
Romi sudah mendengar kabar bahwa Shena telah melahirkan. Walaupun sudah beberapa bulan dia mencoba merelakan namun ia masih tidak bisa untuk melupakan Shena.
Apalagi di matanya saat ini Shena semakin menawan. Shena tidak seperti dulu lagi. Saat ini Romi sering melihatnya dengan pakaian yang modis dan trendy.
"Bagaimanapun aku harus mendapatkan kamu lagi Shena." ucapnya dengan penuh emosi.
Romi memikirkan cara bagaimana bisa dekat dengan mantan istrinya. Dia tersenyum senang saat melihat Geby.
"Geby, Geby alasan yang tepat untuk mendekati dia lagi, aku akan memanfaatkan Geby agar dia mau kembali lagi." ucapnya dengan senang.
"Geby."
"Ya pa."
"Kamu mau ketemu mama nggak?"
"Mau pa, emang papa nggak sibuk?" tanya sang anak dengan polos.
"Nggak, papa akan selalu ada waktu jika kamu mau ketemu mama kapanpun."
"Benaran pa."
Romi menganggukkan kepalanya membuat Geby sangat kegirangan.
"Kalau kamu mau, kamu juga bisa membawa mama kembali pulang ke rumah ini."
"Caranya pa?" tanya Geby bingung.
Romi membisikkan sesuatu ke telinga anaknya. Geby hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah matang dengan perencanaannya, akhirnya Romi membawa Geby untuk bertemu sang ibu.
Mereka telah sampai di depan rumah Randi. Mereka sudah beberapa kali berkunjung ke rumah ini karena kondisi Shena yang hamil besar membuatnya tidak bisa bertemu di luar rumah.
"Mas Romi."
Romi menoleh kebelakang ketika ada yang memanggilnya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Romi tidak senang bertemu dengan wanita itu.
"Ngapain dia di sini? Bisa ganggu rencana gua nih kalau ada dia di sini, apa mereka sudah berbaikan?" bathinnya.
"Mas ngapain di sini? Mana Zio mas?"
"Bukan urusan kamu,.harusnya saya yang bertanya ngapain kamu ke sini? Apa kamu udah nggak punya muka lagi untuk bertemu dengan Shena."
"Bukankah pertanyaan itu cocok untuk kamu mas? Kamu juga salah." ucap Mia tidak terima di salahkan begitu saja.
"Sudahlah,aku tidak mau lagi berurusan dengan kamu, pergilah menjauh."
"Mas tolong pertemukan aku dengan Zio." Mia memohon kepada Romi.
"Jangan harap, pergi sana." Romi mendorong tubuh Mia dengan keras sehingga membuat Mia terjatuh ke jalan.
Malang sekejap mata, tiba - tiba sebuah mobil melintas dengan kencang pas ketika tubuh Mia terjatuh.
Romi kaget saat melihat yang terjadi di depan matanya. Melihat Mia bercucur darah membuatnya lansung panik.
__ADS_1
"Ayo kita pergi Geby."
"Tapi pa, Tante Mia."
Geby ditarik oleh Romi dengan cepat. Namun kejadian itu ada warga yang melihatnya. Romi di kejar oleh warga sekitar.
Shena yang baru saja menyusui anaknya, tiba- tiba kaget saat para pembantunya menghampirinya dengan panik.
"Ada apa Bi?"
"Itu di depan ada yang kecelakaan, sepertinya meninggalkan di tempat Nyonya."
Shena berjalan mengikuti hatinya. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman saat ini. Hatinya merasa ada yang mengganjal.
"Kamu mau kemana Shena?" tanya Randi panik saat melihat istrinya keluar dari kamar.
"Aku mau melihat keluar mas, katanya ada yang kecelakaan."
"Sudah ada yang urus, kamu di dalam aja."
Shena merasa aneh saat Randi melarangnya untuk tidak keluar dari rumah.
"Aku akan tetap keluar mas."
"Shena jangan langgar apa yang di larang oleh suamimu." Randi nampak marah saat Shena tidak patuh terhadap perintahnya.
"Ada apa sih mas?" Shena penasaran. Dia merasa ada yang di sembunyikan oleh Randi.
"Beri tau aja ran, Shena berhak tau."
"Geby kamu kesini sama siapa?"
"Papa di pukul orang ma, tolong papa." adu Geby kepada mamanya.
"Papa Kenapa?"
Geby hanya menggelengkan kepalanya.
"Tadi papa dorong Tante Mia, lalu Tante Mia di tabrak mobil ma, aku takut karena darah Tante Mia banyak sekali." adu Geby nampak ketakutan.
Shena lansung memeluk sang anak. Dia tau anaknya sedang syok. Tatapan matanya tertuju kepada sang suami.
"Maaf, aku hanya tidak mau kamu syok." ucap Randi akhirnya meminta maaf.
Entah apa yang di rasakan oleh Shena saat ini. Yang jelas kakinya lemas. Tubuhnya rasa melayang.
Shena berlari menuju keluar rumah. Walaupun adiknya pernah salah namun dia tidak ingin adiknya pergi dengan cara seperti ini.
"Shena mau kemana? Jenasah sudah di bawa kerumah duka dan Romi telah di tangkap polisi."
"Antar aku mas."
Randi hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak mungkin melarang istrinya untuk berkabung.
Mereka menempuh perjalanan tidak terlalu lama. Mereka telah sampai di rumah duka.
"Shena." panggil ibunya ketika melihat anak pertamanya datang.
__ADS_1
"Yang sabar ya ma." ucap Shena menghibur mamanya.
"Shena maafkan adik kamu, dia benar-benar tulus meminta maaf kepada kamu, tadi dia sengaja kerumah kamu lagi untuk meminta maaf lagi." ibunya mencoba menjelaskan kepada Shena.
"Sudah Bu, aku sudah memaafkan."
Walau bagaimanapun Shena tidak tega melihat ibunya menangis seperti ini.
"Aku harus melupakan semua masa lalu, aku yakin mereka telah berubah, aku akan memberikan kesempatan kedua kepada keluargaku.' ucapnya dalam hati.
...****************...
Satu bulan kemudian.
"Shaka cucu nenek." panggil ibu Shena ketika melihat cucunya di gendong Shena.
"Iya nek." Shena menirukan suara anak bayi.
Yah semenjak kejadian itu ibunya Shena memang tinggal dengannya. Begitu juga Geby dan Zio.
"Ini ganteng dan cantik mau kemana?" tanya ibunya kepada Shena melihat cucuku sudah pada rapi.
"Ini mas Randi mau menghadiri pernikahan temannya Bu."
'Ohw, pantas semua pada cakep-cakep."
Randi hanya tersenyum melihat kebahagiaan istri dan semua keluarganya.
"Ayo jagoan, Dady gendong."
Randi mengendong Zio dengan kasih sayang. Sedangkan Aiman di bimbing oleh Geby.
Mereka telah sampai di pesta pernikahan. Tampak keduanya kerepotan karena ke empat anak mereka.
"Akhirnya kamu menikah juga." ucap Randi kepada Cindi.
"Tentunya, jadi mau kamu aku nggak laku - laki gitu." ucap Cindi dengan bercanda.
Shena tersenyum melihat keakraban keduanya. Cindi memang sudah pernah membawa sang pacar saat menjenguknya di rumah sakit.
"Dunia sempit sekali, bisa - bisanya jodohnya Cindi adalah lelaki itu." bathin Shena.
Lelaki itu adalah Raka yang menolong Shena saat itu.
"Semoga semua bahagia dengan pilihan masing-masing, semoga tidak ada lagi luka, terima kasih ya Allah atas luka ini, akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan ini setelah luka itu pulih." bathinnya lagi.
"Mikirin apaan sih?" bisik Randi melihat istrinya melamun.
Shena hanya menggelengkan kepalanya dan lansung tersenyum.
"Terima kasih atas pelangi yang kamu ukir di sini." ucap Shena kepada sang suami.
Randi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Shena. Dia tau begitu banyak luka yang ia ciptakan untuk wanita ini.
"Aku akan berusaha menghadirkan pelangi, aku akan berusaha membahagiakan kamu dengan seluruh nafasku." bathin Randi.
Tamat
__ADS_1