetkan saja berdiri di sana." Ucap Randi lansung duduk di meja makan yang ada di area dapur.


"Maaf tuan." Ucap Shena lansung merapikan rambutnya ketika sadar melihat tuannya kaget melihatnya.


"Kamu mau minum?" Tanya Randi.


"Iya tuan." Jawab Shena lansung mengambil gelas lalu menuangkan air yang ada di botol ke dalam gelas tersebut.


"Duduklah di sini." Ucap Randi.


Shena duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari Randi. Dia menyadari bahwa lelaki yang duduk di dekatnya adalah lelaki tampan. Bahkan ia mengakui bahwa lelaki ini jauh lebih tampan dari mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu kemana tadi pagi?" Tanya Randi membuat Shena agak kaget karena  dia pergi hanya izin bi Neli.


"Maaf tuan, maafkan saya karena tidak izin dengan tuan, saya hanya izin dengan bi Meli, saya begitu karena ada perlu." Jawab Shena ketakutan.


"Shena saya tidak marah jika kamu sudah izin dengan bi Neli, tapi saya hanya ingin tau kemana karyawan aku."


"Saya hanya kembali ke rumah lama saya tuan, saya ingin bertemu anak saya, tapi sayang pintu gerbang tidak di bukakan, anak saya tidak keluar dari rumah satupun karena ayahnya tidak ingin aku bertemu dengan mereka." Shena bercerita dengan wajah yang sendu.


"Kenapa dia melarang kamu bertemu dengan anak anak kamu? "


"Saya tidak tau juga alasan detailnya, saya yakin ini karena kekesalannya karena aku tidak mau di madu."


"Kenapa kamu tidak mau? Padahal kamu masih bisa tinggal enak di sana." Randi memancing wanita itu.


"Prinsip saya nggak bisa tuan, apalagi dia wanita yang di nikahinya adalah Adik saya sendiri." Ucap Shena tapi Randi tidak kaget sama sekali.


"Suaminya dan keluarganya pada gila, setau ku tidak boleh seorang menikahi dua perempuan adik beradik." bathin Randi.


"Apa ada yang saya bantu?" Tanya Randi kepada wanita yang duduk tidak jauh darinya.


Dia melihat jika wanita yang duduk itu sangat cantik. Randi menyadari bahwa kecantikan wanita itu sangat alami. Dan dia tau itu sejak lama.


Dia yang memandang wanita itu larut dalam kemanisan wanita itu. Hatinya merasa tenang dan adem ketika memandangnya.


"Tidak usah tuan, saya takut merepotkan, saya akan lawan dia di pengadilan apapun caranya."


"Lalu apakah kamu punya pengacara?"


Shena baru sadar bahwa dia tidak mempunyai pengacara. Dia tau apa yang akan terjadi jika tidak ada pengacara yang mendampinginya.


"Saya tidak punya pengacara tuan, apakah tuan mau bayar gaji saya di awal, saya akan mencari pengacara untuk kasus saya, saya tidak apa bercerai akan tetapi saya hanya mau anak - anak." Ucap Shena menjelaskan maksud hatinya.


"Baik, saya akan menyuruh pengacara saya untuk menangani kasus kamu." Ucap Randi.


"Yang benar tuan?" Tanya Shena kaget.


"Ya kamu tidak perlu membayarnya karena semua gratis." Ucap Randi sambil tersenyum.


"Terima kasih tuan atas pertolongannya, saya yakin tuan adalah orang yang di utus oleh Allah untuk membantu saya."


"May be, udah kamu harus istirahat sana, ini perintah." Ucap Randi berdiri dari teman duduknya.


Randi berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Namun sebelum sampai di lantai dua, dia berhenti dan melihat Shena sekilas lalu tersenyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2