
Shena membuka matanya secara perlahan. Dia melihat masih ada Randi yang tertidur di ranjang yang sama dengannya. Shena mencoba mengingat kembali kejadian tadi siang. Suaminya begitu bergairah saat bersamanya. Bahkan sang suami sampai melakukan berkali-kali.
Shena teringat bahwa anaknya sedang di bawa oleh Romi jalan - jalan. Dan Romi juga meminta izin agar Aiman menginap sehari di rumahnya.
Shena menyentuh wajah Randi yang gagah. Jarinya menelisik ke hidung Randi yang mancung.
"Gagah." Ucapnya sambil tersenyum.
Randi membuka matanya ketika merasa ada yang menyentuh wajahnya.
Ketika melihat Randi membuka matanya, Shena langsung memejamkan matanya. Jantungnya berdebar kencang takut ketahuan oleh lelaki itu.
"Nggak usah pura - pura tidur." Ucap lelaki itu dengan suara berat.
Shena yang ketauan pura - pura tidur akhirnya membuka matanya dengan malu - malu. Dia tidak tau harus bersikap seperti apa.
Sedangkan Randi tidak menyesali apa yang terjadi. Dia sangat menikmati apa yang di berikan oleh Shena walaupun dia masih belum mencintai wanita itu.
"Kamu sangat enak." Bisik Randi di telinga Shena.
Shena lansung memerah ketika mendengar bisikan Randi. Randi tersenyum senang melihat wanita itu masih malu-malu seperti wanita perawan pada umumnya.
"Hmmmm padahal sudah pernah menikah sebelumnya tapi tingkahnya seperti baru menikah aja." Bathin Randi.
Shena akhirnya mencoba untuk bangkit karena ini sudah malam. Mereka sudah melakukan berkali-kali dari siang sampai magrib. Bahkan setelah magrib mereka masih mengulang kembali.
"Mau kemana?" Tanya Randi yang merasa belum puas ketika Shenq beranjak dari tempat tidurnya.
"Mau siapkan makanan untuk bapak."
"Jika di ranjang panggil mas sayang." Ucap Randi dengan lembut.
Shena bingung dengan sikap Randi yang berubah - ubah. Dia tersentak dari lamunannya karena Randi menariknya kembali ke pelukannya.
"Kamu sangat enak, aku pengen lagi jadi nggak usah masak, nanti biar bi Neli yang siapin atau kita pesan." Ucap lelaki itu dengan lembut.
Shena hanya patuh kepada sang suami. Dia berharap ini waktu yang tepat untuk mengabdikan dirinya sebagai seorang istri.
Shena hanya pasra ketika Randi mencumbunya. Dia akui bahwa Randi begitu lihai dalam membangkitkan gairahnya. Dan Shena juga mengakui bahwa stamina lelaki ini seperti tidak ada habisnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Romi sang mantan suaminya dulu. Romi hanya melakukan sekali dan tidak pernah berulang -ulang. Dan lelaki itu juga bermain tidak lebih dari 30 menit. Bahkan lelaki itu sudah selesai ketika Shena belum mendapatkan kepuasan tersendiri.
"Astaga, kenapa aku membanding - bandingkan mereka." bathinnya.
Dua jam kemudian.
"Sebentar lagi makanannya sampai, ayo siap - siap turun." Ucap Randi kepada Shena
Saat Randi keluar dari kamar , dia melihat ponsel Randi berdering. Dia melihat ada nama Cindi di sana.
Kemuning melihat ponselnya itu berhenti memekikkan telinga. Namun tidak lama kemudian, Shena melihat ada pesan masuk.
Shena mencoba melihat dari notifikasi. Namun hal itu membuatnya teringat kepada malam itu. Shena akhirnya meletakkan ponselnya kembali. Namun belum sempat dia meletakkan ponsel tersebut, Randi sudah masuk kembali.
Randi kaget saat melihat Shena sedang memegang ponselnya. Entah kenapa dia merasa tidak senang saat melihat orang lain memegang ponselnya.
"apa yang kamu lakukan?" Randi lansung merebut ponselnya dari tangan Shena.
"Nggak tadi ada telpon, niatnya mau kasih ke kamu." Ucap Shena mencoba berbohong.
Randi melihat siapa yang menghubunginya. Dia juga membaca pesan yang di kirim oleh wanita itu.
"apa hubungannya kamu dengan dia mas?" Tanya Shena akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu tidak perlu tau, jangan mentang-mentang aku udah tidur seranjang dengan kamu terus kamu bertingkah ingin tau tentang hidup aku." Ucap Randi akhirnya pergi meninggalkan sang istri.
Shena merasa agak kecewa dengan jawaban yang di berikan oleh sang suami. Tidak terasa air matanya menetes.
"Jadi aku ini istri macam apa mas?" bathinnya.
Mereka makan malam dengan hening ketika jam menunjukkan pukul 10 malam. Hanya bunyi dentingan sendok yang terdengar.
Setelah makan malam Randi lansung bangkit dari tempat duduknya. Dia lansung berjalan masuk ke kamarnya. Shena lansung membereskan sisa makan malam.
Namun langkah Shena terhenti saat menuju kamar. Dia melihat Randi sedang duduk bersama dengan Naila di ruang tengah. Mereka duduk cukup dekat.
Naila yang melihat Shena lansung mendekati Randi lebih dekat lagi. Bahkan wanita itu mencoba untuk mengelus paha Randi.
Randi yang sedang kesal dengan Shena membiarkan Naila berbuat sesuka hatinya. Dia tidak melarang sedikitpun. Malahan mendekati wanita itu lebih rapat lagi.
__ADS_1
"Rasain loe, kamu pikir kamu akan gampang mendapatkan Randi, dia milik aku." bathin Naila.
"Mas temani aku nonton ya, aku lagi nggak bisa tidur." ucap Naila dengan manja yang di buat - buat.
"Iya mas akan temani kamu."
Naila semakin jadi karena Randi bersedia menemaninya. Dia menyandarkan kepalanya ke pundak Randi.
"Apa - apaan nih wanita? kok murahan begini." bathin Randi.
Shena yang melihat semua adegan itu hanya pergi meninggalkan ruang tengah. Hatinya sangat sakit melihat semua itu.
Melihat Shena sudah tidak berada di ruang tengah, Randi akhirnya melepaskan diri dari Naila.
"Kenapa mas? Kok di lepas?"
"Aku baru teringat ada kerjaan." ucap Randi berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
Naila kesal melihat Randi masuk ke ruang kerja. Sejak tadi siang dia begitu kesal karena di abaikan oleh lelaki itu. Apalagi ia mengetahui bahwa lelaki itu tidak keluar dari kamarnya bersama Shena.
"Aku akan cari cara agar kamu bisa masuk keperangkap aku mas, kita liat aja nanti kamu akan jadi milikku." gumam Naila tersenyum.
Randi nampak sibuk dengan pekerjaannya di depan laptop. Sedangkan Shena tidak bisa tidur karena memikirkan suaminya sedang bersana Naila di ruang tengah.
Naila masuk mengetuk pintu ruang kerja Randi. Dia membuka pintu setelah di perbolehkan masuk. Naila membawakan secangkir kopi.
"Minum kopi mas biar nggak ngantuk." ucap Naila sambil tersenyum.
"Taro aja Nai, makasih ya." ucap Randi tanpa melihat Naila.
Naila kesal lagi karena Randi tidak menoleh sedikitpun kepadanya. Setelah beberapa lama mencoba akhirnya dia lelah dan mengantuk. Naila memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Aku tidak akan menyerah, besok aku akan mencobanya lagi." ucapnya dalam hati dengan semangat.
Setelah tengah malam akhirnya Randi kembali ke kamarnya. Dia melihat Shena sudah kembali tidur.
Randi menatap wajah wanita itu dengan penuh kebencian. Dia masih teringat apa yang di lakukan wanita itu di masa lalu.
"Tunggu waktu yang tepat, maka kamu akan tau rasanya apa yang aku rasakan." ucapnya pelan.
__ADS_1