Di Sebalik Duka

Di Sebalik Duka
Bab 25


__ADS_3

Randi akhirnya pulang ke rumah. Setelah memikirkan dengan matang maka ia telah mengambil keputusan. Melepaskan Shena adalah keputusan yang tepat baginya. Karena menikahi Shena hanyalah ajang balas dendam,bukan mencintainya.


Walaupun belum menyiksa wanita itu, namun dia tidak ingin menyakiti hati Cindi. Sejak dulu hanya Cindi yang setia kepadanya. Cindi yang mampu bertahan dengannya.


Randi melihat Shena sedang berbaring di atas ranjang. Wanita itu nampak belum tidur. Randi hanya berlalu ke kamar mandi tanpa menegur wanita itu.


Shena yang melihat Randi pulang, hanya diam. Hatinya menciut ketika lelaki itu tidak menyapanya.


"Apa yang aku lakukan? Apakah pernikahan ini akan gagal untuk kedua kalinya?" bathinnya.


Tidak lama kemudian Randi keluar dari kamar mandi. Shena bergegas bangkit dari tidurnya.


"Mas mau makan? Biar aku panaskan lauknya."


"Nggak usah repot-repot, aku sudah makan di luar." jawab Randi lalu meninggalkan kamar tersebut.


Shena hanya diam melongo melihat Randi keluar dari kamar. Diam - diam dia mengikuti sang suami di belakang.


Dia melihat sang suami bertemu dengan mama mertuanya di depan kamar. Shena hanya mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.


"Jadi apa keputusan kamu? Kamu tidak mungkin biarkan Cindi terlalu lama terluka seperti ini."


"Aku akan menceraikan Shena ma, aku dah janji dengan Cindi, Dan Cindi memberikan aku waktu dalam sebulan untuk menceraikan dia."


Shena hanya diam mendengar pembicaraan mereka. Hatinya lansung porak-poranda untuk sekian kalinya.


"Ini memang balas dendam terdahsyat dan kamu berhasil mas." bathinnya.


"Saran mama secepatnya aja, kamu tidak boleh membiarkan Cindi terluka terlalu lama, jika tidak kamu akan kehilangan Cindi selamanya."


Randi mencerna apa ucapan mamanya.


"Yah mama benar, aku akan menceraikan dia secepatnya."


"Trus apakah dia akan dapat harta gono-gini?"


"Tentu saja tidak ma, kenapa mama harus bertanya seperti itu."


"Baguslah, lebih cepat kamu bertindak maka akan lebih bagus." ucap mamanya sambil tersenyum.


Sedangkan Shena kembali berjalan menuju ranjangnya. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk mendengarkan kelanjutan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Baiklah, jika ini memang jalan hidupku, aku yang akan pergi sendiri." ucapnya menghapus air matanya yang meleleh di pipinya.


Shena berjalan masuk ke kamar mandi. Dia tidak ingin di liat oleh Randi sedang menangis. Dia akan mencoba untuk tidak akan memperlihatkan air matanya kepada lelaki itu.


Ketika Randi masuk ke kamar, dia tidak menemukan Shena di kamar. Randi tidak begitu peduli di mana keberadaan Shena. Randi membaringkan tubuhnya.


Dia merasa lelah beberapa hari ini menunggui Cindi di rumah sakit. Dia melihat Shena keluar dari kamar mandi.


"Kenapa dia seperti menangis?" bathinnya karena Randi melihat mata Shena yang memerah.


Namun karena lelah dia tidak ingin membahas apapun dengan wanita itu. Dia lebih memilih memejamkan matanya.


Shena tidur di sebelah Randi. Namun matanya tidak bisa terpejam saat ini. Dia sedang menatap wajah tampan Randi sambil memikirkan sesuatu.


"Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu, semoga setelah ini tidak ada dendam lagi di antara kita, selamat tinggal dan berbahagia lah selalu." ucapnya dengan nada pelan.


Setelah merasa Randi tertidur pulas, akhirnya dia bangkit dari ranjangnya. Dia mengganti bajunya dan mengemasi beberapa baju miliknya.


"Aku tidak akan membawa yang bukan milik aku, kamu tidak usah kuatir." ucapnya mengambil beberapa baju yang memang di belinya dari gajinya sebagai pembantu di rumah ini.


Lalu Shena bergegas berjalan menuju kamar Aiman. Dia juga hanya membawa barang Aiman yang cuma di belikan olehnya atau papanya Romi.


Jam di dinding menunjukkan angka sebelas malam. Rumah tampak lengang. Shena berjalan lewat pintu belakang karena mustahil dia bisa kabur lewat pintu depan.


Dia melihat ada Bi Neli yang berdiri tidak jauh darinya.


"Aku harus pergi bi, makasih atas bantuannya selama ini Bi."


"Tapi nona bagaimana dengan tuan Randi?"


"Dia mau menceraikan aku bi, jadi biar aku pergi terlebih dahulu, aku hanya ingin pergi sebelum dia mengusir aku bi, tolong pahami aku bi."


"Nona, tuan akan marah jika nona pergi diam-diam seperti ini,. Lebih baik tunggu tuan Randi nona, nona bisa di tuduh melarikan apa - apa jika pergi seperti ini."


"Aku tidak membawa apa - apa bi, bibi periksa aja sendiri."


Shena membuka tasnya memperlihatkan apa yang di bawanya. Namun bi Neli tetap mencoba menahannya Karena rasa kuatirnya.


"Non beso aja ya."


"Maaf bi, tolong jangan halangi saya, saya akan tetap akan pergi."

__ADS_1


"Nona... Nona."


"Biarkan saja dia pergi bi, dia memang pada akhirnya juga akan pergi."


Shena dan bi Neli menatap sosok lelaki yang tidak lain adalah Randi. Shena mencoba untuk tersenyum senang.


"Iya terima kasih tuan, saya tidak akan melupakan kebaikan tuan di masa lalu, terima kasih telah membiarkan saya pergi." ucap wanita itu dengan senyum di buat - buat.


Randi semakin kesal karena bukannya memohon tapi wanita itu malah tersenyum meninggalkannya.


"Ada apa dengan wanita ini? Apa segitu bahagianya lepas dari aku?" bathin Randi.


"Bi tolong cek semua tasnya, Mana tau dia bawa barang - barang di rumah ini."


Shena semakin sakit hati atas tuduhan lelaki itu.


"Saya udah periksa tuan, tidak ada selain beberapa lembar baju." jawab Bi Neli.


"Tuan tenag aja, saya hanya membawa baju saya dan baju Aiman yang saya beli, yang tuan belikan saya tinggalkan, karena saya tau itu bukan milik kami, dan uang belanja yang tuan berikan juga tidak saya bawa, ada di lemari tuan, di sana ada catatan belanjanya." jawab Shena tersenyum lagi.


"Saya hanya bahwa uang hasil gaji saya selama bekerja dengan tuan, Alhamdulillah saya bisa berhemat, dan selain itu juga ada uang Aiman pemberian papanya, hanya itu yang saya bawa." ucap Shena lagi.


Mendengar wanita itu menyebut papanya Aiman membuat Randi semakin panas.


"Baguslah, jika perlu kamu bisa memeras Romi dengan alasan Aiman."


Bukanya marah tapi Shena malah tersenyum.


"Terima kasih idenya tuan, nanti akan saya coba untuk bertahan hidup."


"Dasar wanita matre." Randi mencela Shena.


Hati Shena begitu sakit mendengar hinaan lelaki itu. Namun dia tidak memperlihatkan kesedihannya.


"Iya tuan dan terima kasih dengan dendam tuan karena telah menunjukkan kepada saya siapa suami saya terdahulu, semoga dendam tuan telah berakhir untuk saya." ucap Shena.


"Saya tetap akan membuat hidup kalian menderita, jadi jangan terlalu senang dahulu."


"Baik tuan, jika itu memang jalan hidup saya dari Allah saya akan terima, tapi saya yakin Allah membalas setiap kezaliman yang tuan lakukan kepada saya, sekali lagi tuan jangan lupa bahwa ada Allah penolong umatnya yang terzolimi."


Randi terdiam mendengar jawaban wanita itu. Baginya ucapan wanita itu sama halnya seperti sumpah untuk dirinya.

__ADS_1


"permisi tuan, izinkan saya pergi sebelum malam terlalu gelap, nanti saya akan kirimkan alamat saya untuk tuan mengirimkan berkas perceraian."


Shena membalikkan badannya. Air matanya jatuh ketika ia sudah membalikkan badannya. Dia sudah tidak tahan seolah - olah baik - baik saja.


__ADS_2