
Randi duduk terdiam ketika menikmati sarapan pagi. Dia melihat begitu banyak sarapan di hidangkan di atas meja. Namun tidak ada satupun yang sesuai dengan seleranya.
Mama Randy dan Naila begitu senang karena kepergian Shena dari rumah itu. Mereka tidak bisa menyembunyikan wajah sumringah mereka pagi ini.
Randi tetap aja merasa ada yang kurang walaupun suasana nampak menyenangkan. Tidak ada Aiman membuat suasana rumah terasa sepi bagi Randi.
Mama Randi memperhatikan anaknya hanya mengaduk makanannya. Tampak anaknya tidak bernafsu sama sekali selama beberapa hari ini.
"Randi, kok nggak di makan makanannya?" tanya Mama Randi dengan lembut.
"Udah kenyang ma." ucap Randi berdiri meninggalkan meja makan.
"Tapi kamu belum makan ndi." teriak mamanya.
Randi tidak menghiraukan teriakan sang mama. Hal itu membuat Naila semakin kesal melihat sikap Randi yang semena-mena.
"Tante aja nggak di dengarin." bathin Naila.
Sedangkan Randi lansung menuju kantor. Di dalam perjalanan dia mencoba menghubungi anak buahnya.
"Jadi dia sudah meninggalkan hotel?" tanya Randi.
"Baik, kamu terus awasi dia."
"Kamu share lokasinya ke saya secepatnya, nanti kalau ada waktu saya akan ke sana untuk melihat - lihat."
Randi nampak memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Dia nampak berpikir sejenak.
"Untung tadi malam aku sempat membututi dia." gumamnya dengan pelan.
Sedangkan Shena nampak sedang merapikan barang-barangnya. Dia telah mendapatkan kontrakan hari ini. Dia tidak bisa berlama-lama untuk tinggal di hotel.
"Ayo Aiman kita siap - siap, siang ini kita ketemu papa dan kakak." ucap Shena kepada anaknya karena hari ini adalah jadwal mereka bertemu.
Setiap bulan di Minggu pertama mereka akan berjumpa di tempat yang sudah di tentukan.
Romi nampak tersenyum ketika melihat kedatangan Shena dan Aiman. Seperti biasanya mereka makan siang dulu sebelum pergi bermain.
__ADS_1
"Akhirnya anak papa datang juga." Romi bangkit dari duduknya untuk menggendong Aiman.
Untuk pertemuan kali ini Shena merasa ada yang mengganjal. Biasanya Mia akan ikut bersama mereka namun kali ini tidak ada nampak batang hidungnya.
"Mia mana mas?" tanya Shena duduk di sebelah Gebi.
"Aku dan Mia dalam proses perceraian."
Jawaban Romi membuat Shena agak kaget. Dia tidak habis pikir akan secepat itu berakhir pernikahan mereka. Namun dia tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka.
Romi nampak mendudukkan Aiman di sebelahnya. Dia menatap Shena yang sedang menghindari pembicaraan mereka.
"Bagaimana jika kita kembali lagi bersama? aku rasa ini terbaik untuk kita dan anak - anak."
Shena kaget mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Romi mantan suaminya. Walaupun ia masih menjanda namun ia tidak akan mau mengulang hal yang sama. Dia bisa berdamai dengan Romi karena anak-anak mereka. namun tidak untuk kembali lagi.
"Dia tidak bisa...." Shena menoleh kearah suara di belakangnya.
Randi berjalan dengan tergesa-gesa. Dari wajahnya nampak sangat kesal sekali. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa Shena bertemu mantan suaminya. Randi langsung bergegas menuju tempat yang di sebutkan. Maka di sinilah dia berada dengan kesal.
"Kamu tidak bisa kembali kepada Shena karena dia istri aku sekarang." ucap Randi dengan lantang.
"Benaran Shena?" tanya Romi agak kage, apalagi Shena menganggukkan kepalanya.
Setelah bercerai beberapa bulan dia tidak begitu mengetahui tentang pernikahan mereka.
"Padahal aku bertemu setiap bulan dengan Shena, tapi kenapa dia tidak pernah cerita." bathin Romi.
"Maka untuk itu jangan harap kamu bisa kembali bersama dia." ucap Randi dengan tegas.
"Dan kamu untuk bulan depan harus mengajak aku untuk bertemu dengan dia, aku nggak mau kamu bertemu mantan tanpa aku." ucap Randi kepada Shena.
"Kamu aja ketemu mantan nggak lapor aku, lagian kita juga proses perceraian." ucap Shena kesal sendiri dalam hatinya.
Pertemuan kali ini tampak menjengkelkan bagi Romi. Padahal dia berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan mantan istrinya. Namun yang ada wanita itu sudah menjadi milik lelaki lain. Dan lelaki ini bukanlah saingan yang tepat untuk dirinya.
Gebi nampak senang saat bermain Karena melihat Aiman begitu senang bersama lelaki yang di panggilnya Daddy.
__ADS_1
"Aiman nampak begitu senang bersama Dady nya daripada sama papa." ucap Gebi pelan.
Romi mendengar ucapan anaknya itu. Dia semakin kesal melihat kedekatan Aiman dengan lelaki itu.
"Sepertinya om itu memang orang baik, buktinya dia memperlakukan mama dengan baik." ucapnya memandang Randi dengan rasa kagum.
Setelah puas bermain akhirnya Randi menarik Shena menuju mobilnya. Dia juga nampak menggendong Aiman di sisi kirinya.
"Mau kemana?"
"Ikut saja."
Ketika mereka masuk kedalam mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Shena tau kemana arah mobil ini.
"Ngapain kamu bawa aku pulang lagi?"
"Karena kamu istri aku jadi jangan banyak tanya."
"Tapi kamu sudah punya Cindi."
Randi terdiam ketika mendengar nama Cindi. Dia lupa sesaat dengan wanita itu saat mendengar Shena bertemu mantan suaminya. Dan dia juga lupa dengan janji-janjinya kepada wanita itu.
Hati Shena semakin kecewa karena melihat ekspresi lelaki itu.
"Untuk apa aku berharap dari lelaki seperti dia?". Bathinnya.
"Turunkan aku di sini, biarkan aku pulang dan uruslah perceraian kita dengan cepat, agar kamu semakin cepat untuk menikah dengan wanita itu."
"Stop pak." ucap Randi.
Mobil berhenti di pinggir jalan. Shena lansung turun membawa Aiman.
Mobil melaju kembali dan Shena berjalan dengan hati yang kecewa sekali lagi. Namun dia mencoba berjalan sambil menunggu taksi.
Karena lelah seharian ini dia merasa kepalanya pusing. Pandangannya berkunang-kunang saat berjalan.
Tiba-tiba dia ambruk di pinggir jalan. Semua nampak gelap.
__ADS_1