
Naila tampak kesal karena sampai sekarang dia masih belum bisa mendapatkan Randi. Mama Randi selalu menjanjikan kepadanya bahwa Randi pasti akan jatuh ke tangannya. Namun saat ini dia semakin kesal karena mengetahui bahwa ada wanita lain lagi yang sedang dekat dengan lelaki itu. Dia tau bahwa lelaki itu banyak diinginkan oleh para wanita. Namun masalahnya Randi sendiri punya cinta tersendiri.
"aku menyerah aja Tan, mas Randi mencintai dua wanita sekaligus." Ucap Naila tertawa mengejek.
"Kamu yang sabar dong, dulu tante pernah mengejar cinta papa Randi, tapi Tante sabar, akhirnya apa kamu liat, papa Randi malah menikahi Tante."
"ah tetap saja tante di madu, aku nggak mau di madu seperti tante." Jawab Naila tho the points.
Mama Randi kesal mendengar ucapan Naila. namun dia mencoba untuk bersabar.
"coba aja kamu bukan anak saudara aku, mungkin udah aku cekek kamu." Ucap mama Randi dalam hatinya.
"Jangan - jangan sikap mas Randi turunan dari papanya tan, kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"jangan berbicara sembarangan kamu, tante tidak suka mendengar ucapan kamu."
"Kan aku hanya beropini sesuai fakta yang ada tan, tante nggak bisa marah gitu dong sama aku."
"udah ah, kamu fokus aja bagaimana cara mendapatkan Randi."mama Randi akhirnya berdiri dan meninggalkan Naila di meja makan.
Sedangkan Cindi sedang terdiam duduk menangisi nasibnya. Tubuhnya saat ini gemetar karena baru saja di siksa oleh mama tirinya.
Sejak kecil ia sudah sering merasakan ini. Dia berpikir bahwa hidupnya akan berubah menjadi menyenangkan setelah bekerja. Namun semua masih sama dan semakin parah.
Ayahnya sendiri juga ikut menyiksanya. Bahkan ayahnya sediri sering pulang mabuk dan memukulnya. Cindi berpikir jika ia menikah dengan Randi maka penderitaannya akan segera berakhir. Namun sampai saat ini lelaki itu tidak kunjung menikahinya.
Cindi mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Dia melihat ada ayahnya yang baru saja masuk.
Cindi lansung ketakutan ketika melihat ayahnya masuk ke kamarnya. Lelaki itu tersenyum lansung mendekati wanita itu.
" Serahkan semua uang kamu, aku butuh uang." Ucap lelaki yang berstatus ayahnya namun dia tidak pantaskah di panggil ayah.
"Aku nggak punya uang lagi yah." Ucap Cindi.
"Berani kamu tidak memberikan uang kepada ku?" Lelaki itu lansung mencekik Cindi.
Cindi menangis karena kesakitan. Ini sudah sekian kalinya lelaki itu mengacau hidupnya.
"Kalau kamu tidak mau, maka aku akan bunuh kamu." Ucap lelaki itu mengeluarkan pisau dari sarung yang terletak di pinggangnya.
Melihat pisau itu akhirnya Cindi terdiam. Ia akhirnya menyerahkan uang terakhir yang ia punya.
"Ini ada kan? makanya kamu nikahin itu lelaki itu, biar cepat kaya raya kita, lakukan apapun agar kamu bisa memiliki dia, dasar anak tidak berguna." ucap Ayahnya pergi setelah mengambil uang Cindi.
Cindi merasa lelah dengan hidupnya. Cindi yang menyerah akan hidupnya lansung berpikir pendek.
__ADS_1
"Selamat tinggal dunia yang menyakitkan." Ucapnya lansung memotong pembulu nadinya. Dia merasa inilah hidup pilihan terakhirnya.
Darah mencucur banyak di pergelangan tangannya. Dia tidak tau apa yang terjadi lagi setelah itu.
"Aku tau sampai kapanpun hidup aku tidak akan berubah, aku akan tetap berada di rumah ini bersama mereka, Randi tidak akan pernah menikahi aku." ucapnya memejamkan matanya dan air matanya mengalir.
****
Randi sangat kaget ketika melihat berita di ponselnya. Dia lansung berlari menuju mobilnya. Melihat Randi yang terburu-buru membuat Shena penasaran.
"Kamana dia?" Tanya Shena.
Namun dia nggak sempat bertanya kepada lelaki itu. Dia juga tidak bisa mengikuti lelaki itu karena Aiman sedang mengantuk.
Randi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya hanya tertuju dengan kondisi Cindi saat ini.
Randi berlari ke ruangan tempat Cindi di rawat. Seseorang telah menelponnya untuk memberi tau kondisi Cindi.
"apa yang terjadi Raf?" Tanya Randi kepada remaja yang masih duduk di kelas 7 SMP.
"Kakak melakukan percobaan bunuh diri."
Randi merasa terpukul mendengar ucapan dari adiknya Cindi. Lelaki ini adalah saudara seayah dengan Cindi namun berbeda ibu.
"Apa yang terjadi?"
"apa terjadi sesuatu sebelumnya?"
"Aku melihat dia di siram sama ibu, kakak menangis, mungkin Kakak lelah di siksa terus."
Randi tidak percaya bahwa wanita sebesar Cindi masih mengalami siksaan seperti itu.
Tidak lama seorang dokter keluar dari ruang Cindi.
"siapa keluarga pasien?"
"Saya dok ." Jawab Rafi.
"Kami keluarganya dok." jawab Randi.
"mari ikut saya sebentar."
Randi mengikuti sang dokter sampai ke ruangannya. Dia tau bahwa ada yang serius terjadi dengan Cindi. Makanya dia di panggil oleh dokter secara lansung.
"Kenapa dok?."
__ADS_1
Melihat tatapan mata Randi yang seriu akhirnya dokter juga menceritakan semua yang terjadi.
"sebelum melakukan percobaan bunuh diri, saya curiga bahwa ada tekanan di keluarga pasien, saya juga curiga bahwa ada penyiksaan terhadap pasien."
Randi menggempalkan kepala tinjunya di atas udara. Dia tidak percaya bahwa keluarga cindi sendiri yang merusak mental anaknya.
"Tolong lakukan visum dok, saya akan melaporkan ini kepada polisi." Ucap Randi dengan tegas
Dia tidak akan membiarkan Cindi sendirian menghadapi semua ini sendiri. Sedangkan setelah laporan di buat, polisi lansung menangkap pelaku tindak kekerasan.
Ayah Cindi kaget saat ia di tangkap sedang di warung sedang bermain judi.
"Awas kamu Cindi, anak durhaka." bathinnya.
Sedangkan ibu tiri dan saudari tirinya juga di bawa polisi. Mereka kaget saat melaporkan kasus ini adalah Randi.
...****************...
Shena merasa kesal karena Randi sudah tidak pulang selama beberapa hari ini. Lelaki itu hanya mengatakan bahwa ia sedang ada urusan.
Selama dua hari Randi menjaga Cindi di rumah sakit. Setelah dua hari akhir dia terbangun Randi begitu senang karena akhirnya penantiannya telah selesai.
"Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga."
Cindi hanya diam tidak menanggapi ucapan Randi. Bahkan wanita itu tidak menatap Randi sejak tadi.
"hei, kamu dengar aku nggak?" tanya Randi memegang tangan Cindi.
Cindi menarik tangannya dengan perlahan. Untuk saat ini dia merasa sudah kecewa dengan lelaki itu. Dia tidak mau berharap lebih kepada lelaki itu.
"Kamu kenapa begini? Kamu bicara agar aku tau apa yang kamu inginkan." Ucap Randi dengan lembut.
"keluar, aku ingin sendiri." Ucap Cindi akhir berbicara namun tepat tidak menatap Randi.
"kamu kenapa sih?"
"Ahhhh pergi,aku mau kamu pergi." teriak Cindi merasa semakin frustasi.
Perawat dan dokter lansung berlari ketika mendengar teriakan di ruangan perawatan Cindi.
"Ada apa ini?"
"Tolong bawa dia keluar dok, saya hanya ingin sendiri." tunjuk Cindi ke arah Randi.
"Mari keluar pak, ini demi kesembuhan pasien pak."
__ADS_1
Randi akhirnya setuju dengan ucapan dokter yang membawanya keluar. Dia akan membiarkan Cindi beristirahat terlebih dahulu. Randi juga sudah menempatkan beberapa bodyguard untuk menjaga Cindi.