Di Sebalik Duka

Di Sebalik Duka
Bab 12


__ADS_3

Shena POV


Apa dia bilang? Aku ingin menggodanya? Aku ingin mencuri barang-barangnya?. Lihatlah masa lelaki yang berpendidikan bicara seperti itu.


Aku sangat sakit hati mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh tuan Randi kepadaku. Aku tidak terima dengan apa yang dia tuduhkan kepadaku.


Aku hanya masuk ke kamar tuan Randi karena hanya bermaksud membantu Bi Neli. Bi Leli tiba - tiba pusing saat menyetrika baju. Aku hanya melanjutkan setrikaan lalu mengantarkan baju itu kedalam lemarinya.


Tapi dia tiba-tiba datang tanpa bertanya dan lansung menuduh.


Aku lansung berjalan menuju dapur. Saat ini hatiku memang sakit, tapi sebagai pekerja tentu saja aku tidak bisa menangis ke dalam kamar. Aku tetap melanjutkan pekerjaan yang masih tukang kaleng dapur.


"Dasar tuan kejam, lidah racun, bisa - bisanya bicara seperti itu." Ucapku dengan kesal.


Aku benar - benar kesal  dengan tuan Randi. Jika bukan majikanku maka akan aku jadikan rempeyek dia.


Aku melanjutkan membuat kue untuk cemilan tuan Randi disore hari. Barangkali dia butuh penyumbat mulutnya agar tidak berbicara sembarangan lagi.


Jika aku lagi kesal, aku tidak bisa berdiam diri. Sejak dulu ketika kesel maka aku harus mencari kegiatan untuk menghilangkan sakit hatiku.


Sore ini aku membuat  cireng isi  ayam kare dan pancake coklat saus durian. Walaupun aku kesal tetap saja aku mau membuatkan ganjalan untuk tuan Randi. Kurang baik apa aku coba.


Jelas sekali karena dia tuan rumah dan aku di gaji. Jika bukan butuh pekerjaan dan meminta bantuannya, tentu saja aku pergi dari rumah ini.


"Ini aku buatkan pengganjal isi perutmu tuan lidah beracun,apa perlu aku juga kasih ini makanan racun tikus biar tuan rasakan sakit hatiku." Ucapku dengan kesal.


Ketika membalikkan badan, aku langsung kaget melihat tuan Randi berdiri di dekat kulkas.


Aku lansung membalikkan badan pura - pura sibuk membuat cireng. Aku tidak tau sejak kapan tuan Randi berada di sana.


"Buatkan aku Juzz alpukat." Ucapnya tuan Randi memerintah dari tempatnya berdiri.


"Baik tuan, tunggu sebentar tuan."


Aku berjalan mendekat ke arah tuan Randi. Dia menatap aku dengan tajam ketika aku berjalan mendekati kulkas.


Apa - apaan dia, aku kan mau membuka kulkas tapi dia masih berdiri di samping kulkas. Dasar tuan jahanam, menyiksa betul.


"Permisi tuan." Ucapku dengan sesopan mungkin.


Tuan Randi bergeser hanya beberapa langkah saja. Aku membuka pintu kulkas untuk mencari buah alpukat di kotak paling bawah.


Aku merasa grogi ketika tuan Randi memperhatikan aku. Ini bukan grogi jatuh cinta. Jangan harap aku jatuh cinta kepada lelaki ini.

__ADS_1


"Tuan mungkin tunggu di meja saja."


"Aku mau di sini aja, mana tau kamu mau memberikan aku racun tikus."


Jantungku semakin tidak aman mendengar ucapan tuan Randi. Jika begini aku mana bisa fokus kerja.


Setelah selesai aku membawakan segelas jus alpukat ke meja makan. Tuan Randi juga berjalan ke meja makan.


Setelah meletakkan jus alpukat, aku kembali ke dapur untuk mengambil Pancake buatanku dan beberapa cireng yang masih panas.


"Ini ada cemilan panas tuan."


"Aku mau kamu yang makan dulu, karena mana tau itu ada racun tikusnya." Ucapnya membuatku menelan salivaku.


"Tidak mungkin aku meracuni tuan, aku ini orang yang taat hukum tuan."


"Jika begitu silahkan cicipi sama kamu duluan."


"Tapi nggak sopan tuan."


"Kenapa? Kamu takut memakannya?" Tanya Tuan Randi menatapku dengan tajam.


Aku mengambil kue itu dan lansung memakannya dengan kesal. Aku memakan beberapa potong asal agar tua Randi itu yakin.


***************************************************


Randi POV


"Apakah saya mati tuan?" Tanyanya nampak dengan nada kesal.


Kenapa dia kesal melihat aku, padahal dia yang berniat meracuni aku. Dia sendiri yang berkata mau memberikan aku racun tikus.


Ini bukan fitnah atau salah paham. Aku sendiri yang mendengarkan ucapannya dengan jelas. Bahkan dia menyumpahiku dengan sumpah serapanya.


Aku memang kesal kepadanya karena aku sudah melarang yang untuk tidak masuk ke kamarku. Tapi kenapa dia masih berani masuk ke kamarku.


Setelah aku croscek dengan bi Neli ternyata dia membantu beliau menarok bajuku ke lemari. Wanita itu menggantikan bi Leli yang sakit.


Aku turun setelah hampir satu jam di kamar. Aku berniat ingin meminta maaf.


Namun yang aku temui saat itu adalah dia sedang memakiku. Dia nampak sangat kesal ketika memakiku. Aku tersenyum sendiri mendengarnya yang memakiku. Dan lucunya semakin dia kesal, aku melihatnya semakin rajin beberes.


Hal ini sangat lucu bagiku. Entah kenapa aku tidak merasa marah saat dia memakiku. Apalagi saat dia memutar badan lalu syok melihat ku berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


Dan saat menyuruhnya memakan makanannya tampak ia semakin kesal. Dia memakan makanan disajikan dengan lahap.


Ketika aku memulai menikmati pancake coklat saus durian, lidahku merasakan nikmat. Baru kali ini aku memakan pancake yang rasanya enak sekali.


"Kenapa ini enak? Apakah memang ada racunnya" tanya ku.


"Lidah tuan yang beracun." Jawabnya kesal.


Bukan membuatku kesal tapi malah membuatku tersenyum mendengar jawabannya. Aku tidak tau bagaimana Romi bisa  hidup penuh hiburan selama ini. Karena lelaki itu pasti setiap hari menonton hal yang lucu dari wanita ini. Akan tetapi lelaki itu malah mengkhianati wanita itu.


OPS jangan berpikir aku naksir dia. Dulu memang iya, tapi tidak sekarang. Cintaku hanya ada pada Cindi.


"Kamu duduk dulu, ada yang mau aku tanyakan."


"Apa tuan?"


"Kenapa kamu bercerai dengan Romi?"tanyaku pura - pura bertanya.


Pertanyaanku nampaknya membuatnya kaget karena aku menyebut nama Romi.


"Tuan mengenalnya?"


" Tentu saja, dia salah satu karyawan di kantorku."


"Lalu Kenapa Tuan tidak bertanya kepadanya saja, saya tidak punya kewajiban untuk menjelaskan masalah pribadi saya kepada tuan."


"Saya sudah bertanya kepada Romi, tapi saya mau tau yang sebenarnya versi kamu." Aku terus berpura - pura.


Lama - lama aku kesal juga mendengar jawaban wanita itu yang sok  bijaksana.


"Lalu kenapa tuan sangat yakin bahwa ada dua versi tentang jawabannya?"


Kan kalian liat betapa ngeyelnya wanita itu. Tapi entah kenapa hal ini membuat aku semakin menarik mempermainkannya.


Aku menceritakan apa yang Romi ceritakan kepadaku. Tidak ada mengurangi dan melebih - lebihkan. Aku melihat wajahnya sangat syok saat mendengar ceritaku.


"Jadi mas Romi bilang seperti itu?"


Aku menganggukkan kepalaku. Lalu dia tersenyum.


"Ya sudah, tuan yakini saja bahwa itu adalah cerita yang benar, bisa jadi aku memang suka memanipulasi cerita, atau memang mungkin aku wanita yang suka hura - hura." Jawabnya sambil tersenyum.


"Kenapa kamu tidak mau menceritakan versi kamu?"

__ADS_1


"Karena tuan adalah orang yang berpendidikan, tuan ini memiliki jabatan yang tinggi, Saya yakin bahwa tuan lebih pandai dengan menganalisa dengan benar."


__ADS_2