
Pernikahan Randi dan Shena sudah berjalan hampir seminggu. Selama itu pula lelaki itu mendiamkan Shena. Lelaki itu hanya berbicara di era anaknya Aiman.
Bahkan sampai saat ini lelaki itu masih tidur terpisah dengannya. Shena bingung dengan apa yang terjadi. Dia tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran lelaki itu.
"Jika tuan Randi tidak menginginkan aku, kenapa dia mau menikahi aku? Apa alasannya menikahi aku?" Shena selalu bertanya-tanya dalam hatinya.
Randi nampak meninggalkan kantor. Entahlah apa yang membuat Randi ingin cepat - cepat pulang. Dia merasa sangat lapar karena belum makan siang. Randi sengaja tidak makan siang agar bisa memakan masakan Shena dengan banyak.
Entah mengapa ia sangat menyukai masakan Shena padahal ia tidak menyukai wanita itu. Biasanya Randi sangat pemilih dalam makanan apalagi yang bersangkutan dengan sayur-sayuran. Namun semenjak memakan masakan Shena, dia merasa ingin melahapnya lagi.
Shena baru saja selesai memaksakan sebuah hidangan untuk kucing peliharaannya bos. Dia membuatkan bola - bola Salmon. Dia masih ingin membuat agar-agar untuk kucing kesayangan tuannya itu.
"Memang kucing makan agar - agar ya?" Tanya Bi Neli yang memang kurang paham.
Selama ini bi Neli hanya memberi makan kucing tuannya dengan ikan dan makanan khusus untuk kucing pada umumnya.
"Pasti mau bi, bibi liat kan si Chou makin gemoi sekarang." Ucap Shena sambil tersenyum menjelaskan.
"Bagi resep dong"
"baik, dengar ya Bi,pertama rebus ikan dan sayuran dalam panci dengan air secukupnya 10 menit. Pastikan teksturnya lunak.." ucap Shena merebus ikan dan beberapa sayuran yang telah disebutkan.
"Setelah matang, tiriskan dan biarkan dalam suhu ruangan,keluarkan tulang dan hancurkan hingga menjadi tekstur yang lebih mudah dicerna."
"Oke." Jawab bi Neli.
"Campurkan dengan sayuran yang sudah direbus dan dihaluskan, panaskan panci dengan rebusan agar-agar." Shena memberi Jedah.
"Tambahkan bahan yang telah dihaluskan ke dalam rebusan agar-agar,biarkan mengeras dan diamkan beberapa menit, lalu potong beberapa bagian untuk hidangan makan kucing."
Bi Neli baru tau bahwa kucing juga memakan agar - agar. Setelah selesai, Shena masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya. begitu juga dengan bi Neli yang juga kembali ke rumah tempat tinggalnya di bagian belakang.
Randi sampai setelah satu jam kemudian. Dia lansung menuju dapur karena mencium aroma sedap dari meja makan.
Randi tersenyum senang karena Shena sudah menyediakan makanan untuk dirinya. Dia membawa bola - bola ikan salmon dan agar - agar yang menggiurkan.
Randi melahap bola - bola ikan salmon dengan lahap. Bagi Randi apapun yang dimasak oleh Shena tetap terenak.
Randi merasa aneh ketika memakan agar-agar. Dia merasa aneh dengan agar - agar yang biasa ia makan.
"Kok agar - agar rasanya nggak manis, ini kayak rasa ikan dan sayur-sayuran, tapi jujur ini enak." Ucap Randi lalu memasukkan kembali agar - agar itu kedalam mulutnya.
"Ternyata dia kreatif juga, dia tau aku nggak suka sayur, maka dia membuat seperti ini agar aku bisa makan." Bathin Randi tersenyum senang.
__ADS_1
Saat tinggal beberapa potong, Randi melihat Chou mendekatinya. Chou bermanja-manja dengan tuannya. Randi begitu senang melihat tubuh Chou semakin gemuk.
"Kamu nampak gemuk sekarang ya." Ucap Randi membelai kucing kesayangannya. Chou menatap Randi yang memakan agar-agar.
"kamu mau?" Randi membagi agar - agar untuk kucingnya. Dia merasa heran melihat kucingnya memakan agar-agar.
"Kamu jadi rakus sekarang ya, mana ada kucing makan agar-agar seperti ini." Ucap Randi tersenyum.
Shena tiba - tiba sudah berada di meja makan. Dia senang melihat tuannya sedang memberikan makanan kepada kucing itu.
"Dia suka mas? Aku memang sengaja membuatkan dia agar - agar supaya dia nggak bosan." Ucap Shena.
Wajah muka Randi nampak memerah ketika mendengar ucapan Shena.
"Ini agar - agar untuk kucing?"
"Iya mas, tadi aku juga buat bola - bola Salmon untuk Chou juga." Jawab Shena.
"Bola - bola Salmon?" Tanya Randi semakin panik. Makanan kucing telah masuk ke perutnya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia yang memakan makanan kucing tersebut.
"Sialan mana udah aku makan lagi."bathin Randi rasanya ingin memuntahkan makanannya.
"Mas kenapa? Kok wajahnya berubah merah seperti itu?" Tanya Shena bingung melihat perubahan wajah tuannya.
"Mas sakit?" Tanya Shena lagi karena Randi tidak menjawabnya.
Tap
Tap
Tap
Randi melangkahkan kakinya melewati anak tangga. Tiba-tiba dia merasa perutnya terasa mual.
Hoek
Hoek
Shena merasa kasihan dengan tuannya yang nampak tidak sehat.
"Sepertinya ia memang kurang sehat sampai mau muntah seperti itu, aku harus buatkan makanan enak agar mas Randi cepat sehat." Ucapnya bersemangat memasak makan malam.
Ketika pukul 8 malam, Randi turun kelantai satu. Setelah penuh perjuangan memuntahkan makanan yang ia makan tadi sore, ia memang tidak keluar kamar.
__ADS_1
Randi melihat Shena sedang menyusun menu makan malam di atas meja. Nampak wanita itu menghidangkan makanannya dengan telaten.
"Ini makan malam untuk saya?" Tanya Randi memastikan.
"Iya mas, nggak mungkin punya tetangga." Jawab Kemuning.
"Bagaimana dengan makan si Chou?" Tanya Randi memastikan lagi.
"Chou sepertinya sangat kelaparan hari ini tuan, padahal tadi ia sudah menghabiskan bola - bola Salmon lalu memakan agar-agar ikan dan sayur, tapi masih aja dia kelaparan."
Randi hanya diam tanpa berkata apapun.
"Nah heran kan mas dia masih kelaparan sehingga saya buatkan makanan baru untuknya tadi." Cerita Shena.
"Kamu harus perhatikan makanan untuk si Chuo, aku nggak mau dia sakit perut." Jawab Randi mengingatkan Shena.
"Iya mas, aku memastikan bahwa makanan Chou adalah yang fresh dan sehat serta aman di lambung si gemoi."
"Gemoi?"
"Iya maaf tuan saya lebih memanggil kucing tuan si gemoi karena dia memang gemoi dan menggemaskan." Jawab Shena.
"Oke baiklah, aku makan yang mana ini?" Tanya Randi memastikan makanannya lagi.
"Tentu saja semua yang di meja ini makanan tuan, nggak mungkin punya si gemoi." Jawab Shena heran dengan pertanyaan suaminya..
"Baik, saya hanya memastikan, takutnya kamu salah resep saat memasak, kan bahaya jika aku memakan makanan kucing." Jawab Randi.
"Baik mas.
Berbeda di tempat lain, Romi nampak baru saja pulang dengan wajah sumringah. Mia merasa jengah saat melihat senyuman suaminya.
Saat di meja makan Romi hanya fokus ke ponsel. Dia bahkan tidak bercengkrama dengan yang lainnya. Anaknya Geby dan Zio memperhatikan sikap papanya. Bagi mereka papanya sedang sibuk akhir - akhir ini sehingga mereka sudah jarang bermain bersama papa mereka.
Romi meletakkan ponselnya karena ia melihat semua nampak sedang makan. Ia melihat bahwa piringnya dalam keadaan kosong.
Romi menghela nafasnya saat menemukan piringnya dalam keadaan kosong. Dia merasakan perbedaan Shena dengan Mia. Jika bersaman Shena, maka wanita itu penuh senyum menuangkan nasi ke piringnya.
"Kamu banyak belajar dari Shena dalam mengurus suami." Ucap Romi membuat semua mata memandangnya.
"Kenapa melihat saya dengan tatapan horor begitu, benarkan yang saya bilang, saya ingin kamu perhatian sama saya, kamu harus menuangkan nasi ke piring saja sebelum saya makan."
"Ah tinggal ambil sendiri aja, kan bisa mas, lagian aku buru - buru karena mau mengurus anak-anak." Jawab Mia tidak terima di bandingkan dengan Shena.
__ADS_1
Romi semakin kecewa dengan jawaban yang di berikan oleh istrinya saat ini.
Di sini dia menyadari bahwa pentingnya peran Shena dalam kehidupan rumah tangganya. Dia menyadari bahwa wanita itu sempurna dalam mendampinginya.