
Shena membuka matanya dengan perlahan. Dia mendengar seseorang sedang mengaji tidak jauh darinya. Dia melihat seseorang lelaki yang tidak di kenalnya. Lalu matanya tertuju kepada Aiman anaknya yang sedang tertidur pulas di sebuah ranjang yang kosong.
Shena tau dirinya berada di mana. Apalagi melihat kain sekat yang membatasi antara ruangannya dengan yang lain.
"Apa lelaki ini yang menolong aku?" Tanyanya dalam hati.
Lelaki itu menyudahi bacaan Alqurannya setelah melihat Shena telah sadar.
"Kamu pingsan makanya berada di sini." Ucap lelaki itu sebelum wanita itu bertanya.
"Tapi bagaimana....."
"Saat kamu pingsan aku menemukan kamu di pinggir jalan, aku yang baru pulang segera membawa kamu ke sini." Jawab lelaki itu tau apa yang akan di tanyakan oleh wanita itu.
"Makasih."
"Sama - sama, sepertinya kamu bisa menghubungi suami kamu, biar dia tau kamu di sini."
Shena tidak menjawab ucapan lelaki itu.
"Suami mana yang akan aku hubungi? Lagian mana peduli dia dengan semua ini."
Lelaki itu melihat wanita itu tampak sedikit melamun.
"Bisa minta tolong lagi? Aku mau pulang, tolong bicarakan dengan dokternya." Ucap Shena.
"Saya akan coba."
Lelaki itu berjalan keluar dari ruangan Shena.Tidak lama kemudian dia masuk kembali bersama dengan dokter dan perawat.
"Bagaimana ibu keadaannya? " Tanya sang dokter.
"Baik dok."
"Lain kali ibu di jaga pola makannya, karena saat ini ibu hamil, jadi jangan sampai tidak makan sama sekali dan jangan terlalu capek bu."
Shena agak keget ketika mendengar bahwa dirinya hamil.
"Ya Allah cobaan apa ini? Baru saja ingin bercerai tapi malah hamil." Bathinnya.
"Bapak juga berperan penting, di jaga istrinya pak." Ucap Dokter kepada lelaki tadi.
"Baik dok." Jawab lelaki itu tampak gugup.
Melihat lelaki itu gugup membuat Shena sedikit tersenyum. Baginya hal ini sangat lucu apalah melihat ekspresi lelaki yang tidak di kenalnya itu.
__ADS_1
Setelah dokter dan perawat pergi, mereka saling bertatapan.
"Kenapa senyum - senyum begitu?"
"Nggak biasa saja, terima kasih buat semuanya." Jawab Shena menormalkan dirinya sendiri.
Ditempat lain Randi nampak terkejut mendengar laporan 'anak buahnya. Dia bergegas meninggalkan rumahnya menuju tempat yang ia tuju.
"Kenapa aku begitu peduli terhadap dia?" bathin Randi tidak bisa berbohong. Dia lansung panik ketika mendengar Shena masuk ke rumah sakit. Apalagi ketika anak buahnya bilang bahwa ada lelaki yang membawa wanita itu.
"Dia wanitaku, tidak ada yang bisa menyentuhnya." ucap Randi dengan kesal.
Setelah sampai di rumah sakit, Randi semakin kesal melihat Shena tersenyum kepada lelaki itu. Entah kenapa hatinya tidak terima dengan apa yang ia liat.
"Apa yang aku punya tidak satu orangpun bisa memilikinya." bathinnya.
Randi masuk kedalam ruangan Shena. Nampak Shena dan lelaki itu kaget ketika melihat kedatangan Randi.
"Kamu sudah boleh pulang dan terima kasih telah membantu istri saya." ucap Randi dengan ketus kepada lelaki itu.
"Baik, di jaga istrinya mas agar tidak terjadi hal seperti ini, saya menemukan dia di pinggir jalan, apalagi dia dalam keadaan hamil."
Randi kaget mendengar apa yang di ucapkan lelaki itu. Ada rasa hangat di hatinya ketika mendengar bahwa wanita itu sedang hamil anaknya.
"Terima kasih atas infonya, kamu boleh pergi."
"Kamu benaran hamil anak aku?"
Shena hanya mengangguk tanpa berbicara apa-apa.
"Baiklah, aku mengerti, malam ini kamu akan pulang bersama dengan aku."
"Tidak, aku tetap akan pulang ketempat aku."
"Jangan ngeyel, semua demi anak kita."
"Tapi tetap saja kita mau bercerai."
"Tolong jangan bahas itu dulu, aku tidak mungkin meninggalkan kamu yang sedang hamil, aku mau di samping kamu sampai anak itu lahir, jangan membantah karena aku tidak suka di bantah."
"Aku tidak mau pulang."
"Kenapa?"
Shena bingung memberikan alasan kepada Randi. Dia tidak nyaman untuk tinggal bersama dengan mertuanya saat ini.
__ADS_1
"Kamu takut dengan mama? Kalau begitu aku akan membawa kamu kerumah aku yang satu lagi."
"Tapi....."
"Tidak ada tapi - tapian."
Shena terdiam dan tidak tau berkata apalagi. Tapi untuk tinggal satu ata dengan mertuanya saat ini ia belum sanggup.
Setelah semua selesai bagian administrasi, barulah Shena bisa pulang ke rumah. Dia telah sampai di rumahnya dan sudah bisa beristirahat.
"eh lupa, siapa ya nama lelaki tadi?" Tanyanya yang lupa menanyakan nama lelaki itu.
Beberapa hari kemudian, Shena telah mulai stabil seperti biasa. Ia bahkan sudah memulai bisnis kecil-kecilan. Dia menjual kue dan membuat katering. Shean,juga memposting jualannya ke mendia sosial.
Shena sangat bersyukur karena hari pertama jualan sudah pada membeli. Apalagi mereka bilang banyak yang suka dengan masakannya.
"Masakannya enak, aku kalau ada hajatan nanti pesan di sini aja." review pelanggan.
Shena tersenyum membawa review dari pelanggan. Dia bahagia sekali hari ini.
Cindi sudah mengetahui bahwa Shena istri Randi sendang hamil. Dia sudah mendengar kabar tersebut saat Randi menelpon asistennya saat menjenguknya.
Setelah keluar dari rumah sakit, Cindi bertekad untuk meninggalkan Randi. Dia sudah mengambil keputusan untuk hidupnya kedepannya.
Cindi juga mulai menata hidup barunya. Dia memutuskan mengontak bersama dengan adiknya.
"Cin aku meminta waktu untuk pernikahan kita, kasih aku waktu sembilan bulan untuk mewujudkan pernikahan kita." ucap Randi saat pertemuan mereka.
"Aku rasa ini waktu yang tepat untuk kita putus."
"Apa maksud kamu? Aku tidak ingin kita putus."
"Jadi lelaki jangan egois, saat ini istri kamu sedang hamil, dia butuh kamu."
"Tapi aku bisa menceraikan dia ketika anak aku lahir."
"Dia bukan produksi anak, dia juga wanita sama seperti aku, setelah aku sakit kemarin,aku sadar bahwa aku salah, aku ingin memperbaiki hidup aku, tolong mengerti aku, aku hanya ingin hidup tenang tanpa kamu."
"Dan tidak menutup kemungkinan rasa cinta juga tumbuh di hati kamu setelah beberapa bulan bersama, lalu apa gunanya aku menunggu, maka dari itu aku mau kita berakhir sampai di sini, aku sudah tidak mengharapkan kamu lagi, dulu aku ingin menikah dengan kamu karena ingin merubah status sosialku, tapi Allah berkehendak lain." ucap Cindi lagi.
Randi memikirkan ucapan Cindi. Melepaskan wanita itu sungguh berat dalam hidupnya. Namun semua ini adalah salahnya sendiri sehingga dia menyakiti wanita itu.
"Katakan padaku apa yang aku lakukan untuk menebus semua ini?" tanya Randi.
"Cukup kamu jauhi aku, dan berbahagialah bersama istri kamu."
__ADS_1
"Bagaimana aku belikan kamu rumah sebagai permintaan maaf aku, dan kamu kerja di kantor aku agar kamu bisa melanjutkan hidup kamu."
Cindi menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin bergantung kepada lelaki itu lagi agar dia bisa lepas dari batang - bayang lelaki itu.