Di Sebalik Duka

Di Sebalik Duka
Bab 24


__ADS_3

Setelah beberapa hari menunggui Cindi akhirnya Randi memutuskan untuk bicara dengan Cindi. Dia tidak bisa diam lagi.


Randi memaksa masuk ke dalam ruangan Cindi. Cindi nampak kaget saat Randi memaksakan masuk.


"Mari kita bicara."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."


"Kita harus bicara, kita harus selesaikan masalah kita."


"Masalah kita sudah selesai saat kamu menikah dengan wanita itu."


Randi sedikit kesal jawaban yang diberikan oleh Cindy. Dia merasa wanita itu mengabaikannya.


"Aku mempunyai alasan untuk menikahinya."


"Apapun alasan kamu, kamu tetap suami sah wanita itu."


"Apa mau kamu Cindi? Bukannya kamu ingin kita menikah?"


Cindi menatap lelaki itu dengan tajam. Dia tidak menyangka lelaki yang dia harapkan seperti ini.


"Ya kamu benar, tapi hanya aku yang ingin menikah dengan kamu, dan kamu tidak." jawabnya dengan senyum mengejek.


"Aku juga ingin menikah dengan kamu."


"Jangan bicara lagi, jika kamu ingin menikah dengan aku maka sejak lama kamu menikahi aku, tapi apa yang terjadi?" Cindi berhenti sejenak untuk mengambil nafas.


"Kamu terus mengulur waktu, dan sekarang kamu malah menikahi wanita lain, dan aku nggak yakin kalau kamu belum pernah tidur dengan wanita itu, benarkan kalau kamu udah tidur dengan wanita itu?" tanya Cindi membuat Randi terdiam.


"Cindi kenapa harus bicara kemana - mana, kita..."

__ADS_1


"Jawab saja pertanyaan aku, kamu udah tidur sama dia kan?"


Randi menganggukkan kepalanya dengan lemah. Dia tidak bisa berbohong kepada wanita itu.


"Hahahhaha, lucunya dunia ini." Cindi tertawa terbahak-bahak.


Randi tau bahwa di balik tawa itu mengandung tangis.


"Cindi jangan seperti ini."


"Kamu udah tidur sama dia, lalu kamu masih bilang ingin menikah dengan aku, hebat kamu, kamu pikir dengan harta yang kamu punya lalu aku akan tertarik lagi dengan kamu." ucap Cindi kecewa.


Cindi memang sudah memikirkan semua setelah ia sadar. Dia tidak ingin lagi berharap kepada manusi.


Dulu ia terlalu berharap kepada Randi agar hidupnya bahagia. Namun menyadari semua terjadi dia yakin dengan keputusannya.


"Aku rasa lebih baik kamu pulang urus istri kamu di rumah, walau bagaimanapun dia tetap istri sah kamu, pulanglah dan kedepannya mari kita untuk saling tidak mengenal."


"Lalu bagaimana dengan istri kamu? Apakah kamu siap menceraikannya sekarang?"


Randi terdiam mendengar pertanyaan Cindi. Dia di lema saat ini.


"Aku akan ceraikan dia, tapi kasih aku waktu."


"Baik, aku kasih kamu waktu sebulan, jika sebulan lebih kamu tidak bisa bercerai maka kamu sudah jatuh hati kepadanya."


"Tidak mungkin, aku menikahi dia hanya karena dendam."


"Kita lihat aja nanti."


Di tempat lain, Shena nampak agak murung. Dia sudah beberapa hari tidak bisa bertemu dengan Randi karena lelaki itu belum pulang kerumahnya.

__ADS_1


Perasaan Shena saat ini bercampur aduk. Dia sudah pernah hancur satu kali. Dan ia mencoba untuk bertahan kali ini dengan rumah tangganya.


"Liat deh Tan, ada yang murung karena mau di cerai." ucap Naila tertawa ketika melihat Shena duduk termenung di meja makan.


"Iya habis Randi sangat mencintai Cindi, kamu liat sendiri kan bagaimana Randi menunggui Cindi di rumah sakit." ucap mama Randi juga duduk di meja makan.


Naila menuangkan segelas air putih untuk mama Randi.


"Aku juga dengar tadi Tante bahwa Randi akan menikahi wanita itu, segitu cintanya Randi sama dia Tan, aku jadi iri." ucap Naila sengaja memanaskan suasana.


"Wajar anak Tante bucin sama dia, karena dia memang cantik, tapi sayang aja keluarga dia nggak bagus bibir bobotnya, nggak kaya kamu."


"Iya dong tan, tapi daripada sama wanita janda lebih baik Cindi kemana - mana Tante, Tante restuin aja."


"Iya, kali ini Tante akan Restui karena bagaimanapun dia cinta matinya Randi."


Shena hanya diam mendengarkan cengkraman mereka. Dia tidak sekali pun membalas ucapan mereka.


Bagaimana dengan suasana hatinya?. Tentu saja dia bunda gulana. Dia tidak siap untuk di cerai kedua kalinya.


"Bagaimanapun aku akan tetap mencoba mempertahankan rumah tangga aku, kecuali dia tetap menikahi wanita itu." bathinnya.


Shena berjalan meninggalkan meja makan. Walaupun begitu dia tetap pamit kepada ibu mertuanya.


"Liat nte nggak tahan dia dengar omongan kita, ketakutan dia tuh."


"Jelaslah, karena mendapatkan Randi itu bagaikan jackpot bagi dia." ucap mama Randi sengaja mengucapkan dengan agak keras agar di dengar oleh Shena.


Namun dia kesal karena Shena nampak biasa saja tanpa merespon apapun.


"Tante tenang aja, dalam hati dia saat ini gundah gulana saat ini, dia hanya berpura-pura tenang." ucap Naila tersenyum membayangkan galaunya Shena saat ini.

__ADS_1


"Setelah mas Randi bercerai dengan wanita itu, lalu aku akan masuk , aku tidak akan membiarkan wanita kampungan satu lagi memiliki mas Randi, aku akan menyingkirkan wanita itu sebelum pernikahan mereka." bathin Naila tersenyum senang.


__ADS_2